Di era smartphone, laptop, wearable, dan kendaraan listrik, cara mengisi baterai masih jadi sumber salah paham. Banyak kebiasaan lama masih dipertahankan, padahal sebagian besar tidak lagi relevan untuk baterai lithium-ion yang dipakai perangkat modern.
Salah kaprah itu bertahan karena banyak orang masih membawa aturan dari era baterai nickel-cadmium. Ada juga kebiasaan yang terdengar masuk akal, tetapi justru bisa mempercepat aus bila diterapkan ke perangkat sekarang.
Mitos pertama: baterai baru harus diisi penuh sebelum dipakai
Anggapan ini lahir dari masa ketika baterai nickel-cadmium masih umum dipakai. Saat itu, pengguna memang sering disarankan mengisi penuh baterai baru sebelum dipakai pertama kali.
Alasannya terkait efek memori pada baterai Ni-Cd. Jika baterai sering diisi hanya sampai level tertentu, kapasitasnya bisa seolah “mengingat” batas itu dan turun dari waktu ke waktu.
Kondisi itu tidak berlaku sama pada lithium-ion. Karena kimianya berbeda, baterai modern tidak mengalami dampak yang sama dari pengisian parsial, sehingga pengisian penuh sebelum penggunaan awal bukan keharusan.
Mitos kedua: mengisi daya sampai 100% pasti merusak baterai
Kekhawatiran ini juga kerap dikaitkan dengan baterai lama. Pada baterai nickel-cadmium, efek memori bisa muncul jika pengisian penuh dilakukan terlalu sering.
Pada baterai lithium-ion, pengisian sampai 100% tidak otomatis menjadi masalah besar. Yang perlu diwaspadai justru kondisi saat ponsel terus terhubung ke charger setelah penuh.
Dalam kondisi itu, perangkat bisa masuk ke pola trickle charge. Ponsel akan memakai sedikit daya lalu mengisi lagi, dan proses ini menambah panas serta stres pada baterai.
Karena itu, fitur charging limit yang membatasi pengisian hingga sekitar 80% makin banyak dipakai. Di iPhone, optimized charging juga menunda pengisian 20% terakhir hingga mendekati waktu bangun pengguna.
Mitos ketiga: baterai harus benar-benar habis dulu baru diisi ulang
Kebiasaan ini juga berasal dari era Ni-Cd. Dulu, mengosongkan baterai lalu mengisi penuh memang dianggap penting untuk menghindari penurunan kapasitas akibat memory effect.
Untuk lithium-ion, logikanya justru berlawanan. Salah satu tanda utama aus pada baterai adalah berkurangnya jumlah charge cycle, yaitu siklus saat kapasitas baterai digunakan dan diisi kembali.
Setiap pengisian dari 0% ke 100% dihitung sebagai satu siklus. Jika ponsel diisi dari 20% ke 80%, penggunaan siklusnya bisa lebih hemat dan kapasitas baterai berpeluang bertahan lebih lama.
Sebagai gambaran, Galaxy S25 Ultra tercatat memiliki sekitar 2.000 charge cycle menurut European Product Registry for Energy Labeling. Angka itu bukan berarti baterai langsung tak berguna setelah batas tersebut, melainkan kapasitasnya diperkirakan turun ke sekitar 80%.
Mitos keempat: charger resmi selalu wajib dipakai
Banyak petunjuk perangkat memang menyarankan charger resmi. Alasannya sederhana, karena charger itu sudah dirancang sesuai spesifikasi daya yang bisa diterima perangkat.
Jika tegangan terlalu tinggi masuk ke baterai yang tidak mendukungnya, kerusakan internal bisa terjadi. Dari sisi keamanan, charger resmi memang cenderung lebih aman karena cocok dengan perangkat sejak awal.
Meski begitu, charger pihak ketiga tidak selalu dilarang. Pengguna hanya perlu memastikan tegangan yang didukung cocok dan protokol fast charging-nya sesuai dengan perangkat.
Bila spesifikasi tidak cocok, hasilnya bisa lebih lambat karena perangkat dan charger tidak berkomunikasi dengan baik saat transfer daya. Setelah kecocokan itu dipastikan, pengisian bisa tetap aman dan efisien tanpa harus terpaku pada aksesori resmi semata.







