Kementerian Kesehatan menyoroti masih besarnya pekerjaan rumah imunisasi di Indonesia setelah sekitar 2,8 juta anak tercatat belum menerima vaksinasi dasar secara lengkap. Temuan ini kembali menguatkan urgensi perlindungan kesehatan anak, terutama saat pemerintah mendorong percepatan imunisasi yang aman dan mudah diakses.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut imunisasi sebagai investasi kesehatan yang murah namun berdampak besar. Ia menilai tantangan utama saat ini bukan hanya soal layanan, melainkan keraguan masyarakat yang banyak dipicu misinformasi tentang vaksin.
Akses layanan sudah lebih dekat, tetapi keraguan belum hilang
Dante menjelaskan bahwa akses imunisasi kini semakin mudah dijangkau oleh masyarakat. Fasilitas kesehatan tersedia, tenaga kesehatan tersedia, dan layanan melalui puskesmas hingga posyandu juga makin dekat dengan keluarga.
Meski begitu, kemudahan akses belum otomatis membuat semua anak mendapat imunisasi lengkap. Informasi keliru yang beredar luas masih memengaruhi keputusan sebagian orang tua dalam melengkapi vaksinasi anak.
Pemerintah menegaskan bahwa vaksin yang digunakan telah melalui uji keamanan dan efektivitas. Pemantauan terhadap Kejadian Ikutan Pascaimunisasi atau Kipi juga dilakukan secara ketat agar pengawasan tetap berjalan berkelanjutan.
Misinformasi menjadi penghalang utama
Dante menilai misinformasi kini menjadi hambatan yang paling menonjol dalam upaya mengejar cakupan imunisasi. Karena itu, pemerintah meminta media dan elemen masyarakat ikut meluruskan informasi yang menyesatkan agar orang tua mendapat penjelasan yang benar.
Keraguan akibat informasi yang salah dinilai bisa berdampak langsung pada capaian imunisasi nasional. Edukasi publik perlu diperkuat agar masyarakat memahami bahwa vaksin memberi perlindungan penting terhadap penyakit berat di masa depan.
Upaya ini juga penting agar keputusan orang tua tidak dibentuk oleh kabar yang tidak terverifikasi. Di tengah derasnya arus informasi, penjelasan yang akurat menjadi penentu dalam menjaga kepercayaan publik terhadap imunisasi.
UNDP soroti kesenjangan wilayah dan kepercayaan publik
United Nations Development Programme atau UNDP menilai tantangan imunisasi di Indonesia tidak berhenti pada isu akses layanan. Lembaga itu melihat kesenjangan antarwilayah serta rendahnya kepercayaan publik di sejumlah daerah ikut memengaruhi capaian imunisasi.
Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, Sujala Pant, menyampaikan bahwa vaksin telah terbukti secara ilmiah menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia setiap tahun. Ia menilai Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih kuat untuk menjawab persoalan distribusi, logistik, dan penerimaan masyarakat.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memang menghadapi tantangan tambahan dalam menjangkau seluruh wilayah. Kondisi ini membuat kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan media menjadi penting agar informasi yang diterima masyarakat tetap jelas dan dapat dipercaya.
Capaian imunisasi masih perlu dikejar
Data 2,8 juta anak yang belum imunisasi lengkap menunjukkan bahwa perlindungan dasar anak masih memerlukan perhatian serius. Angka itu menjadi pengingat bahwa ketersediaan layanan saja belum cukup jika keraguan publik masih tinggi.
Selama misinformasi belum tertangani dan distribusi layanan belum merata, upaya mengejar cakupan imunisasi akan tetap membutuhkan dukungan lintas pihak. Pemerintah, tenaga kesehatan, media, dan masyarakat perlu bergerak dengan pesan yang sama agar perlindungan anak lewat imunisasi bisa meningkat lebih cepat.
Di sisi lain, layanan kesehatan yang makin dekat dengan masyarakat memberi peluang besar untuk memperbaiki capaian tersebut. Peluang itu akan lebih efektif jika disertai informasi yang benar, komunikasi yang konsisten, dan kepercayaan publik yang lebih kuat terhadap imunisasi.
Source: www.beritasatu.com






