
Warna di Bali diposisikan lebih dari sekadar unsur estetika dalam buku Warna Bali: Ketika Sistem & Pertemuan Menjadi Identitas. Karya ini membaca warna sebagai bagian dari cara masyarakat Bali membangun makna, identitas, dan hubungan dengan kosmologi yang hidup dalam tradisi mereka.
Pendekatan itu membuat buku ini relevan bagi pembaca yang ingin melihat seni rupa Bali dari sudut yang lebih luas. Warna tidak diperlakukan sebagai elemen visual yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bahasa budaya yang terbentuk lewat sejarah, praktik, dan perubahan.
Warna sebagai sistem tanda
Buku ini menegaskan bahwa warna di Bali bekerja sebagai sistem tanda. Dari sana, warna dipakai untuk membaca hubungan manusia, alam, dan kosmos dalam satu rangkaian makna yang saling terhubung.
Gagasan tersebut juga menunjukkan bahwa identitas warna Bali tidak tunggal. Identitas itu lahir dari pertemuan unsur lokal dan global yang kemudian diolah menjadi karakter khas.
Lapisan kosmologi dalam warna
Dimensi spiritual mendapat tempat penting dalam pembahasan buku ini. Merah, putih, dan hitam tidak hanya dijelaskan sebagai pilihan visual, tetapi juga dikaitkan dengan konsep kosmologis seperti Trimurti.
Cara baca itu memperlihatkan bahwa warna dalam budaya Bali menyimpan lapisan filosofis yang kuat. Dalam konteks ini, warna menjadi jembatan antara ekspresi seni dan pandangan masyarakat terhadap tatanan semesta.
Masuk ke praktik seni rupa tradisional
Pembahasan buku bergerak ke wilayah seni rupa tradisional, terutama lukisan Kamasan. Di sana, warna hadir untuk membangun narasi visual yang tertata dan sarat nilai budaya.
Buku ini menyoroti teknik ngampad, yaitu penerapan warna yang menghasilkan lapisan visual gradatif maupun kontras. Teknik ini memperlihatkan bahwa pewarnaan mengikuti logika visual yang terkait dengan penyajian objek dan cerita.
Pada tradisi melukis mata topeng barong, buku ini juga mengulas teknik nguleng. Teknik tersebut berkaitan dengan penggunaan warna tridatu, yaitu merah, putih, dan hitam, yang memiliki muatan filosofis dalam budaya Bali.
Asal bahan warna dan tantangan pelestarian
Buku ini tidak berhenti pada simbol dan teknik. Ia juga menelusuri asal-usul material warna yang bersumber dari alam dan menegaskan bahwa pembuatan warna tradisional memerlukan pengetahuan lokal yang mendalam serta proses yang panjang.
Di sisi lain, buku ini menyoroti ancaman terhadap keberlanjutan praktik tersebut. Kerusakan lingkungan dan eksploitasi sumber daya disebut mulai memengaruhi ketersediaan bahan alami yang menjadi dasar warna tradisional.
Riset, susunan, dan identitas buku
Warna Bali lahir dari riset yang dirangkum Gurat Institute, sehingga pembahasannya melampaui deskripsi visual semata. Buku ini menghubungkan sejarah, praktik seni, dan perubahan sosial dalam satu kerangka yang utuh.
Buku setebal 280 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Susunan penulisnya terdiri atas I Wayan Seriyoga Parta, I Made Susanta Dwitanaya, Dewa Gede Purwita, Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan, dan I Gede Gita Purnama Arsa Putra, dengan penyunting Putu Fajar Arcana.
Ilustrasi sampul dibuat oleh Yusuf Faisal, sedangkan lukisan sampulnya dikerjakan Kadek Sesangka Puja Laksana. ISBN buku ini tercatat 978-623-523-503-5, dan judul lengkapnya menegaskan fokus pada hubungan antara sistem, pertemuan, dan identitas dalam warna Bali.
Source: lifestyle.bisnis.com




