Perjalanan solo riding Jakarta-Dieng dengan motor dua tak kembali menarik perhatian karena bukan hanya soal menuntaskan jarak panjang. Di balik rute ratusan kilometer itu, ada cerita seorang pemotor yang mencoba berdamai dengan trauma setelah hampir lima tahun vakum dari solo touring.
Momen yang paling membekas justru muncul ketika rute menuju Dieng membawanya ke jalur Guci. Di tengah jalur panjang dari Jakarta, kawasan pegunungan itu memberi suasana yang berbeda lewat hutan pinus, udara sejuk, dan tanjakan panjang yang membuat perjalanan terasa lebih segar.
Perjalanan dimulai dari Jakarta pukul 05.00 pagi dengan motor bernama Kancil. Keberangkatan dini dipilih untuk menghindari kepadatan di Bekasi, Karawang, hingga Cikarang yang disebut bisa memakan waktu sampai empat jam jika terlambat keluar dari wilayah Jabodabek.
Tantangan muncul bahkan sebelum perjalanan benar-benar jauh. Motor sempat kehabisan bensin sebelum mencapai SPBU, lalu seorang pengendara lain memberi bantuan bensin darurat di kawasan Jakarta.
Rute panjang lewat Pantura
Rute yang ditempuh melintasi Pantura melalui Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon, dan Brebes, lalu berlanjut ke jalur pegunungan Guci menuju Wonosobo. Total perjalanan disebut mencapai lebih dari 400 kilometer sebelum tiba di kawasan tujuan.
Sepanjang perjalanan, motor dua tak itu beberapa kali berhenti untuk mengisi bahan bakar. Konsumsi bensinnya berada di kisaran 5 liter untuk 100 kilometer, atau sekitar 20 kilometer per liter.
Angka itu dinilai masih tergolong irit untuk mesin dua tak. Catatan efisiensi menjadi penting karena perjalanan jauh seperti ini menuntut perencanaan bahan bakar yang cermat, terutama saat melintasi antarkota dan pegunungan.
Pantura sendiri memberi tantangan tersendiri. Jalan bergelombang, tambalan aspal, lalu lintas truk besar, hingga permukaan licin akibat sayuran di pasar tradisional menjadi bagian dari perjalanan sebelum memasuki kawasan yang lebih sejuk.
Di Cirebon, perjalanan sempat diselingi istirahat kuliner. Rider berhenti untuk menikmati empal gentong dan sate lontong sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Jawa Tengah.
Ia juga sengaja meneruskan perjalanan pada siang hari agar panorama jalur pegunungan terlihat lebih jelas. Keputusan itu kemudian menghadirkan pengalaman visual yang jauh lebih kuat saat rute mulai menanjak menuju kawasan Guci.
Jalur Guci jadi bagian paling berkesan
Setelah keluar dari Brebes, Google Maps membawa rider menuju jalur Guci. Alih-alih dianggap memutar, rute ini justru menjadi salah satu bagian favorit karena menawarkan suasana yang sangat berbeda dari ruas utama Pantura.
Hutan pinus, udara pegunungan yang sejuk, dan tanjakan panjang membuat jalur itu terasa lebih hidup. Sang rider mengaku tidak menyesal melewati Guci karena pemandangannya membuat mata terasa segar kembali.
Peralihan suasana itu menjadi titik penting dalam perjalanan. Dari jalur datar yang padat kendaraan berat, touring berubah menjadi pengalaman yang lebih tenang dan penuh lanskap alam.
Bagi penonton vlog, jalur Guci bukan hanya jalan alternatif. Rute itu menjadi bagian yang memberi nilai emosional sekaligus visual paling kuat dalam perjalanan menuju Dieng.
Dieng hadir dengan kabut dan dingin
Memasuki Wonosobo hingga Dieng, suasana kembali berubah drastis. Udara dingin, kabut tebal, dan hamparan pertanian di lereng bukit membuat perjalanan terasa seperti masuk ke lanskap yang berbeda sepenuhnya.
Rider beberapa kali menghentikan motor hanya untuk menikmati pemandangan dan merekam lanskap alam. Ia juga mengajak penonton agar tidak hanya melihat keindahan Dieng dari YouTube, melainkan datang langsung untuk menyaksikannya sendiri.
Perjalanan menuju titik nol Dieng dipenuhi kebun sayur bertingkat, lembah berkabut, dan jalur menanjak yang cukup ekstrem. Meski begitu, motor dua tak yang digunakan tetap mampu melewati tanjakan dengan lancar karena sudah disetel untuk tenaga bawah.
Pengalaman di pegunungan ini disebut jauh lebih menyenangkan dibandingkan jalur Pantura. Kombinasi tanjakan, udara dingin, dan panorama alam memberi sensasi touring yang lebih utuh daripada sekadar perjalanan lurus jarak jauh.
Suhu dingin Dieng juga memberi tantangan fisik. Dalam perjalanan itu, rider sempat menggigil karena hanya mengenakan rompi dan kaus tipis, sementara kabut tebal mulai turun menjelang malam.
Perjalanan untuk melawan trauma
Di balik touring panjang ini, ada cerita personal yang membuatnya terasa lebih kuat dari sekadar konten otomotif. Sang rider mengaku hampir lima tahun tidak melakukan solo touring akibat pengalaman buruk di perjalanan sebelumnya.
Touring Jakarta-Dieng kali ini menjadi cara untuk membuktikan bahwa trauma tidak harus terus diikuti. Perjalanan itu menjadi upaya memerdekakan diri dari ketakutan lama sambil kembali menikmati passion berkendara.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 13 jam, ia akhirnya tiba di Wonosobo menjelang magrib. Rider kemudian beristirahat di rumah saudaranya sebelum melanjutkan eksplorasi Dieng pada keesokan hari.
Kisah ini menunjukkan bahwa touring motor tidak selalu soal cepat sampai di tujuan. Yang paling menonjol justru cara menikmati jalan, lanskap alam, dan momen kecil di sepanjang perjalanan, termasuk saat jalur Guci tak terduga menjadi bagian yang paling membekas.







