Cara baru untuk membaca medan magnet eksoplanet kini datang dari arah yang tak biasa: angin atmosfer. Alih-alih mengejar sinyal radio yang selama puluhan tahun sulit ditangkap, ilmuwan justru memanfaatkan perlambatan aliran gas di planet gas raksasa ultra-panas untuk menaksir kekuatan medan magnetnya.
Temuan ini memberi petunjuk penting bahwa medan magnet eksoplanet panas ternyata tidak sekuat dugaan banyak model lama. Pada beberapa planet dengan suhu ekstrem, pola angin justru menunjukkan batasan yang masuk akal jika medan magnet bekerja seperti rem di atmosfer.
Angin Atmosfer Jadi Kunci Baru
Penelitian yang dimuat di jurnal Nature Astronomy ini menandai perubahan pendekatan dalam studi eksoplanet bermedan magnet kuat. Tim peneliti tidak langsung mencari medan magnet, tetapi mengamati aliran angin di atmosfer tujuh planet gas ultra-panas dengan bantuan Very Large Telescope milik ESO di Cili dan Gemini North Telescope di Hawaii.
Para ilmuwan memantau unsur besi yang menyerap cahaya bintang untuk menghitung kecepatan angin. Dari pengamatan itu, mereka menemukan pola yang tidak lazim karena angin justru melambat saat suhu planet semakin tinggi.
Pola tersebut berlawanan dengan dugaan awal. Secara teori sederhana, energi termal yang lebih besar semestinya mendorong atmosfer bergerak lebih cepat, tetapi data menunjukkan hal yang berbeda.
Medan Magnet Diduga Menahan Aliran Gas
Pada planet dengan suhu ekstrem yang mencapai 1.650 derajat Celsius, kecepatan angin tercatat berada di kisaran 4.500 hingga 15.500 mil per jam. Angka itu menjadi dasar penting untuk membaca bagaimana atmosfer bekerja di bawah pengaruh medan magnet.
Hasil analisis mengarah pada kesimpulan bahwa medan magnet bertindak sebagai rem bagi aliran gas bermuatan. Ketika angin atmosfer melambat, peneliti dapat memperkirakan kekuatan medan magnet eksoplanet secara tidak langsung tanpa harus menangkap sinyal radio.
Pendekatan ini penting karena medan magnet tidak terlihat secara langsung. Namun, pengaruhnya terhadap pergerakan atmosfer bisa terbaca lewat perubahan kecepatan angin yang konsisten.
Jawaban atas Sunyi Sinyal Radio
Estimasi yang dihasilkan menunjukkan medan magnet planet-planet tersebut setara dengan medan magnet planet gas di Tata Surya, seperti Jupiter dan Saturnus. Artinya, kekuatannya tidak jauh lebih besar seperti yang selama ini diprediksi oleh model-model lama.
Temuan ini juga membantu menjelaskan mengapa sinyal radio dari eksoplanet panas sangat sulit dideteksi dari Bumi. Keheningan radio itu bukan berarti planet-planet tersebut tidak memiliki medan magnet, melainkan karena kekuatannya belum cukup besar untuk menghasilkan sinyal yang mudah ditangkap instrumen saat ini.
Selama puluhan tahun, para astronom memang mencoba mencari jejak eksoplanet bermedan magnet kuat lewat radio. Asumsi yang dipakai saat itu bahkan menempatkan kekuatan medan magnet planet panas pada skala ratusan kali Jupiter.
Dampak untuk Pencarian Planet Lain
Metode baru ini memberi jalan lain bagi astronom untuk mempelajari sifat fisik planet di luar Tata Surya tanpa bergantung pada deteksi radio langsung. Atmosfer kini tampil sebagai sumber informasi penting untuk membaca karakter tersembunyi planet gas raksasa ultra-panas.
Hubungan antara suhu, angin atmosfer, dan perlambatan aliran gas memberi alat tambahan yang lebih masuk akal untuk menaksir medan magnet eksoplanet. Cara ini juga menunjukkan bahwa kondisi di alam semesta bisa lebih mirip dengan lingkungan lokal di sekitar Tata Surya daripada yang selama ini dibayangkan.
Bagi astronom, perubahan sudut pandang ini penting karena membuka peluang untuk menguji kembali model-model lama. Dengan membaca angin, ilmuwan kini bisa mendekati sesuatu yang selama ini sulit dijangkau langsung: kekuatan medan magnet di dunia yang jauh di luar Tata Surya.
Source: mediaindonesia.com