Wanita Tidur Lebih Lama, Namun Lebih Rentan Insomnia dan Kelelahan

Wanita umumnya tidur lebih lama daripada pria, tetapi durasi tidur yang lebih panjang tidak selalu berarti tubuh pulih lebih baik. Sejumlah studi justru menunjukkan perempuan lebih sering mengalami insomnia, kantuk di siang hari, dan kelelahan meski waktu tidur mereka tampak cukup.

Temuan ini penting karena banyak orang masih mengukur kualitas tidur hanya dari lamanya tidur malam. Padahal, kualitas tidur juga ditentukan oleh seberapa dalam tubuh memasuki fase tidur nyenyak, seberapa sering terbangun, dan bagaimana kondisi tubuh terasa saat bangun keesokan harinya.

Durasi lebih panjang, tetapi pemulihan belum tentu optimal

Penelitian yang dirujuk dalam artikel referensi menyebut wanita rata-rata tidur sekitar 11 menit lebih lama setiap malam dibanding pria. Namun, selisih waktu itu tidak otomatis membuat tidur menjadi lebih memulihkan, terutama bila tidur mudah terputus atau tidak mencapai fase tidur dalam yang stabil.

Kualitas tidur juga dipengaruhi oleh konsistensi siklus tidur. Jika seseorang tidur lebih lama tetapi sering terbangun, tubuh tetap bisa merasa lelah, sulit fokus, dan kurang segar saat beraktivitas.

Insomnia lebih sering dialami wanita

Data yang dikutip menunjukkan wanita 40% hingga 60% lebih rentan mengalami insomnia dibanding pria. Sekitar 17% wanita dilaporkan mengalami kesulitan tidur, sementara pada pria angkanya sekitar 12%.

Hampir 21% wanita juga kesulitan mempertahankan tidur sepanjang malam. Kondisi ini menunjukkan masalah tidur pada perempuan tidak hanya terkait kesulitan mulai tidur, tetapi juga sulit kembali tidur setelah terbangun di tengah malam.

Mengapa tubuh wanita lebih mudah lelah

Para ahli menilai ritme sirkadian atau jam biologis tubuh ikut berperan besar. Pada wanita, ritme ini cenderung lebih pendek karena pengaruh hormon dan suhu tubuh, sehingga mereka lebih cepat mengantuk dan lebih cepat bangun.

Saat rutinitas kerja, pengasuhan anak, atau tanggung jawab rumah tangga membuat jam tidur bergeser, tubuh bisa mengalami “jet lag sosial”. Kondisi ini muncul ketika jam biologis tidak selaras dengan jadwal harian, lalu memicu rasa lelah yang menumpuk.

Peran hormon dan tekanan hidup

Beban mental, stres, kecemasan, serta tekanan pengasuhan sering memengaruhi tidur wanita. Dalam beberapa kasus, sindrom kaki gelisah juga dapat mengganggu kenyamanan tidur dan membuat tubuh sulit benar-benar rileks.

Perubahan hormonal punya dampak besar, terutama saat kehamilan, setelah melahirkan, serta pada masa perimenopause dan menopause. Pada fase-fase ini, keringat malam, perubahan suhu tubuh, dan tidur yang terputus lebih mudah muncul.

Tanda kualitas tidur perlu dipantau

Ahli dari Universitas Stanford, Natalie Solomon, menegaskan bahwa wanita lebih terdampak oleh kurang tidur dibanding pria. Artinya, gangguan tidur pada perempuan lebih cepat terlihat pada energi, konsentrasi, dan suasana hati.

Berikut tanda yang perlu diperhatikan:

  1. Masih mengantuk saat siang hari
  2. Sulit fokus saat bekerja atau beraktivitas
  3. Tubuh terasa lelah meski tidur cukup lama
  4. Sering terbangun dan sulit tidur lagi
  5. Bangun pagi dalam kondisi tidak segar

Para ahli menyarankan perbaikan pola tidur dimulai dari langkah sederhana, seperti memajukan jam tidur 15 menit secara bertahap, mengurangi kafein dan alkohol pada malam hari, serta menjaga kamar tetap sejuk, gelap, dan tenang.

Jika keluhan berlangsung lama, evaluasi medis perlu dilakukan karena gangguan tidur kronis merupakan kondisi yang bisa ditangani, bukan sesuatu yang harus dibiarkan.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version