Zaskia Adya Mecca memilih mengizinkan dua anaknya, Kala dan Kana Sybilla, tidak masuk sekolah setelah menyaksikan final Piala Dunia. Keputusan itu diambil karena ia melihat pertandingan tersebut sebagai kesempatan langka untuk menciptakan kenangan keluarga.
Bagi Zaskia, absennya anak dari sekolah pada kesempatan itu bukan sekadar soal menonton sepak bola. Ia menilai waktu bersama ayah saat menyaksikan laga besar dapat menjadi pengalaman yang melekat bagi anak-anak.
Momen yang Datang Empat Tahun Sekali
Piala Dunia menjadi pertimbangan utama karena turnamen tersebut hanya berlangsung setiap empat tahun sekali. Zaskia merasa momen seperti ini layak diberi ruang, terutama ketika anak-anak ingin menikmatinya bersama keluarga.
Anak-anaknya sempat meminta izin untuk tidak bersekolah saat Piala Dunia berlangsung. Final yang dibicarakan dalam keterangannya mempertemukan Argentina dan Spanyol.
Zaskia mengatakan permintaan itu disampaikan langsung oleh anak-anaknya. Ia lalu mempertimbangkan nilai kebersamaan di balik keinginan untuk menyaksikan pertandingan tersebut.
“Kemarin pas sekolah kan pas lagi Piala Dunia kan, terus kayak anak-anak, ‘Bi, boleh izin sekolah enggak?’,” kata Zaskia saat ditemui di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ia memandang turnamen yang hadir empat tahun sekali itu sebagai alasan yang patut dipertimbangkan.
Quality Time Ayah dan Anak
Istri sutradara Hanung Bramantyo itu menekankan bahwa keputusan tersebut tidak dibuat semata-mata untuk memberi kelonggaran kepada anak. Ia melihat final Piala Dunia sebagai ruang quality time antara ayah dan anak.
Menurutnya, menonton pertandingan bersama dapat meninggalkan kenangan yang bertahan lama. Nilai inilah yang membuatnya bersedia mengizinkan anak-anak tidak mengikuti kegiatan sekolah pada hari itu.
“Dan buat aku itu kayak momen enggak sih, momen bapak sama anak buat quality time nonton bareng. Itu akan jadi terus kenangan gitu walaupun harus izin sekolah,” ujarnya.
Pandangan Zaskia menempatkan pengalaman keluarga sebagai hal yang juga penting bagi tumbuh kembang anak. Namun, ia tidak memilih jalan dengan membuat alasan yang berbeda kepada pihak sekolah.
Memilih Jujur kepada Guru
Zaskia menyampaikan bahwa izin tersebut diajukan dengan alasan yang sebenarnya. Ia memilih terbuka kepada guru bahwa anak-anaknya tidak masuk sekolah karena ingin menyaksikan final Piala Dunia.
Sikap itu menurutnya lebih baik daripada memakai alasan acara keluarga yang tidak dijelaskan secara rinci. Ia menilai alasan yang tidak sepenuhnya terbuka justru dapat memunculkan pertanyaan lanjutan dari guru.
Menurut keterangan yang disampaikan kepada Kompas.com, unggahan Zaskia soal izin sekolah itu mendapat respons dari sejumlah ibu. Beberapa di antaranya mengaku pernah memakai alasan acara keluarga ketika meminta izin untuk anak.
Zaskia mencontohkan, guru bisa saja meminta penjelasan lebih jauh mengenai acara keluarga tersebut. Karena itu, ia menyarankan orang tua menyampaikan kebutuhan anak secara langsung sejak awal.
“Ternyata banyak ibu-ibu yang langsung nge-japri aku, ‘Gue udah izin sekolah, gue bilang ada acara keluarga, gurunya malah jawab acara keluarganya apa ya kalau boleh tahu?’ Nah kan, udah jujur saja dari awal gitu,” tutur Zaskia.
Izin untuk Kondisi Emosional Anak
Keterbukaan kepada guru disebut Zaskia sudah menjadi kebiasaan dalam keluarganya. Alasannya tidak selalu berkaitan dengan sakit, tetapi juga dapat menyangkut kondisi emosional atau kebutuhan anak untuk beristirahat.
Ia mengaku pernah menjelaskan kepada guru ketika anaknya sedang sedih hingga tidak mampu bangun pada hari itu. Zaskia menilai orang tua tidak harus selalu memakai alasan sakit bila anak memang membutuhkan jeda.
“Kalau aku tuh terbiasa sama guru-guru sekarang kayak terus terang saja,” kata Zaskia. Baginya, komunikasi yang jujur membuat pihak sekolah dapat memahami kondisi anak dengan lebih jelas.
Keputusan memberi izin menonton final Piala Dunia itu pun menjadi bagian dari cara Zaskia membangun komunikasi terbuka dengan anak dan guru. Ia memberi ruang untuk momen keluarga, sambil tetap menjelaskan alasan ketidakhadiran secara apa adanya.
