Di Venezuela, media sosial berubah menjadi jalur tercepat untuk mencari kabar korban gempa bumi ketika informasi resmi dinilai belum memberi kepastian. Keluarga korban dan publik lalu membanjiri akun para sukarelawan lapangan demi mendapatkan jawaban yang belum mereka temukan di kanal lain.
Situasi ini menunjukkan betapa besar tekanan informasi saat bencana terjadi. Di tengah kebutuhan akan kabar cepat, data yang belum terverifikasi justru bisa memperbesar kepanikan dan membuat keluarga korban semakin cemas.
Relawan di lapangan ikut terbebani
Salah satu yang merasakan dampak langsung dari arus pertanyaan itu adalah Edwin Borges, pelatih kebugaran yang membantu evakuasi setelah Apartemen Petunia di distrik Los Palos Grandes runtuh. Ia ikut menyingkirkan puing-puing sepanjang hari agar tim penyelamat khusus bisa masuk mencari korban selamat.
Masalah muncul ketika Borges mengunggah aktivitas penyelamatan itu ke Instagram pribadinya. Akunnya kemudian dipenuhi pesan dari keluarga korban yang meminta kepastian tentang nasib kerabat mereka.
Borges menegaskan bahwa sukarelawan tidak punya kapasitas untuk merilis data sensitif, termasuk identitas atau kondisi medis korban. Ia juga mengingatkan bahwa informasi semacam itu seharusnya berasal dari otoritas berwenang, bukan dari relawan yang bekerja di lokasi.
“Semua orang ingin tahu apa yang terjadi, dan sangat sulit untuk memberikan informasi dalam kapasitas kami [sebagai sukarelawan],” kata Borges kepada CNN. Ia menambahkan, “Kenyataannya adalah, kami sejujurnya tidak tahu berapa banyak yang tewas.”
Media sosial jadi rujukan saat kabar resmi belum jelas
Dalam situasi darurat, warga cenderung mencari jalur informasi tercepat, termasuk media sosial. Pola itu menguat ketika sumber resmi belum mampu memberi pembaruan yang dianggap memadai oleh publik.
Di tengah kondisi tersebut, Borges memilih membatasi unggahannya hanya pada apa yang ia lihat saat bekerja di lokasi. Ia tidak mau menyebut nama korban atau membagikan detail pribadi yang bisa memicu kepanikan baru.
“Apa yang bisa saya lakukan hanyalah membagikan apa yang saya lihat,” ujarnya. “Itulah yang kami para sukarelawan lihat, bukan hal-hal spesifik tentang orang-orang.”
Sikap itu juga menjadi cara menjaga privasi korban dan keluarga mereka. Borges menilai penyebaran informasi sensitif dari sumber yang tidak tepat dapat berdampak buruk bagi psikologis keluarga yang masih menunggu kabar.
Ia berulang kali meminta masyarakat menahan diri dan menunggu pembaruan resmi dari pihak terkait. Menurutnya, berita yang disampaikan tanpa kepastian hanya akan menambah luka di tengah situasi yang sudah sangat sulit.
Runtuhan bangunan di Los Palos Grandes memicu operasi besar
Distrik Los Palos Grandes di Karakas menjadi titik perhatian setelah beberapa gedung pencakar langit runtuh. Salah satu lokasi terdampak paling berat adalah kompleks Apartemen Petunia yang menyisakan tumpukan puing besar.
Kejadian itu memicu operasi penyelamatan skala besar dengan keterlibatan tim spesialis dan warga setempat. Di lapangan, para sukarelawan membantu membuka akses bagi tim penyelamat, sementara arus informasi di media sosial terus bergerak tanpa kendali penuh.
| Lokasi | Peristiwa | Dampak | Pihak Terlibat |
|---|---|---|---|
| Los Palos Grandes, Karakas | Beberapa gedung pencakar langit runtuh | Operasi penyelamatan skala besar | Tim spesialis, warga setempat, sukarelawan |
| Apartemen Petunia | Runtuhan bangunan menyisakan puing besar | Akses penyelamatan harus dibuka lebih dulu | Edwin Borges dan para sukarelawan |
Kondisi itu memperlihatkan bahwa manajemen informasi pascabencana bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga ketepatan dan empati. Borges menjadi contoh bagaimana relawan harus menjaga batas peran mereka ketika publik mendesak jawaban yang belum bisa dipastikan.
Source: www.suara.com






