Banyak orang mengira mandi sudah cukup untuk membuat tubuh kembali segar. Namun, bau ketiak bisa tetap muncul karena pemicunya justru datang dari kebiasaan harian yang sering tidak disadari.
Masalah ini bukan sekadar soal kebersihan permukaan kulit. Stres, handuk lembap, cara memakai antiperspiran, makanan pedas, dan rambut ketiak sama-sama bisa membuat bau bertahan lebih lama.
Stres bisa memicu keringat yang lebih mudah berbau
Stres membuat tubuh menghasilkan lebih banyak keringat, terutama dari kelenjar apokrin di area ketiak. Keringat ini juga cenderung lebih berminyak, sehingga lebih mudah dipecah bakteri menjadi asam yang memunculkan bau.
Itulah sebabnya aroma tak sedap bisa tetap terasa meski tubuh baru saja mandi. Dalam kondisi seperti ini, pengelolaan stres ikut berperan menjaga bau badan tetap terkendali.
Handuk lembap dapat memindahkan bau apek ke kulit
Kebiasaan menjemur handuk setelah dipakai sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa langsung terasa. Handuk yang tidak dijemur di tempat dengan sirkulasi udara baik cenderung tetap lembap dan mudah berbau apek.
Saat handuk seperti itu dipakai mengeringkan tubuh, bau apek bisa ikut menempel ke kulit. Akibatnya, ketiak tetap terasa bau walaupun mandi sudah dilakukan dengan benar.
Waktu pakai antiperspiran juga menentukan hasilnya
Banyak orang memakai antiperspiran setelah mandi pagi, padahal cara ini disebut kurang optimal. Antiperspiran bekerja dengan menyumbat kelenjar keringat, sehingga waktu terbaik memakainya adalah malam hari sebelum tidur saat kelenjar lebih kosong.
Jika digunakan pada malam hari, antiperspiran punya peluang bekerja lebih baik untuk menahan keringat keesokan harinya. Sementara itu, deodoran lebih cocok dipakai sesudah mandi karena fungsinya menutupi bau, bukan menghentikan keringat.
Makanan pedas bisa membuat tubuh lebih banyak berkeringat
Hidangan pedas memang digemari banyak orang, tetapi konsumsi yang terlalu sering dapat memicu bau ketiak. Makanan pedas meningkatkan suhu tubuh, lalu tubuh merespons dengan memproduksi keringat lebih banyak untuk mendinginkan diri.
Semakin banyak keringat yang keluar, semakin besar pula peluang bakteri kulit memecahnya menjadi senyawa berbau. Area ketiak menjadi tempat yang paling mudah terdampak karena cenderung lebih lembap.
Rambut ketiak membuat keringat dan kotoran lebih mudah tertahan
Rambut ketiak juga bisa membuat bau lebih sulit hilang. Rambut di area itu menjebak lebih banyak keringat dibanding kulit yang tidak berbulu, sehingga keringat punya lebih banyak waktu untuk bercampur dengan bakteri penyebab bau.
Selain itu, area yang tertutup rambut lebih sulit dibersihkan secara menyeluruh. Jika bakteri dan kotoran tertinggal, aroma tak sedap lebih mudah bertahan meski tubuh sudah mandi.
Kelima hal ini menunjukkan bahwa bau ketiak tidak selalu muncul karena kurang menjaga kebersihan. Dalam banyak kasus, sumbernya justru ada pada stres, kebiasaan merawat handuk, cara memakai antiperspiran, pola makan, dan kondisi rambut ketiak.
