Vivo Pad 5c datang dengan ambisi yang jelas: membuat tablet kelas menengah terasa jauh lebih dekat ke perangkat premium. Kombinasi layar 2.8K 144Hz, Snapdragon 8s Gen 3, dan baterai besar membuat perangkat ini menonjol di pasar tablet Android yang makin ramai.
Yang menarik, Vivo tidak hanya menjual Pad 5c sebagai perangkat untuk hiburan. Tablet ini juga diposisikan untuk kerja, belajar, dan multitasking, dengan sejumlah fitur AI yang diarahkan ke produktivitas harian.
Layar Besar Untuk Kerja Dan Hiburan
Vivo Pad 5c menggunakan panel LCD 12,1 inci dengan resolusi 2.8K. Layar ini ditujukan untuk memberi tampilan yang tajam saat dipakai menonton, membaca, atau mengedit dokumen.
Refresh rate 144Hz membuat gerakan di layar terasa lebih mulus, termasuk saat scrolling dan bermain gim. Tingkat kecerahan puncak 900 nits juga membantu penggunaan di luar ruangan atau di bawah cahaya terang.
Dengan ukuran layar sebesar ini, tablet tersebut cocok dipakai untuk presentasi, rapat daring, dan kebutuhan multitasking. Vivo tampaknya ingin membuat Pad 5c nyaman digunakan dalam skenario kerja sekaligus hiburan.
Performa Yang Jarang Ada Di Kelas Menengah
Di sektor dapur pacu, Vivo membekali tablet ini dengan Qualcomm Snapdragon 8s Gen 3. Chipset itu dipasangkan dengan RAM LPDDR5X hingga 12GB dan penyimpanan UFS 4.1 sampai 256GB.
Kombinasi tersebut membuat Vivo Pad 5c sanggup menjalankan aplikasi berat, multitasking, dan editing ringan dengan lancar. Untuk pengguna gim, performa grafisnya juga diarahkan agar lebih stabil dibanding tablet kelas menengah biasa.
Vivo turut menanamkan sistem pendingin vapour chamber berukuran 32.200 mm². Pendingin ini membantu menjaga suhu tetap terkendali saat tablet dipakai dalam durasi panjang.
Fokus AI Untuk Produktivitas
Vivo Pad 5c menjalankan OriginOS 6 berbasis Android 16. Sistem ini dibekali sejumlah fitur AI yang dirancang untuk mendukung pekerjaan sehari-hari.
Salah satu fiturnya adalah AI PPT Assistant yang membantu menyusun presentasi lebih cepat. Ada juga Vivo File Transfer untuk memudahkan perpindahan data antarperangkat, serta floating window untuk multitasking yang lebih efisien.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Vivo tidak hanya mengejar performa mentah. Perusahaan juga mencoba memberi pengalaman kerja yang lebih cerdas dan fleksibel lewat software yang disematkan di dalamnya.
Baterai Besar, Pengisian Cukup Cepat
Soal daya, Vivo Pad 5c membawa baterai 10.100mAh. Kapasitas ini ditujukan agar pengguna bisa memakai tablet seharian tanpa terlalu sering mencari colokan.
Untuk pengisian ulang, Vivo menyertakan fast charging 44W. Fitur ini membuat proses isi daya lebih singkat saat baterai mulai menipis.
Efisiensi Snapdragon 8s Gen 3 juga ikut membantu daya tahan perangkat. Kombinasi baterai besar dan chipset hemat daya membuat tablet ini terasa siap dipakai bekerja dalam durasi panjang.
Fitur Pendukungnya Tidak Sekadar Pelengkap
Di bagian kamera, Vivo menyematkan kamera belakang 8MP dan kamera depan 5MP. Susunan ini sudah cukup untuk konferensi video dan kebutuhan dasar lainnya.
Tablet ini juga dibekali empat speaker stereo, Wi-Fi 6, Bluetooth 5.4, USB Type-C, jack audio 3,5 mm, dan Face Unlock. Vivo turut menyiapkan dukungan untuk Vivo Pencil 3 dan Vivo Smart Touch Keyboard 5 agar perangkat bisa digunakan seperti laptop ringan.
Secara fisik, Vivo Pad 5c hadir dengan ketebalan 6,62 mm dan bobot sekitar 584 gram. Ukuran ini membuatnya masih cukup nyaman dibawa bepergian meski mengusung layar besar dan baterai berkapasitas besar.
Harga Dan Varian Vivo Pad 5c
| Varian | Memori | Harga |
|---|---|---|
| Model dasar | 8GB/128GB | 2.699 yuan |
| Varian menengah | 8GB/256GB | 2.999 yuan |
| Model tertinggi | 12GB/256GB | 3.499 yuan |
Tablet ini tersedia dalam pilihan warna Blue, Green, dan Grey. Penjualannya baru dibuka melalui kanal resmi Vivo di China, sementara jadwal peluncuran global belum diumumkan.
Dengan layar 2.8K 144Hz, Snapdragon 8s Gen 3, baterai 10.100mAh, dan fitur AI yang lebih matang, Vivo Pad 5c tampil sebagai tablet menengah yang mendekati kelas flagship. Kehadirannya memperlihatkan bahwa batas antara perangkat hiburan dan alat produktivitas makin tipis.







