Mayasari Plaza Tasikmalaya mulai menempatkan esports sebagai daya tarik baru untuk anak muda di Priangan Timur. Langkah itu terlihat dari gelaran Mobile Legends Championship 2026 bersama MDR Official yang diposisikan sebagai awal pembentukan ekosistem esports di Tasikmalaya dan daerah sekitarnya.
Ajang ini juga membawa ambisi yang lebih besar dari sekadar lomba game. Pusat perbelanjaan tersebut ingin menjadi ruang pembinaan atlet, tempat mencari bibit unggul, sekaligus titik kumpul komunitas game yang sudah masuk ranah olahraga.
Sebanyak 24 tim ambil bagian dalam kompetisi yang memperebutkan total hadiah Rp 3 juta. Peserta datang dari berbagai wilayah, mulai dari Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, hingga Garut.
Panggung pembinaan di tengah persaingan
Perwakilan MDR Official, Denden, mengatakan turnamen ini dirancang agar pemain Mobile Legends mendapat ruang berkembang. Ia menilai penyelenggaraan di mal memberi peluang baru untuk mengumpulkan talenta yang selama ini belum punya wadah serupa.
Denden juga menegaskan bahwa turnamen ini diarahkan untuk menjaring pemain yang bisa dipersiapkan menuju ajang yang lebih tinggi. Salah satu target yang disorot ialah Pekan Olahraga Daerah dan Porprov.
Ia berharap kompetisi ini bisa menjadi sarana membaca kualitas pemain daerah secara langsung. Dari sini, pihaknya ingin menemukan atlet yang berpeluang memperkuat Kota Tasikmalaya pada kejuaraan berikutnya.
Format cepat, tensi tinggi
Turnamen digelar dengan sistem gugur atau knock out dan memakai format best of three. Setiap tim harus meraih dua kemenangan dari tiga gim untuk melaju ke babak selanjutnya.
Rangkaian laga dibagi ke dalam tiga babak penyisihan, perempat final, semifinal, grand final, dan perebutan juara ketiga. Pola ini membuat pertandingan berjalan cepat, tetapi tetap memberi ruang bagi tim untuk menunjukkan kemampuan terbaik.
Kehadiran pemain berpengalaman ikut menaikkan tensi sejak awal. Denden menyebut sejumlah peserta bukan pemain amatir, melainkan sosok yang sudah punya rekam jejak di level nasional dan profesional.
Di antara mereka ada pemain yang pernah juara di Pekan Olahraga Nasional, pemain yang pernah tampil di Liga 2 MDL, juara Liga Pelajar Priangan Timur, hingga pemain yang kerap disebut langganan turnamen offline. Kondisi itu membuat hasil laga sulit ditebak dan persaingan terasa hidup.
Pemain pemula tetap punya tempat
Meski diisi banyak pemain berpengalaman, turnamen ini tetap terbuka untuk peserta pemula. Denden mengatakan pemain amatir tetap diberi kesempatan ikut karena ingin berkembang dan menambah pengalaman bertanding.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa ekosistem esports bisa tumbuh dari banyak level. Dari yang baru mencoba hingga yang sudah punya jam terbang tinggi, semua mendapat tempat dalam satu panggung yang sama.
Panitia juga menyiapkan panggung dengan tiga layar penayangan sekaligus untuk mendukung atmosfer pertandingan. Konsep itu disebut baru pertama kali diterapkan dalam turnamen yang mereka gelar dan memberi kesan lebih kompetitif.
Mayasari Plaza bidik posisi kiblat esports
Denden menilai antusiasme peserta menjadi tanda bahwa esports semakin diterima generasi muda. Karena itu, MDR Official dan Mayasari Plaza berencana menghadirkan event serupa lagi agar pemain punya ruang berkompetisi dan berkembang.
Pihaknya berharap pusat perbelanjaan itu kelak dikenal sebagai kiblat esports di Priangan Timur, bahkan Tasikmalaya. Dengan begitu, anak muda yang ingin menekuni game sebagai olahraga tidak lagi bingung mencari tempat untuk bertanding dan mengasah kemampuan.
Selain turnamen ini, MDR Official juga tengah menyiapkan Liga Pelajar yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang. Rangkaian kegiatan itu diharapkan melahirkan lebih banyak atlet esports daerah yang mampu bersaing hingga level Jawa Barat dan nasional.
Source: radartasik.id