Uzbekistan akhirnya menembus Piala Dunia putra untuk pertama kalinya dan masuk sebagai salah satu kisah paling tak terduga di turnamen itu. Di balik kelolosan bersejarah ini, ada proyek panjang yang dibangun lewat pembinaan usia muda, investasi negara, dan perubahan arah politik di bawah Shavkat Mirziyoyev.
Kualifikasi ini juga punya arti khusus karena Uzbekistan menjadi negara Asia Tengah pertama yang berhasil mencapai putaran final. Selama bertahun-tahun, sepak bola lokal berada di pinggiran, tetapi hasil-hasil terbaru mengubah posisinya secara drastis.
Dari negara yang lama terisolasi ke panggung dunia
Sebelum 1991, Uzbekistan masih bagian dari Uni Soviet dan lama terisolasi secara politik maupun diplomatik. Dalam sepak bola, perannya juga sekadar pelengkap, dengan sangat sedikit pemain yang mampu menembus tim nasional Soviet dan tak ada yang pernah tampil di Piala Dunia.
Perubahan mulai terlihat ketika pemerintah memberi perhatian lebih besar pada olahraga, terutama pembinaan pemain muda. Sejak 2016, negara itu dipimpin Shavkat Mirziyoyev, yang tetap mempertahankan sistem otoriter tetapi membuka Uzbekistan lebih lebar ke hubungan dengan negara Barat, pariwisata, dan investor asing.
Generasi muda jadi fondasi utama
Hasil paling kuat datang dari tim-tim junior. Uzbekistan menjuarai Piala Asia U-20 pada 2023, menembus final Piala Asia U-23 pada 2024, dan merebut Piala Asia U-17 pada 2025.
Tim U-23 juga tampil di Olimpiade Paris 2024, saat tim itu dilatih Timur Kapadze antara 2022 dan 2024. Kapadze kemudian naik ke tim nasional senior setelah meninggalkan jejak penting di level usia muda.
Nama-nama baru ikut menguatkan proyek ini. Abdukodir Khusanov, bek berusia 22 tahun, dibeli Manchester City senilai 40 juta euro pada 2025.
Di lini depan, ada Eldor Shomurodov yang menjadi kapten tim nasional dan dikenal paling luas di Italia. Ia kini milik Roma namun dipinjamkan ke Istanbul Başakşehir, tempat ia mencetak 21 gol dalam 33 pertandingan.
Cannavaro datang setelah tiket sudah di tangan
Fabio Cannavaro baru datang ketika kelolosan ke Piala Dunia sudah dipastikan. Penunjukannya pada Oktober 2025 banyak dikaitkan dengan pengalamannya di Asia, setelah pernah melatih di China dan Arab Saudi antara 2014 dan 2019.
Jejak kepelatihannya di Eropa tidak sekuat reputasinya sebagai pemain. Dari 2022 hingga 2025, ia menangani Benevento, Udinese, dan Dinamo Zagreb tanpa hasil yang menonjol.
Kapadze memang tersingkir dari jabatan pelatih kepala, tetapi tetap bekerja bersama Cannavaro. Pilihan mendatangkan nama sebesar Cannavaro juga memberi nilai simbolis karena reputasinya masih sangat kuat di dunia sepak bola.
Sepak bola, citra negara, dan tuduhan sportwashing
Sepak bola di Uzbekistan kini juga menjadi alat diplomasi dan pencitraan internasional. Karena itu, muncul tuduhan sportwashing, sebab pemerintah menggelontorkan investasi olahraga sambil mempertahankan struktur politik yang otoriter.
Federasi sepak bola direformasi besar-besaran pada 2018 dan kini praktis dikendalikan oleh elite militer. Presidennya adalah Bakhodir Kurbanov, yang juga memimpin dinas intelijen.
Di sisi infrastruktur, proyek terbesar adalah stadion berkapasitas 50.000 penonton di New Tashkent, dengan biaya sekitar 100 juta euro. Pemerintah ingin menjadikannya salah satu stadion sepak bola paling maju di Asia.
Ambisi yang melampaui sepak bola
Uzbekistan juga berusaha menampilkan diri lewat hasil olahraga lain. Di Olimpiade Paris, kontingen mereka mencatat raihan terbaik sepanjang sejarah dengan 13 medali total dan 8 emas, hampir semuanya dari cabang bela diri.
Mirziyoyev mengaitkan capaian itu dengan gagasan “Nuovo Uzbekistan”, slogan yang kerap dipakai pemerintah. Saat tim nasional memastikan tiket ke Piala Dunia 2026, ia mengatakan keberhasilan itu akan membantu «memperkuat otoritas internasional Nuovo Uzbekistan».
Di luar olahraga, profil ekonomi negara ini juga berubah. Jika dulu ekonomi sangat bergantung pada kapas, kini Uzbekistan termasuk eksportir utama emas, tembaga, dan gas alam, sementara Bank Dunia menempatkannya di antara ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Eurasia.
Ujian berikutnya di panggung Piala Dunia
Tim asuhan Cannavaro sudah menjalani beberapa laga uji coba dengan hasil yang cukup meyakinkan. Mereka menang atas Kuwait, Mesir, dan Gabon, bermain imbang melawan Iran dan Venezuela, lalu kalah dari Uruguay, Kanada, dan Belanda.
Laga pertama di Piala Dunia akan mempertemukan Uzbekistan dengan Kolombia, disusul Portugal dan Republik Demokratik Kongo. Lolos dari fase grup memang tidak mudah, tetapi perjalanan Uzbekistan sudah menunjukkan proyek jangka panjang yang bertumpu pada generasi muda, infrastruktur, dan ambisi politik negara.
Source: www.ilpost.it






