Gereja Eurasia Ternyata Bukan Burung Biasa, Ini Fakta yang Sering Terlewat

Burung gereja yang paling sering terlihat di sekitar permukiman ternyata bukan sekadar burung kecil yang lewat begitu saja. Gereja Eurasia atau Eurasian tree sparrow (Passer montanus) menyimpan sejumlah ciri yang membuatnya jauh lebih menarik daripada kesan umumnya.

Spesies ini juga sering tertukar dengan gereja rumah, padahal keduanya tidak sama. Di banyak wilayah Indonesia, burung yang paling umum dijumpai justru gereja Eurasia, bukan gereja rumah.

Penyebaran Luas dan Anak Jenis yang Beragam

Secara alami, gereja Eurasia berasal dari Asia Tenggara dan wilayah Eurasia beriklim sedang. Dari wilayah asalnya, burung ini kemudian diperkenalkan ke banyak daerah lain, termasuk Amerika dan Australia.

Penyebaran yang sangat luas membuatnya dikenal sebagai salah satu burung liar paling umum di dunia. Status itu juga menempatkannya sebagai salah satu jenis burung gereja pendatang yang paling sukses secara global.

Karena sebarannya luas, gereja Eurasia dibagi menjadi sembilan anak jenis. Populasi di Indonesia termasuk Passer montanus malaccensis, yang tersebar dari Myanmar, Vietnam, hingga Indonesia dan dikenal sebagai yang paling kecil secara rata-rata.

Ciri Fisik yang Mudah Terlewat

Gereja Eurasia tergolong kecil, dengan jantan rata-rata memiliki panjang 14,5 sentimeter dan berat 23 gram. Bulunya berwarna cokelat kemerahan, sementara betina dan jantan tampak mirip dan hanya berbeda tipis pada tingkat kecerahan warna.

Burung muda juga tidak terlalu berbeda dari burung dewasa. Warna tubuhnya serupa, tetapi terlihat lebih kusam sehingga identifikasi di lapangan bisa menuntut perhatian lebih.

Jika dilihat sekilas, spesies ini memang mudah disamakan dengan kerabat dekatnya. Namun, gereja Eurasia cenderung lebih kecil dan lebih ramping, dengan bagian atas kepala kemerahan, pipi putih, serta bercak hitam di pipi yang tidak dimiliki gereja rumah.

Adaptasi Makan yang Membantunya Bertahan

Gereja Eurasia adalah granivora, atau pemakan biji-bijian. Burung ini memiliki modifikasi khusus pada langit-langit mulut dan lidah yang membantu mengupas banyak biji untuk dimakan.

Kebiasaan makan itu diduga menjadi salah satu kunci ketahanannya di berbagai habitat. Spesies ini dilaporkan mampu hidup di lingkungan yang sangat ekstrem, termasuk gurun dan pegunungan.

Lebih dari Sekadar Burung di Sekitar Manusia

Keberadaan gereja Eurasia juga kerap dipakai sebagai indikator kesehatan lingkungan, terutama di kawasan urban. Burung ini cenderung tidak terlihat di wilayah perkotaan dengan kualitas udara buruk serta penggunaan herbisida dan insektisida yang berlebihan.

Perannya dalam ekosistem juga tidak kecil. Burung gereja membantu mengontrol populasi serangga, menyebarkan biji-bijian berbagai spesies tumbuhan, dan menjadi sumber makanan penting bagi beragam predator.

Itulah sebabnya gereja Eurasia bukan hanya burung kecil yang akrab di sekitar manusia. Kehadirannya juga memberi petunjuk tentang kondisi lingkungan tempat burung ini hidup.

Source: www.idntimes.com

Terkait