Xiaomi memilih berhenti mengejar smartphone ultra tipis setelah menilai terlalu banyak kompromi yang harus dibayar. Keputusan ini menunjukkan bahwa desain ramping tidak selalu sejalan dengan pengalaman pakai yang utuh.
Perangkat yang nyaris masuk jalur produksi massal itu sebenarnya sudah sangat jauh disiapkan. Namun, Xiaomi akhirnya menilai bahwa baterai, pendinginan, dan performa akan terlalu banyak terkikis jika bodi dibuat setipis mungkin.
Proyek yang sudah melangkah jauh
Presiden Xiaomi, Lu Weibing, mengatakan tim internal sudah menyelesaikan perencanaan produk, riset awal, hingga tahap menuju produksi massal. Artinya, proyek tersebut bukan sekadar ide di atas kertas.
Xiaomi baru menghentikannya ketika batasan teknis mulai terlihat jelas. Semakin tipis sebuah smartphone, semakin sulit menempatkan komponen penting di dalam ruang yang makin sempit.
Masalah paling besar muncul pada daya tahan baterai dan stabilitas performa. Saat bodi dipangkas ekstrem, kapasitas baterai ikut menurun karena ruang internal menyusut.
Baterai besar dan pendinginan jadi prioritas
Lu Weibing menegaskan bahwa sistem pendingin juga ikut terdampak oleh desain yang terlalu tipis. Kondisi itu berisiko membuat suhu perangkat kurang stabil, terutama saat dipakai untuk aktivitas berat.
Dampaknya terasa langsung dalam penggunaan harian, termasuk saat menjalankan aplikasi berat atau bermain game dalam waktu lama. Xiaomi menilai pengguna flagship tetap membutuhkan perangkat yang nyaman dipakai tanpa mengorbankan fungsi inti.
Karena alasan itu, perusahaan tidak ingin merilis produk yang menarik secara visual tetapi lemah di sisi ketahanan dan stabilitas. Pilihan ini menegaskan bahwa Xiaomi lebih memilih pengalaman pakai yang utuh daripada sekadar mengejar bodi super ramping.
Arah baru Xiaomi mengarah ke seri Max
Alih-alih meneruskan proyek ultra tipis, Xiaomi kini memusatkan perhatian pada lini “Max”. Lu Weibing menjelaskan bahwa seri Max berbeda dari seri Plus yang umumnya hanya menawarkan ukuran layar lebih besar.
Seri Max dirancang untuk peningkatan yang lebih menyeluruh. Fokusnya mencakup kamera, performa, kapasitas baterai, dan pengalaman flagship secara keseluruhan.
Langkah itu juga terlihat dari Xiaomi 17 Max yang akan segera dirilis Mei 2026 ini. Ponsel tersebut disebut membawa kamera Leica 200 MP pertama milik Xiaomi dengan lensa telefoto periskop 3x.
Di sisi daya, Xiaomi 17 Max dibekali baterai Jinshajiang 8000mAh. Kapasitas itu disebut sebagai yang paling kuat di seri smartphone Xiaomi saat ini.
Menjawab tren ponsel tipis dengan cara berbeda
Keputusan Xiaomi datang ketika banyak merek kembali berlomba menghadirkan ponsel tipis dan ringan. Desain ramping memang terlihat premium, tetapi tidak semua pengguna menempatkan tampilan di atas fungsi.
Xiaomi tampaknya membaca kebutuhan pasar dengan pendekatan yang berbeda. Pengguna flagship masih dinilai lebih memprioritaskan kamera berkualitas, performa stabil, dan hardware yang awet digunakan dalam jangka panjang.
Itulah sebabnya Xiaomi memilih perangkat dengan spesifikasi yang lebih lengkap, bukan bodi setipis mungkin. Di tengah tren desain ekstrem, baterai besar dan kemampuan perangkat tetap menjadi pertimbangan penting bagi arah produk perusahaan.
Source: www.idntimes.com





