FOMO sering muncul diam-diam saat linimasa dipenuhi unggahan yang terlihat seru, bahagia, dan produktif. Rasa cemas tertinggal itu bisa membuat seseorang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Perasaan tersebut dikenal sebagai fear of missing out, yaitu kecemasan ketika seseorang merasa orang lain menjalani pengalaman yang lebih menarik dan menyenangkan dibanding dirinya. Jika dibiarkan, pola ini bisa menggeser fokus dari hidup yang sedang dijalani ke hal-hal yang tampak di layar.
Kenali pemicu sebelum emosi membesar
Langkah pertama untuk meredam FOMO adalah mengenali pemicunya dengan jujur. Menurut NPR, pemicu itu bisa sangat berbeda pada tiap orang, mulai dari unggahan rumah baru teman sampai postingan parenting orang lain.
Setelah pemicunya jelas, paparan terhadap konten serupa perlu dikurangi. Salah satu cara yang dinilai efektif adalah log out dari media sosial untuk sementara agar pikiran punya ruang bernapas.
Pengurangan ini tidak harus dilakukan drastis. Frekuensi membuka media sosial bisa dikurangi bertahap supaya perubahan terasa lebih mudah dijalani.
Latih pikiran untuk melihat yang sudah dimiliki
Cara berikutnya adalah melatih abundance mindset, yaitu pola pikir yang berangkat dari keyakinan bahwa kebahagiaan dan kesempatan cukup untuk semua orang. Pola ini membantu menggeser perhatian dari rasa kurang menjadi lebih sadar pada hal yang sudah dimiliki.
FOMO sering tumbuh saat seseorang percaya kebahagiaan orang lain otomatis berarti ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Karena itu, latihan sederhana seperti menulis jurnal rasa syukur setiap hari bisa menjadi pengingat yang berguna.
Calm Blog menyebut kebiasaan mencatat hal-hal yang disyukuri dapat memindahkan fokus dari apa yang terlewat ke apa yang sudah hadir dalam hidup. Praktiknya bisa dimulai dengan menulis tiga hal kecil setiap malam sebelum tidur.
Hadir penuh di momen yang sedang berlangsung
Inti dari FOMO justru sering membuat seseorang melewatkan momen nyata di depan mata. NPR menyoroti ironi itu, karena pikiran sibuk membayangkan hal lain yang mungkin hilang di tempat berbeda.
Untuk mengatasinya, mindfulness dan meditasi bisa menjadi latihan yang relevan. Tidak perlu rumit, cukup duduk diam dua hingga lima menit sehari dan fokus pada napas.
Latihan singkat seperti itu membantu pikiran kembali ke momen saat ini. Di tengah kebiasaan mengecek layar tanpa henti, jeda kecil bisa memberi dampak yang terasa pada kondisi mental.
Interaksi nyata dengan orang terdekat juga penting diperbanyak. Obrolan langsung, makan bersama, atau jalan santai bisa membantu seseorang lebih hadir dalam hidupnya sendiri dibanding terus scrolling feed Instagram.
Koneksi di dunia nyata sering memberi rasa hangat yang tidak selalu muncul dari layar. Dari sana, fokus perlahan bergeser dari apa yang terlihat di media sosial ke pengalaman yang benar-benar sedang dijalani.
Source: www.beautynesia.id






