Kolesterol sering dianggap sepenuhnya buruk, padahal tubuh tetap membutuhkannya untuk membentuk sel sehat, hormon, dan vitamin D. Yang berbahaya justru saat kadar LDL terlalu tinggi karena bisa menumpuk sebagai plak di arteri dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Banyak anggapan soal kolesterol masih dipercaya begitu saja, padahal beberapa di antaranya tidak sesuai dengan fakta. Ulasan yang dirangkum lifestyle.bisnis.com dari WebMD menunjukkan bahwa pengelolaan kolesterol jauh lebih kompleks daripada sekadar menghindari makanan tertentu.
Jenis Kolesterol yang Perlu Dibedakan
LDL atau low-density lipoprotein dikenal sebagai kolesterol jahat karena dapat menyumbat pembuluh darah. Sebaliknya, HDL atau high-density lipoprotein disebut kolesterol baik karena membantu membawa kolesterol dari pembuluh darah kembali ke hati untuk dikeluarkan dari tubuh.
Selain itu, trigliserida juga berperan sebagai jenis lemak lain dalam darah yang terkait dengan risiko penyakit jantung. Karena itu, pemeriksaan kolesterol tidak cukup hanya melihat satu angka saja.
| Jenis | Peran | Catatan |
|---|---|---|
| LDL | Membawa kolesterol ke pembuluh darah | Disebut kolesterol jahat karena bisa menyumbat arteri |
| HDL | Membawa kolesterol kembali ke hati | Disebut kolesterol baik karena membantu membersihkan LDL |
| Trigliserida | Jenis lemak lain dalam darah | Berkaitan dengan risiko penyakit jantung |
11 Mitos Kolesterol yang Perlu Diluruskan
1. Semua kolesterol buruk
Faktanya, tubuh membutuhkan kolesterol dalam jumlah tertentu. Masalah muncul ketika LDL terlalu tinggi dan mulai menumpuk di arteri.
2. Makanan tinggi kolesterol adalah penyebab utama
American Heart Association menekankan bahwa lemak jenuh justru lebih besar pengaruhnya. Sumber yang umum antara lain daging merah, mentega, dan produk susu berlemak penuh.
3. Telur harus dihindari
Satu butir telur besar mengandung 186 miligram kolesterol dan hanya 1,6 gram lemak jenuh. Angka itu setara sekitar 8% dari batas harian, sehingga telur masih bisa dinikmati dalam jumlah sedang.
4. Diet tanpa lemak adalah pilihan terbaik
Tubuh tetap memerlukan lemak, tetapi yang disarankan adalah lemak tak jenuh. Sumbernya antara lain kenari, biji bunga matahari, biji rami, ikan berlemak, minyak zaitun, dan alpukat.
5. Minum obat kolesterol berarti bebas makan apa saja
Obat tidak menggantikan pola makan sehat jantung. Buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, biji-bijian, ikan berlemak, dan minyak zaitun tetap penting untuk menjaga kadar kolesterol.
6. Orang kurus tidak bisa punya kolesterol tinggi
Kolesterol tinggi juga bisa dialami orang yang tampak tidak kelebihan berat badan. Risiko tetap ada bila kurang berolahraga, makan tidak sehat, atau memiliki kondisi bawaan seperti hiperkolesterolemia familial.
7. Pemeriksaan baru perlu dilakukan setelah usia 35 tahun
Kolesterol perlu diperiksa setiap 5 tahun sejak masa kanak-kanak hingga usia paruh baya. Pada pria usia 45 hingga 65 tahun dan wanita usia 55 hingga 65 tahun, pemeriksaan disarankan setiap 1-2 tahun.
8. Anak-anak tidak perlu diperiksa
Data yang disebut WebMD menunjukkan 7% anak usia 6 hingga 19 tahun memiliki kolesterol tinggi. Anak dengan faktor risiko seperti pola makan tidak sehat atau riwayat keluarga perlu diperiksa sejak usia 2 tahun.
9. Kolesterol tinggi lebih banyak dialami pria
Wanita memang bisa mendapat perlindungan sebelum menopause berkat estrogen. Namun setelah menopause, kadar kolesterol dapat berubah dan penyakit jantung tetap menjadi penyebab utama kematian pada wanita.
10. HDL tinggi otomatis menetralkan LDL tinggi
HDL memang baik, tetapi tidak bisa menutupi kolesterol total yang tinggi. Karena itu, hasil pemeriksaan lengkap tetap perlu dilihat secara keseluruhan.
11. Statin boleh dilewatkan sesekali
Statin dapat menurunkan risiko penyakit jantung hingga 25%, tetapi sekitar 50% orang tidak meminumnya dengan benar. Jika ada efek samping atau keluhan, langkah yang disarankan adalah berbicara dengan dokter, bukan menghentikan obat sendiri.
Gaya Hidup Tetap Menentukan
Selain obat dan pola makan, kebiasaan harian juga sangat berpengaruh pada kadar kolesterol. Berhenti merokok, rutin berolahraga sekitar 30 menit hampir setiap hari, dan menurunkan berat badan bila berlebih dapat membantu memperbaiki HDL serta kesehatan jantung.
Kolesterol tinggi bisa menyerang siapa saja, dan mitos yang beredar sering membuat orang terlambat memahami risikonya. Pemeriksaan rutin, pola makan sehat, olahraga, berhenti merokok, dan kepatuhan minum obat tetap menjadi langkah paling masuk akal untuk menjaga jantung tetap sehat.
Source: lifestyle.bisnis.com






