3 Alasan Orang Bertahan dalam Pernikahan Tidak Bahagia, dari Finansial hingga Stigma Janda

Banyak orang bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia bukan karena tidak menyadari masalah, melainkan karena jalan keluar terasa lebih berat daripada tetap tinggal. Tekanan ekonomi, kekhawatiran terhadap anak, dan stigma sosial sering membuat perceraian terlihat seperti risiko besar.

Di sejumlah keluarga, terutama di wilayah pedesaan, perceraian masih dipandang sebagai aib. Pandangan itu membuat sebagian pasangan memilih tetap bersama meski hubungan sudah terasa toksik dan penuh tekanan.

Ketiadaan kemandirian finansial

Ketakutan tidak mampu menanggung hidup setelah berpisah menjadi salah satu alasan paling kuat. Amanda McAlister, kepala bidang hukum di Slater & Gordon, menilai banyak pasangan bertahan meski menderita karena cemas terhadap kesulitan ekonomi.

Ia menyebut situasi itu menyedihkan ketika ratusan pasangan tetap tinggal hanya karena khawatir tidak sanggup secara finansial. Dalam pandangan itu, perceraian memang sebaiknya menjadi langkah terakhir, tetapi juga bisa memberi rasa aman yang nyata bagi pasangan dan anak-anak.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan anak-anak bisa merasa lebih bahagia ketika orang tuanya bahagia. Karena itu, bertahan dalam hubungan penuh tekanan tidak selalu menjadi pilihan paling aman bagi keluarga.

Alasan BertahanDampak yang DikhawatirkanCatatan
FinansialTak mampu menanggung hidup setelah berpisahMenjadi alasan yang paling sering disebut
AnakTak ingin anak terdampak broken homeSering dipilih meski relasi sudah tidak sehat
Stigma sosialTakut dicap negatif setelah berceraiLebih kuat dirasakan pada perempuan

Tak ingin anak menjadi korban

Alasan lain yang kerap muncul adalah keinginan melindungi anak dari broken home. Banyak orang tua percaya anak akan lebih baik jika kedua orang tuanya tetap bersama, tetapi kebersamaan itu tetap harus sehat, bukan sekadar tampak utuh di luar.

Anak memiliki kepekaan tinggi dan bisa merasakan ketegangan di rumah, bahkan tanpa pertengkaran yang terdengar jelas. Pertengkaran terus-menerus dan sikap bermusuhan dapat memicu kecemasan, depresi, serta rendahnya harga diri pada anak.

Hubungan toksik juga bisa memberi contoh yang keliru. Anak dapat tumbuh dengan anggapan bahwa relasi disfungsional adalah hal yang normal, lalu membawa pola itu ke hubungan mereka di masa depan.

Dr. Donna Matthews mengatakan perceraian dalam jangka panjang dapat memberi dampak lebih bahagia pada anak. Menurutnya, ketika orang tua terus bertengkar dan tidak cocok dalam waktu lama, perceraian bisa menjadi kelegaan jika perubahan struktur keluarga ditangani dengan baik.

Stigma sosial yang masih kuat

Tekanan besar lain datang dari masyarakat. Status janda masih sering dipandang negatif, dan penelitian di Indonesia bertajuk A Critical Study of the Discrimination of Widow menunjukkan perempuan janda cenderung menerima stigma lebih besar dibanding duda.

Stigma itu tidak berhenti pada status pernikahan. Perempuan yang bercerai kerap dikaitkan dengan penilaian moral dan seksualitas, dilabeli sebagai ancaman, lalu diawasi secara berlebihan oleh lingkungan sekitar.

Situasi ini membuat perceraian terasa seperti risiko sosial yang besar, bukan sekadar keputusan pribadi. Karena itu, sebagian orang memilih tetap bertahan demi menghindari sorotan, komentar, dan penilaian yang melelahkan.

Pada akhirnya, tidak semua pernikahan layak dipertahankan hanya demi menjaga citra. Keputusan untuk bertahan atau berpisah perlu dibahas dengan tenang, empatik, dan bila perlu dengan bantuan konselor profesional agar pilihan yang diambil benar-benar matang.

Source: www.beautynesia.id

Terkait