105 Guru SD Jawa Tengah Digembleng, Misi Menjaga Bahasa Ibu Dimulai Dari Kelas

Pelindungan bahasa daerah di Jawa Tengah kini diarahkan langsung ke ruang kelas sekolah dasar. Melalui Bimbingan Teknis Guru Utama yang digelar di Ungaran, Kabupaten Semarang, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah mendorong guru menjadi ujung tombak menjaga bahasa ibu tetap hidup di lingkungan belajar.

Sebanyak 105 guru SD dan tujuh pengawas SD dari 35 kabupaten/kota mengikuti bimtek selama empat hari di Gedung Balairung Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Sebanyak 21 pakar bahasa dan sastra terlibat untuk memperkuat materi yang diterima peserta selama pelatihan berlangsung.

Sekolah dasar jadi titik awal pelindungan bahasa

Fokus kegiatan ini tidak berhenti pada penguasaan materi teknis. Balai Bahasa ingin praktik pelindungan bahasa daerah menyebar lebih luas melalui guru yang kembali ke sekolah dan membagikan pengetahuan kepada rekan sejawat serta siswa.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati S.Pd., M.Hum., menyampaikan terima kasih kepada para pakar yang telah mendampingi Program Pelindungan Bahasa Daerah. Ia juga meminta peserta bimtek mendiseminasikan materi yang mereka peroleh ke guru lain dan peserta didik di daerah masing-masing.

Pendekatan ini menempatkan sekolah dasar sebagai ruang strategis untuk menjaga keberlanjutan bahasa daerah. Dari kelas, praktik pelindungan bahasa diharapkan tidak berhenti sebagai pelatihan sesaat, tetapi menjadi kebiasaan yang terus dipelihara dalam kegiatan belajar.

Jejaring pendidikan yang luas

Kehadiran peserta dari 35 kabupaten/kota menunjukkan bahwa program ini tidak dibangun untuk satu wilayah saja. Jangkauan yang luas memberi peluang agar materi bimtek menyebar ke lebih banyak sekolah setelah para peserta kembali ke daerah asalnya.

Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menilai kolaborasi dengan para pakar bahasa dan sastra penting untuk memperkuat kapasitas guru. Dengan begitu, pelindungan bahasa daerah memiliki dasar pengetahuan yang lebih kuat dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Peran pengawas SD juga ikut dimasukkan dalam kegiatan ini. Kehadiran mereka menambah jalur penguatan agar pesan pelestarian bahasa daerah dapat bergerak dari tingkat pembinaan ke praktik sekolah secara lebih terarah.

Dorongan menjaga bahasa ibu dari sekolah

Program ini menunjukkan upaya menjaga bahasa daerah melalui jalur pendidikan formal. Guru tidak hanya diposisikan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penggerak yang dapat membawa bahasa daerah tetap digunakan dan dikenali oleh anak-anak.

Dengan melibatkan unsur sekolah dari banyak daerah, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah membangun dasar kerja bersama untuk pelindungan bahasa ibu. Dari pelatihan di Ungaran, pesan yang dibawa pulang para peserta diarahkan untuk menjangkau kelas, guru lain, dan komunitas sekolah di daerah masing-masing.

Source: suarabaru.id

Terkait