Banjir besar, kekeringan panjang, gelombang panas, dan badai ekstrem kerap dianggap akan memaksa orang pindah dalam jumlah besar. Namun, gambaran itu ternyata terlalu sederhana karena keputusan bermigrasi hampir selalu ditentukan banyak faktor sekaligus.
Studi yang dimuat dalam jurnal Papers dengan judul Cambio climático y migraciones: Una aproximación Delphi en la búsqueda del consenso menunjukkan bahwa perubahan iklim memang memengaruhi mobilitas manusia. Meski begitu, dampak lingkungan jarang menjadi alasan tunggal seseorang meninggalkan tempat tinggalnya.
Perubahan iklim lebih sering memperbesar tekanan yang sudah ada
Para peneliti menggunakan metode Delphi untuk membangun konsensus dari berbagai ahli. Mereka melibatkan pakar migrasi, perubahan iklim, hukum, kebijakan publik, dan pembangunan untuk membaca hubungan yang selama ini masih diperdebatkan.
Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan iklim lebih sering bekerja sebagai penguat tekanan yang sudah ada. Dalam banyak kasus, perpindahan dipicu oleh gabungan kondisi ekonomi, peluang kerja, akses pendidikan, konflik sosial, jaringan keluarga, dan kebijakan pemerintah.
Tidak semua yang terdampak paling berat bisa pergi
Salah satu temuan paling penting adalah kelompok yang paling rentan tidak selalu menjadi kelompok yang paling banyak bermigrasi. Dalam banyak situasi, mereka justru tidak punya sumber daya untuk pindah meski risikonya meningkat.
Biaya transportasi, minimnya informasi, ketidakpastian pekerjaan, dan tidak adanya tempat tinggal di wilayah tujuan membuat sebagian orang memilih bertahan. Karena itu, migrasi tidak hanya soal besarnya ancaman lingkungan, tetapi juga soal kemampuan untuk bergerak.
Migrasi iklim jauh lebih rumit dari sekadar perpindahan massal
Pandangan bahwa perubahan iklim akan langsung memicu gelombang migrasi besar dinilai terlalu menyederhanakan realitas. Keputusan untuk pergi atau bertahan lahir dalam konteks sosial dan ekonomi yang berbeda-beda di setiap komunitas.
Seorang petani yang mengalami gagal panen akibat kekeringan, misalnya, tidak otomatis pindah ke kota atau mencari lahan baru. Banyak keluarga tetap tinggal karena biaya pindah terlalu mahal, ikatan sosial masih kuat, atau peluang di tempat tujuan belum jelas.
Kebijakan perlu fokus pada adaptasi dan keadilan
Para peneliti menilai tantangan utamanya bukan hanya mengelola orang yang berpindah, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat agar tetap hidup aman dan layak di tempat asal. Hingga kini, belum ada kerangka internasional yang benar-benar terpadu untuk menangani mobilitas akibat perubahan iklim.
Karena itu, para ahli mendorong prinsip keadilan iklim masuk ke dalam kebijakan pembangunan. Langkah ini dinilai penting untuk melindungi kelompok rentan, memperkuat adaptasi, dan mencegah perubahan iklim memperdalam ketimpangan yang sudah ada.
Pada akhirnya, perubahan iklim memang dapat mengubah pola migrasi, tetapi keputusan untuk pergi atau bertahan lebih sering ditentukan oleh kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang membentuk kehidupan sehari-hari masyarakat.
