Tragedi kereta api sering datang dengan pola yang brutal: tabrakan, anjlok, kebakaran, ledakan, hingga bencana alam yang membuat jumlah korban melonjak dalam hitungan menit. Insiden di Bekasi Timur yang menewaskan 15 orang dan melukai ratusan penumpang kembali mengingatkan bahwa keselamatan rel tetap menjadi isu yang sangat rapuh.
Daftar kecelakaan paling mematikan di dunia menunjukkan satu hal yang sama, yakni satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi bencana besar. Dari Asia hingga Eropa dan Amerika, sejarah mencatat kereta bukan hanya alat transportasi massal, tetapi juga saksi dari tragedi yang sulit dilupakan.
Bencana yang menelan ratusan hingga ribuan nyawa
Salah satu tragedi paling mematikan terjadi di Sri Lanka saat tsunami menerjang kereta Samudradevi yang menuju Galle. Air membanjiri gerbong hingga kedalaman 6 meter dan menewaskan sekitar 1.700 orang, menjadikannya kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah.
Di Rusia, dua kereta penumpang meledak dekat Ufa setelah gas mudah terbakar dari pipa bocor menyapu jalur rel. Ledakan yang disebut setara sekitar 10.000 ton TNT itu menewaskan 575 orang dan melukai 800 lainnya.
Italia mengalami tragedi kelam di Balvano ketika kereta barang yang membawa sekitar 650 penumpang berhenti di terowongan sempit. Lebih dari 530 penumpang mati lemas akibat karbon monoksida dari mesin yang masih menyala.
Mesir juga mencatat kebakaran maut saat kereta penuh sesak terbakar di tengah perjalanan Idul Adha. Api menyebar cepat ke tujuh gerbong, dan 370 penumpang tewas sebelum kereta berhasil dihentikan.
Tragedi tua yang tetap tercatat dalam sejarah
India menyimpan bencana Bihar yang bermula saat kereta penumpang tergelincir dari jembatan dan tujuh gerbong jatuh ke Sungai Baghmati. Jumlah korban tewas resmi tercatat 232 orang, meski ada perkiraan lain yang menyebut angka lebih tinggi.
Prancis mencatat tragedi Saint-Michel-de-Maurienne ketika lebih dari 1.000 tentara pulang dari Italia menaiki kereta yang menarik beban jauh di atas batas aman. Kereta kehilangan kendali, tergelincir, lalu terbakar, dengan laporan menyebut 543 orang tewas.
Rumania mengalami kecelakaan Ciurea saat kereta pengungsi yang berangkat ke Iasi terlalu penuh. Kereta yang diduga memuat hingga 5.000 orang itu menabrak truk tangki bahan bakar dan meledak, dengan perkiraan korban jiwa mencapai 1.000 orang.
Di Guadalajara, Meksiko, kereta yang membawa keluarga tentara Carranza melaju tak terkendali di lereng curam. Sekitar 600 dari 900 penumpang tewas seketika, dan hanya enam orang dilaporkan selamat tanpa cedera.
Dari Indonesia ke Eropa, pola bahaya yang berulang
Indonesia juga punya catatan pahit dalam daftar ini. Pada 22 Desember 1944, kecelakaan kereta api di Singgalang Kariang, dekat Padang Panjang, Sumatera Barat, menewaskan 200 penumpang dan melukai sekitar 250 orang.
Spanyol mencatat salah satu tragedi paling terkenal di Torre del Bierzo ketika tiga kereta bertabrakan di terowongan. Pemerintah menyebut korban kurang dari 100, tetapi sejumlah perkiraan menempatkan angka kematian di kisaran 500 hingga 800 orang.
Di Ethiopia, kereta dari Dire Dawa ke Addis Ababa tergelincir dari jembatan setinggi lebih dari 12 meter. Kereta lima gerbong yang membawa sekitar 1.000 orang itu menewaskan antara 392 hingga 559 orang menurut berbagai laporan.
New York City mengalami kecelakaan Malbone Street saat masinis muda dan tak berpengalaman membawa 650 penumpang melewati tikungan terlalu tajam. Hampir 100 orang tewas, dan tragedi itu memicu penambahan sinyal waktu serta pengereman otomatis.
Di Tennessee, tabrakan frontal di Dutchman’s Curve menewaskan lebih dari 100 orang. Kecelakaan itu terjadi karena dua kereta penumpang berakhir di jalur yang sama dan melaju berlawanan arah tanpa koordinasi yang aman.
Bekasi Timur kini menambah pengingat baru bahwa kecelakaan kereta api bisa muncul tanpa peringatan. Sejarah panjang dari berbagai negara menunjukkan bahwa saat pengawasan, koordinasi, dan keselamatan gagal, satu perjalanan biasa bisa berubah menjadi tragedi yang dikenang puluhan tahun.
Source: www.idntimes.com






