Usai Grab-Gojek Hapus Paket Hemat, Driver Bongkar Yang Paling Terasa Di Lapangan

Author: Cung Media

Keputusan Grab dan Gojek menghapus paket hemat driver langsung memunculkan satu pertanyaan yang paling terasa di lapangan: apa yang sebenarnya berubah bagi pengemudi. Dari keterangan sejumlah driver, dampaknya belum terasa merata karena sebagian sudah mendengar kabar itu, sementara sebagian lain belum menerima pemberitahuan resmi.

Namun, perhatian terbesar justru bukan pada penghapusan paketnya semata, melainkan pada cara skema hemat selama ini memengaruhi pendapatan harian. Para pengemudi menilai beban potongan bisa berbeda jauh tergantung jumlah trip dan jam kerja, sehingga efeknya terasa lebih berat bagi driver yang tidak bekerja penuh waktu.

Potongan yang dirasakan driver tidak sama

Seorang pengemudi menjelaskan, untuk 1-2 trip, potongan yang dikenakan sekitar Rp 3 ribu. Ketika perjalanan meningkat menjadi 10-20 trip, potongan pendapatan bisa naik sampai Rp 20 ribu.

Bagi driver yang aktif sejak pagi hingga malam, potongan itu masih dianggap sepadan karena pemasukan juga lebih besar. Sebaliknya, pengemudi yang hanya turun beberapa jam, terutama pada sore hari, merasa skema itu lebih memberatkan.

Ada juga driver yang menilai paket hemat justru kurang cocok bila mulai bekerja sekitar pukul 5 sore. Dalam kondisi itu, layanan standar dianggap lebih aman karena potongan bisa terasa berat saat pendapatan belum terkumpul banyak.

Keluhan paling besar datang dari pengemudi paruh waktu

Di lapangan, banyak pengemudi melihat daya tarik utama layanan hemat tetap berada pada banyaknya order yang masuk. Meski begitu, kewajiban membayar setelah beberapa kali order membuat sebagian driver menilai skema itu tidak ideal untuk semua orang.

Keluhan paling kuat datang dari mereka yang bekerja tidak penuh waktu. Dengan trip yang terbatas, potongan dinilai menggerus hasil bersih, apalagi jika masih harus menanggung biaya bensin dan makan.

Karena alasan itu, sejumlah driver justru menyambut baik jika layanan hemat dihapus sepenuhnya. Dukungan tersebut juga dikaitkan dengan perubahan bagi hasil terbaru yang diumumkan pemerintah pada Mei lalu.

GoTo ubah skema GoRide Hemat

GoTo sudah mengumumkan penghentian skema langganan untuk mitra pengemudi pada GoRide Hemat. Skema baru yang dipakai mengikuti sistem bagi hasil seperti GoRide reguler dengan besaran 8%.

Sebelumnya, layanan hemat menggunakan sistem berlangganan dan pengemudi membayar biaya tertentu. Setelah kebijakan baru berlaku, skema lama tidak lagi digunakan dan diganti menjadi sistem komisi.

Direktur Utama/CEO GoTo Hans Patuwo mengatakan program langganan dihapus setelah evaluasi. Perusahaan menilai skema tersebut harus memberi keseimbangan yang lebih baik bagi kesejahteraan mitra pengemudi.

Perubahan itu juga akan memengaruhi tarif konsumen, khususnya untuk GoRide Hemat. GoTo memastikan penyesuaian harga dilakukan sangat terbatas dan tetap menjaga keterjangkauan bagi masyarakat.

Grab ikut menutup program langganan

Grab Indonesia mengambil langkah serupa dengan menutup Program Langganan Akses hemat untuk GrabBike atau pengemudi roda dua. Perusahaan menyebut kebijakan itu dilakukan karena perlu penyesuaian yang lebih baik.

Bagi konsumen, GrabBike Hemat tetap tersedia. Namun, tarifnya juga akan menyesuaikan dengan penekanan pada keterjangkauan bagi masyarakat.

Hingga kini, belum ada penjelasan lebih lanjut soal kapan dan bagaimana kebijakan itu diterapkan secara teknis. Di sisi pengemudi, kondisi masih menunjukkan gambaran yang bercampur karena sebagian belum menerima pemberitahuan jelas, sementara sebagian lain sudah lebih dulu merasakan arah perubahan kebijakan tersebut.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru