Sebanyak 300 siswa dari tiga sekolah di Yogyakarta mengikuti pelatihan tanggap bencana gempa bumi sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan. Kegiatan ini digelar di tengah perhatian terhadap kawasan DIY yang berada di jalur rawan gempa, terutama wilayah yang dilintasi Sesar Opak.
Pelatihan tersebut melibatkan siswa dari SMA 5 Yogyakarta, SMA 1 Sewon Bantul, dan SMA 1 Patuk Gunungkidul. Agenda ini juga disiapkan untuk menyambut peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta, dengan harapan kesiapsiagaan pelajar bisa meningkat melalui edukasi yang lebih terarah.
Edukasi kebencanaan di sekolah
InJourney Destination Management atau IDM menggandeng Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY melalui Sekber SPAB. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan tidak berjalan sendiri, tetapi melibatkan unsur pemerintah, sekolah, dan pengelola destinasi yang juga punya kepentingan dalam keselamatan wilayah.
Direktur Operasi IDM, Indung Purwita Jati, menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar pelajar memahami langkah dasar saat bencana terjadi. Ia menyebut literasi kebencanaan penting bukan hanya untuk keselamatan pribadi, tetapi juga agar para siswa bisa meneruskan pengetahuan itu ke lingkungan sekitar.
“Dengan literasi dan pemahaman yang dimiliki, para siswa dapat menyebarluaskan edukasi kebencanaan kepada lingkungan sekitarnya,” kata Indung. Pernyataan itu menempatkan pelajar sebagai bagian penting dari upaya penyebaran pengetahuan mitigasi bencana di masyarakat.
Belajar langsung dari simulasi
Materi yang diberikan tidak berhenti pada penjelasan teori. Para peserta menerima pembekalan tentang mitigasi awal, teknik penyelamatan, serta simulasi penanganan darurat gempa bumi agar mereka punya gambaran praktis saat menghadapi situasi sebenarnya.
Siswa dan guru ikut terlibat langsung dalam sesi simulasi tersebut, sehingga prosedur keselamatan bisa dipahami lebih mudah. Pendekatan praktik seperti ini penting karena respons saat gempa membutuhkan ketenangan, ketepatan langkah, dan kebiasaan yang sudah terbentuk sebelumnya.
Koordinator Pelaksana Harian Sekber SPAB DIY, Budi Santoso, menjelaskan bahwa sekolah-sekolah peserta memang berada di wilayah yang memiliki potensi gempa karena dilintasi sesar Opak. Kondisi itu membuat materi pelatihan harus disesuaikan dengan ancaman yang nyata di sekitar mereka.
Sekolah memperkuat budaya aman bencana
Kepala SMA 5 Yogyakarta, Siti Hajarwati, menilai pelatihan ini melengkapi sarana dan prasarana kebencanaan yang sudah tersedia di sekolah. Ia menekankan bahwa pengetahuan kebencanaan perlu diulang secara berkala agar benar-benar membentuk perilaku tanggap saat keadaan darurat.
“Pengetahuan kebencanaan harus terus diulang agar membentuk pemahaman dan perilaku yang tanggap saat terjadi bencana,” ujarnya. Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan sekolah untuk membangun budaya aman bencana yang tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada kesiapan warganya.
Salah satu peserta, Rahmat Sholeh Setiawan dari SMA 1 Patuk, merasakan manfaat langsung dari kegiatan ini. Ia menilai hal pertama yang perlu dilakukan saat gempa adalah tetap tenang karena kepanikan justru dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Target lebih luas di berbagai daerah
Program InJourney Community Care ini menargetkan 1.000 peserta dari 10 sekolah di Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta. Target tersebut diharapkan tercapai sebelum puncak peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta pada Mei 2026.
Bagi penyelenggara, pelatihan semacam ini tidak hanya menyasar sekolah sebagai ruang belajar formal. IDM menempatkan pelajar sebagai agen perubahan yang bisa memperluas literasi kebencanaan di keluarga dan lingkungan sekitar, sehingga respons terhadap ancaman gempa bisa lebih cepat dan lebih terarah.
Indung juga menyampaikan bahwa peningkatan kesiapsiagaan bencana ikut mendukung terciptanya ekosistem pariwisata yang aman dan berkelanjutan. Dengan wilayah DIY yang berada di kawasan rawan gempa, penguatan pengetahuan dasar tentang gempa di sekolah menjadi bagian penting dari upaya membangun kesiapan masyarakat sejak dini.
Source: mediaindonesia.com






