Tahan Jempol Sebelum Menghakimi Korban Kekerasan, Ini yang Perlu Dilakukan

Respons pertama saat melihat kasus kekerasan di media sosial sering kali menentukan apakah korban mendapat dukungan atau justru beban baru. Karena itu, publik diminta lebih berhati-hati agar komentar tidak berubah menjadi victim blaming yang menyudutkan korban.

Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi mengingatkan bahwa orang luar tidak pernah benar-benar tahu kondisi yang dialami korban. Menurut dia, langkah paling dasar sebelum berkomentar adalah memastikan isi tulisan tidak memperburuk keadaan korban.

Victim Blaming Masih Sering Muncul

Victim blaming kerap muncul ketika kasus kekerasan hanya dilihat dari permukaan. Banyak orang menilai korban seolah-olah cukup menjauh dari pelaku, padahal situasi di balik relasi yang penuh kekerasan jauh lebih kompleks.

Gisella menjelaskan, hubungan semacam itu sering melibatkan manipulasi psikologis, kontrol, dan dominasi dari pelaku. Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan motif ekonomi, emosional, hingga seksual, sehingga tidak sesederhana logika “kalau disakiti ya pergi”.

Biasakan Baca Ulang Sebelum Kirim

Salah satu langkah praktis yang disarankan adalah membaca ulang komentar sebelum menekan tombol kirim. Kebiasaan sederhana ini bisa membantu seseorang menilai apakah tulisannya pantas, relevan, dan tidak menambah beban korban.

Publik juga perlu bertanya pada diri sendiri apakah komentar yang akan disampaikan benar-benar berguna. Jika isi respons hanya memojokkan korban, maka komentar itu lebih baik tidak dipublikasikan.

Empati Perlu Didahulukan

Gisella menyarankan agar publik mencoba menempatkan diri pada posisi korban sebelum memberi penilaian. Cara ini penting agar respons yang muncul tidak hanya berbasis opini spontan, tetapi juga mempertimbangkan dampak psikologis yang mungkin timbul.

Ia juga menilai penting untuk mengenali reaksi pribadi saat membaca kasus di media sosial atau berita. Dengan memahami koneksi emosional yang muncul, seseorang bisa lebih sadar dalam merespons dan tidak terburu-buru menghakimi.

Respons Aman Saat Melihat Kasus Viral

LangkahTujuan
Baca ulang komentar sebelum dipostingMenilai apakah isi komentar pantas dan tidak menambah beban korban
Tahan komentar yang menyalahkan korbanMencegah victim blaming
Pikirkan apakah respons itu membantu atau melukaiMemilih komentar yang lebih berguna
Pahami bahwa relasi penuh kekerasan sering tidak terlihat dari luarMenghindari penilaian yang terlalu sederhana
Utamakan empati, bukan penghakimanMenjaga ruang digital tetap aman bagi korban

Dengan sikap seperti itu, ruang digital bisa menjadi tempat yang lebih aman bagi korban untuk didengar tanpa menerima beban tambahan dari komentar publik. Dukungan kecil yang tepat sering kali lebih berarti daripada opini yang justru menambah penderitaan.

Source: www.beritasatu.com
Terkait