Setiap satelit dirancang untuk orbit yang berbeda, dan pilihan lintasan itu menentukan layanan apa yang paling efektif dijalankan. Karena itu, komunikasi, navigasi, dan observasi Bumi tidak memakai orbit yang sama.
Di Indonesia, BRIN menyoroti 3 orbit satelit yang paling banyak dimanfaatkan, yakni Geostationary Earth Orbit (GEO), Medium Earth Orbit (MEO), dan Low Earth Orbit (LEO). Masing-masing punya keunggulan dan keterbatasan yang memengaruhi hasil misi satelit.
GEO untuk komunikasi yang terus-menerus
Satelit GEO berada pada ketinggian sekitar 36.000 kilometer dari permukaan Bumi. Orbit ini membuat satelit bergerak dengan kecepatan yang hampir sama dengan rotasi Bumi, sehingga dari permukaan Bumi posisinya tampak tetap di atas wilayah tertentu.
Karakter itu membuat GEO cocok untuk komunikasi yang membutuhkan koneksi kontinu. Namun, satelit di orbit ini punya keterbatasan berupa latensi yang lebih tinggi dibanding orbit yang lebih dekat ke Bumi.
Menurut Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Nurul Muhtadin, satelit GEO biasanya dipakai untuk komunikasi karena kecepatannya hampir sama dengan rotasi Bumi.
MEO untuk navigasi dengan cakupan luas
Orbit MEO banyak digunakan untuk sistem navigasi. BRIN menilai orbit ini mampu memberi akurasi posisi yang baik sekaligus cakupan wilayah yang luas.
Itulah sebabnya MEO mendukung layanan penentuan lokasi secara lebih presisi. Dalam pembagian fungsi satelit, orbit ini menempati posisi penting untuk kebutuhan navigasi yang stabil dan luas jangkauannya.
LEO untuk observasi Bumi beresolusi tinggi
LEO berada lebih dekat ke permukaan Bumi dibanding GEO dan MEO. Kedekatan itu membuat satelit bisa menghasilkan citra beresolusi tinggi dengan latensi rendah.
Di sisi lain, satelit LEO bergerak cepat dan hanya berada dalam jangkauan stasiun bumi untuk waktu terbatas. Karena itu, orbit ini membutuhkan sistem pelacakan antena agar komunikasi dengan satelit tetap berjalan baik.
| Jenis Orbit | Fungsi Utama | Keunggulan | Keterbatasan |
|---|---|---|---|
| GEO | Komunikasi | Cakupan wilayah luas, layanan berlangsung kontinu | Latensi lebih tinggi |
| MEO | Navigasi | Akurasi penentuan posisi baik, cakupan luas | Tidak disebutkan secara rinci |
| LEO | Observasi Bumi | Citra beresolusi tinggi, latensi rendah | Jangkauan ke stasiun bumi terbatas, perlu sistem pelacakan antena |
Lintasan ekuatorial dan polar juga menentukan misi
Selain ketinggian orbit, lintasan satelit juga dibedakan menjadi ekuatorial dan polar. Pemilihan lintasan ini disesuaikan dengan tujuan misi satelit yang dijalankan.
Nurul menjelaskan, LAPAN-A2 menggunakan orbit ekuatorial dan dapat melintasi wilayah Indonesia sekitar 14 kali setiap hari. Satelit ini membawa misi pengamatan Bumi sekaligus komunikasi radio amatir.
Sementara itu, LAPAN-A3 memakai orbit polar dan melintasi Indonesia sekitar 6 kali setiap hari. Satelit ini dilengkapi kamera multispektral untuk pengamatan Bumi, termasuk analisis vegetasi.
| Satelit | Jenis Lintasan | Frekuensi Melintasi Indonesia | Misi Utama |
|---|---|---|---|
| LAPAN-A2 | Ekuatorial | Sekitar 14 kali setiap hari | Pengamatan Bumi dan komunikasi radio amatir |
| LAPAN-A3 | Polar | Sekitar 6 kali setiap hari | Pengamatan Bumi dengan kamera multispektral |
BRIN menilai kemampuan membangun satelit secara mandiri sebagai langkah strategis untuk mendukung kebutuhan nasional dan memperkuat kemandirian teknologi antariksa. Indonesia disebut sudah membuktikannya lewat LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3 yang telah mengorbit.
Nurul mengatakan, satelit A1 diluncurkan pada 2007, A2 pada 2015, dan A3 pada 2016, semuanya menggunakan roket India. Pengembangan berlanjut lewat Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) yang dilengkapi kamera multispektral beresolusi tinggi, sensor magnetometer, dan sistem komunikasi data.
BRIN juga mengembangkan Nusantara Equatorial IoT (NEI) untuk mendukung peringatan dini bencana melalui pengumpulan data sensor. Sistem ini ditujukan untuk kebutuhan seperti peringatan tsunami, cuaca, dan gempa, sekaligus mendukung komunikasi kebencanaan serta pemantauan aktivitas maritim dan penerbangan.







