Volkswagen melihat masa depan mobil bensin makin sempit. Dalam proyeksi yang disorot perusahaan asal Jerman itu, mobil konvensional hanya akan menyumbang sekitar 3 persen dari total penjualan mobil dunia pada 2035.
Angka itu menunjukkan perubahan besar di industri otomotif global. Mobil listrik dan hybrid terus mengambil porsi pasar, sementara banyak pabrikan ikut berlomba menawarkan model yang lebih terjangkau agar tetap kompetitif.
Mobil Ramah Lingkungan Makin Menekan Mobil Konvensional
Bagi Volkswagen, pergeseran ini sudah terlihat jelas dari arah pasar di berbagai negara. Line-up listrik ID menjadi salah satu andalan mereka di pasar global, dan penerimaannya disebut cukup baik di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Saat ini Volkswagen baru menjual satu model BEV, yaitu ID Buzz. Meski pilihannya masih terbatas, model tersebut sudah mendapat sambutan positif di pasar yang dijangkaunya.
Perusahaan itu menilai penurunan mobil bermesin konvensional tidak terjadi tiba-tiba. Minat konsumen pada mobil listrik dan hybrid terus naik, sehingga penjualan mobil bensin diperkirakan turun dari tahun ke tahun.
China dan Eropa Jadi Kunci Perubahan
Salah satu faktor terbesar datang dari China. Penjualan mobil listrik di negara itu disebut menurun setelah insentif BEV dihapus mulai awal tahun ini, dan banyak konsumen beralih ke mobil hybrid atau jenis serupa.
Karena China adalah pasar dengan penjualan terbesar di dunia, perubahan arah di sana bisa berdampak ke angka global secara keseluruhan. Situasi di Eropa juga ikut memperkuat tren itu.
Di kawasan tersebut, konsumen disebut mulai memilih mobil hybrid karena harga BEV dinilai terlalu mahal untuk sebagian pembeli. Di saat yang sama, pabrikan China agresif menawarkan BEV murah, meski laju mereka tidak selalu mulus karena sejumlah pemerintah mencegah masuknya mobil murah dari China ke pasar domestik.
Infrastruktur Masih Jadi Penghambat
Prediksi Volkswagen juga bergantung pada kesiapan infrastruktur di tiap negara. Jika stasiun pengisian daya baterai masih terbatas, elektrifikasi kendaraan sulit berjalan cepat.
Indonesia disebut sudah masuk tahap lanjutan elektrifikasi di pasar roda empat, tetapi penjualan di dalam negeri belum mampu melampaui BEV secara keseluruhan. Kondisi ini menunjukkan transisi menuju mobil ramah lingkungan masih berjalan tidak merata.
Di satu sisi, minat konsumen memang naik. Di sisi lain, ekosistem pendukungnya belum seragam di semua pasar, sehingga adopsi kendaraan listrik tidak bergerak dengan kecepatan yang sama.
Pabrikan Lain Juga Mengubah Strategi
Volkswagen bukan satu-satunya produsen yang membaca ulang arah pasar. Honda disebut menghentikan pengembangan sejumlah mobil listrik terbarunya setelah memperkirakan potensi kerugian dari model tersebut.
Honda tetap menjual BEV, tetapi jumlahnya tidak sebanyak yang semula diperkirakan. Pabrikan asal Jepang itu juga berencana terus memperluas lini mobil hibrida.
Langkah itu memperlihatkan bahwa industri otomotif belum bergerak dengan satu jalur yang seragam. Sebagian merek masih memandang mobil listrik sebagai masa depan, sementara yang lain memperbesar porsi hybrid karena dianggap lebih aman secara bisnis.
Volkswagen Masih Punya Tantangan di Pasar Tertentu
Di tengah optimisme soal mobil ramah lingkungan, Volkswagen juga menghadapi pekerjaan rumah sendiri. Saat merek China ramai menjual mobil listrik murah di Indonesia, merek Eropa justru jarang membawa model serupa ke pasar ini.
Kebanyakan model Eropa yang masuk berada di kelas mobil mewah dengan harga lebih tinggi dari kompetitor asal China. Akibatnya, peluang menembus pasar entry level menjadi semakin sulit karena segmen itu sudah lebih dulu dikuasai pemain lain.
Volkswagen juga dinilai perlu memperluas lini mobil listriknya jika ingin menaikkan penjualan BEV secara signifikan. Saat ini baru ada satu model yang dijual, dan posisinya masih berada di kelas yang jauh dari segmen terjangkau.
Source: ridertua.com






