WOW Brand 2026 menempatkan humanisasi brand sebagai isu penting di tengah cepatnya adopsi kecerdasan buatan. Forum tahunan ini menegaskan bahwa merek tidak cukup hanya efisien, tetapi juga harus terasa manusiawi, otentik, dan relevan secara emosional bagi konsumen.
Tema “Branding in the Age of AI” menunjukkan arah baru branding modern yang menggabungkan data, otomatisasi, dan nilai kemanusiaan. Di pasar yang makin dipenuhi konten seragam, brand dituntut membangun hubungan yang lebih hangat agar tidak kehilangan daya tarik.
AI Mempercepat, tetapi Tidak Menggantikan Manusia
COO MCorp, Iwan Setiawan, menilai AI memberi banyak keuntungan dalam pemasaran karena membuat pekerjaan lebih cepat, presisi, dan terukur. Namun, ia menegaskan bahwa teknologi itu tetap tidak bisa sepenuhnya menggantikan intuisi manusia dalam membentuk identitas merek.
Ia juga menyoroti perilaku konsumen modern yang makin selektif terhadap pesan promosi. Menurut dia, pesan yang terlalu formal atau terlalu mirip iklan sering langsung disaring, sedangkan brand yang tampil apa adanya justru punya peluang lebih besar menarik perhatian.
Dalam sesi pembuka di The Ballroom, Djakarta Theater, Iwan menyebut AI cenderung menghasilkan keluaran yang aman dan normatif. “AI itu adalah sosok generalis, dia tahu segala hal tapi dia tidak bisa jadi spesialis karena dia tidak punya bias,” ujarnya.
Keberanian Berbeda Jadi Nilai Pembeda
Pesan utama WOW Brand 2026 adalah branding tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada algoritma. Jika semua keputusan kreatif hanya bergantung pada AI, merek berisiko menjadi terlalu mirip satu sama lain dan kehilangan karakter.
Hermawan Kartajaya, Founder and Chair of MCorp, menegaskan keputusan strategis tetap harus dipegang manusia. Ia menilai teknologi hanya alat bantu, sedangkan arah brand membutuhkan intuisi, keberanian, dan pemahaman kontekstual dari pemasar.
Hermawan juga mengingatkan kembali pentingnya prinsip PDB, yakni Positioning, Differentiation, dan Branding. Menurut dia, pasar tidak selalu menghargai brand yang paling baik secara umum, tetapi lebih menghargai merek yang punya posisi jelas dan berbeda.
Dua Arah Besar Branding di Era AI
Rangkaian WOW Brand 2026 dibagi ke dalam dua sesi panel yang menyoroti dua sisi branding modern. Sesi pertama, “Being More Human in the Age of AI”, membahas bagaimana aspek kemanusiaan bisa menjadi pembeda utama di tengah arus otomasi.
Sesi ini menekankan pentingnya kreativitas, autentisitas, dan kontinuitas pesan untuk menjaga ikatan emosional dengan konsumen. Di tengah banjir konten yang serba cepat, merek yang jujur dan dekat dengan audiens dinilai lebih berpeluang membangun loyalitas jangka panjang.
Sesi kedua, “Being More Advanced in the Age of AI”, mengulas pendekatan yang lebih teknologis. Pembahasannya mencakup data-driven branding, optimalisasi brand experience, dan storytelling berbasis teknologi untuk meningkatkan daya saing.
Poin Penting dari WOW Brand 2026
- AI mempercepat kerja branding, tetapi tidak bisa menggantikan sentuhan manusia.
- Konsumen modern cenderung menyaring pesan yang terlalu rapi dan terlalu promosi.
- Brand otentik yang punya keunikan lebih mudah menonjol di tengah persaingan.
- Positioning, differentiation, dan branding tetap menjadi fondasi utama strategi.
- Data-driven branding perlu berjalan bersama storytelling dan pengalaman merek yang kuat.
Forum ini juga menghadirkan praktisi dari berbagai sektor, mulai dari keuangan, telekomunikasi, FMCG, hingga F&B. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa tantangan branding di era AI tidak hanya milik industri teknologi, tetapi juga relevan bagi hampir semua sektor yang bersaing memperebutkan perhatian konsumen.
Diskusi WOW Brand 2026 sejalan dengan pemaparan konsep Marketing 7.0: A Guide for Thinking Marketeers in the Age of AI yang dirilis secara global pada 7 April di Amerika Serikat. Buku itu memperkuat gagasan bahwa masa depan pemasaran bukan memilih antara manusia atau AI, melainkan menggabungkan keduanya secara seimbang agar brand tetap punya arah, nilai, dan kedekatan dengan konsumen.
Source: www.beritasatu.com