Warga Turun Tangan Kawal Taman Kota, Saat RTH Jakarta Baru 5,31 Persen

Author: Cung Media

Jakarta masih jauh dari target ruang terbuka hijau publik 30 persen. Di tengah kondisi RTH yang baru sekitar 5,31 persen, sebagian warga memilih tidak menunggu dan mulai ikut mengawal taman kota yang tersisa.

Situasi itu membuat taman kota tidak lagi dilihat sekadar urusan penghijauan. Di kota yang padat dan terpapar polusi, ruang hijau ikut menentukan kualitas hidup warga sehari-hari.

Warga menolak taman diperlakukan sebagai isu pinggiran

Koordinator Ayo ke Taman, Akhsan Inantama, menilai keterbatasan kuantitas RTH di Jakarta harus diimbangi dengan suara publik yang lebih kuat. Menurut dia, taman masih kerap dianggap sebagai kebutuhan tersier dan belum menjadi topik serius dalam ruang politik.

Karena itu, komunitas Ayo ke Taman bergerak sejak 2013 untuk mengingatkan bahwa taman bukan sekadar pelengkap kota. Mereka menekankan fungsi sosial taman sebagai kebutuhan warga sehari-hari, bukan hanya ruang pelengkap yang hadir di atas kertas.

Kualitas taman juga belum merata

Masalah Jakarta bukan hanya soal luas RTH yang minim, tetapi juga ketimpangan kualitas taman. Akhsan mencontohkan Tebet Ecopark dan Hutan Kota GBK yang terus menjadi tujuan utama warga.

Di sisi lain, banyak taman di wilayah pinggiran atau bagian belakang kota justru kurang dikenal dan sulit diakses. Akibatnya, kunjungan menumpuk di sedikit titik, sementara taman lain luput dari perhatian.

Kondisi itu menunjukkan bahwa penambahan ruang hijau saja tidak cukup jika akses dan mutu fasilitas tidak ikut dibenahi. Bagi warga, taman yang ada harus terasa berguna, aman, dan mudah dijangkau agar benar-benar hidup.

Dari park mapping hingga festival taman

Ayo ke Taman memilih mengajak warga masuk ke proses penilaian dan pengawasan taman secara langsung. Salah satu cara yang dipakai adalah park mapping, yaitu meninjau fasilitas publik dan melihat langsung kondisi taman di lapangan.

Gagasan utamanya adalah mengubah posisi warga dari konsumen pasif menjadi pihak yang ikut terlibat dalam pengembangan ruang kota. Warga didorong tidak hanya menerima hasil akhir, tetapi juga dilibatkan sejak tahap desain hingga pembangunan taman.

Pelibatan itu kemudian diperluas lewat festival taman. Komunitas tersebut menghadirkan berbagai aktivitas yang tidak biasa dilakukan di taman agar warga punya alasan baru untuk datang dan merasakan fungsi ruang terbuka sebagai ruang ketiga kota.

Strategi ini dipakai untuk membangun kedekatan emosional dengan taman. Ketika warga mengalami langsung manfaatnya, dukungan untuk menjaga dan memperbaiki taman dinilai akan tumbuh lebih kuat.

Keluhan warga disalurkan ke pemerintah

Ayo ke Taman juga mengumpulkan kritik dan masukan warga lewat lembar zine serta diskusi kelompok. Masukan itu mencakup fasilitas, akses, sampai vegetasi yang ada di taman.

Seluruh suara tersebut kemudian dirangkum untuk disalurkan kepada pemerintah daerah. Komunitas ini memosisikan diri sebagai jembatan antara warga dan pihak terkait, termasuk Dinas Pertamanan.

Pemprov DKI disebut berupaya mengoptimalkan lahan kecil dan area kolong tol untuk menambah ruang hijau. Namun, proses pemenuhan target masih panjang dan sering terkendala alasan klasik seperti keterbatasan dana.

Di tengah lambatnya pemenuhan kuantitas ruang hijau, evaluasi berbasis pengalaman warga menjadi cara konkret untuk mengoptimalkan kualitas taman yang sudah ada. Gerakan seperti ini menunjukkan bahwa taman kota bukan hanya urusan pemerintah, melainkan juga hak warga yang perlu dijaga dan diperjuangkan di setiap jengkal kota.

Source: www.suara.com
Terbaru