Dari Lomba Pop ke Top 42 D’Academy 8, Zhifanna Berjuang untuk Orang Tua

Zhifanna datang ke panggung D’Academy 8 dengan modal yang tidak biasa. Remaja 16 tahun asal Pesisir Selatan, Sumatera Barat, itu sebelumnya lebih sering mengikuti lomba menyanyi pop, tetapi kini berhasil menembus Top 42 kompetisi dangdut.

Pencapaian tersebut memiliki arti besar bagi Zhifanna karena ia mengikuti ajang ini untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Kesempatan tampil di panggung nasional menjadi bagian dari perjuangannya mengejar mimpi sekaligus membalas dukungan keluarga.

Kelolosan ke Top 42 bukan hasil yang sudah ia perkirakan sejak awal. Zhifanna mengakui dirinya belum tumbuh sebagai penyanyi dangdut dan masih terus membangun kemampuan di genre tersebut.

Ketertarikannya pada dangdut baru muncul sejak era DA 6. Sebelum itu, ia lebih banyak mengasah kemampuan vokal melalui berbagai lomba pop di daerah asalnya.

Tahap PerjalananKeterangan
Sebelum D’Academy 8Zhifanna kerap mengikuti lomba menyanyi pop di Pesisir Selatan.
Mulai belajar dangdutIa menaruh minat pada dangdut sejak era DA 6.
Kompetisi saat iniZhifanna berhasil masuk Top 42 D’Academy 8.
PembinaanIa menjadi anak didik Selfi Yamma.

Dalam keterangannya di Studio Emtek Indosiar pada Senin, 20 Juli 2026, Zhifanna menyebut kelolosannya terasa di luar dugaan. “Enggak nyangka karena Zhifanna itu sebenarnya eh enggak terlalu bisa dangdut. Baru belajar dangdutnya dari DA 6,” ungkapnya.

Peralihan dari pop menuju dangdut membuatnya perlu menyesuaikan teknik bernyanyi dan cara membawakan lagu. Tantangan itu semakin terasa karena kompetisi menuntut peserta tidak hanya memiliki suara, tetapi juga penghayatan yang kuat.

Bertemu Mentor yang Diinginkan

Perjalanan Zhifanna makin berkesan setelah ia bergabung dalam tim Selfi Yamma. Sejak awal, ia memang ingin bertemu dengan penyanyi tersebut dan kini mendapat kesempatan belajar langsung sebagai anak didiknya.

Menurut Zhifanna, Selfi Yamma membimbing dengan sikap baik dan humble. Ia juga menilai mentornya tidak menuntut peserta untuk menyanyi dengan karakter vokal yang sama seperti dirinya.

Arahan yang diterima Zhifanna lebih menitikberatkan pada penghayatan dan pemahaman lagu. Selain itu, ia diminta membenahi cengkok agar pembawaan dangdutnya terdengar lebih rapi.

Pembinaan itu menjadi modal penting bagi Zhifanna yang masih memperkuat dasar bernyanyi dangdut. Pengalaman bernyanyi pop tetap menjadi bekal, tetapi ia perlu memahami tuntutan ekspresi dan teknik yang berbeda di panggung D’Academy 8.

Menjadikan Komentar Juri sebagai Bekal

Zhifanna tampil di Grup 4, sehingga memiliki waktu untuk mempersiapkan diri sebelum naik panggung. Ia memanfaatkan masa libur penuh untuk berlatih dan mematangkan penampilannya.

Ia juga memperhatikan peserta dari grup-grup sebelumnya sebagai bahan belajar. Komentar juri menjadi salah satu acuan yang ia gunakan untuk memahami standar penampilan dalam kompetisi.

“Tentunya harus belajar dari komentar-komentar juri, juri itu pengennya kayak gimana kalau kita lagi berkompetisi gitu,” jelas Zhifanna. Baginya, masukan tersebut dapat membantu memperbaiki kekurangan pada penampilan berikutnya.

Liputan6.com melaporkan, Zhifanna akhirnya dinyatakan lolos oleh para juri setelah tampil pada malam itu. Hasil tersebut membuat peluangnya untuk melanjutkan persaingan di babak berikutnya tetap terbuka.

Jika kembali melaju, Zhifanna berkomitmen menambah porsi belajar dan latihan. Ia juga ingin memperbanyak ibadah selama mengikuti perjalanan kompetisi.

Targetnya pun cukup tinggi, yakni dikenal lebih banyak orang dan mencapai Top 2. “Insya Allah sampai Top 2 ya,” ujar Zhifanna, yang kini melanjutkan proses belajarnya dari panggung lomba pop menuju persaingan dangdut nasional.

Source: www.liputan6.com
Terkait