Uji Rudal Balistik China di Pasifik Bikin AS Waspada, Bayang-Bayang Nuklir Menguat

Author: Cung Media

Uji coba rudal balistik China dari kapal selam bertenaga nuklir memicu alarm baru di Washington. Amerika Serikat menilai langkah itu sangat mengkhawatirkan karena menunjukkan percepatan kemampuan nuklir Beijing yang berlangsung cepat dan tidak transparan.

Peluncuran yang dipantau AS itu terjadi di lepas Samudera Pasifik dan disebut jatuh di kawasan selatan samudera tersebut. Pemerintah AS kemudian mendesak China menahan laju proliferasi senjata nuklir dan membuka pembahasan pengendalian senjata yang lebih bermakna.

Washington menekan soal transparansi

Departemen Luar Negeri AS menilai negara-negara besar seharusnya memiliki mekanisme pemberitahuan yang jelas sebelum meluncurkan rudal maupun wahana antariksa. Washington menegaskan komitmen seperti itu sudah dijalankan oleh Inggris, Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat sebagai empat anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Dalam pandangan AS, uji coba tersebut bukan sekadar latihan rutin. Perkembangan kemampuan nuklir China yang cepat dinilai dapat memicu kekhawatiran lebih luas, baik di kawasan Asia-Pasifik maupun di tingkat global.

Versi Beijing, latihan tahunan dan bukan untuk negara tertentu

Militer dan media pemerintah China menyebut peluncuran itu sebagai bagian dari latihan militer tahunan angkatan laut. Beijing juga menegaskan uji coba tersebut tidak ditujukan kepada negara tertentu dan dilakukan sesuai hukum internasional.

China mengatakan rudal itu jatuh di wilayah perairan yang sudah ditentukan. Media resmi partai, Global Times, bahkan menulis bahwa semakin kuat kekuatan nuklir strategis China akan semakin menjamin perdamaian kawasan.

Sorotan pada rudal JL-3

Global Times mengutip pandangan sejumlah pakar yang meyakini rudal yang diuji adalah JL-3. Rudal ini disebut pertama kali diperkenalkan kepada publik dalam parade militer besar di Beijing pada peringatan 80 tahun penyerahan resmi Jepang pada Perang Dunia II.

Menurut laporan itu, JL-3 memiliki jangkauan lebih dari 10.000 kilometer. Artinya, rudal tersebut berpotensi menjangkau sebagian wilayah daratan Amerika Serikat jika diluncurkan dari perairan pesisir China.

Lyle Morris, mantan pejabat pertahanan AS yang kini menjadi peneliti senior di Center for China Analysis, Asia Society Policy Institute, menilai uji coba itu menandai perkembangan penting. Ia menyebut peluncuran dengan jangkauan seperti itu menunjukkan China tengah membangun kemampuan penangkalan nuklir berbasis laut yang lebih tahan bertahan dan memiliki jangkauan lebih jauh.

Dampak ke kawasan dan hubungan Washington-Beijing

Pernyataan AS menambah daftar negara yang menyampaikan keprihatinan atas uji coba tersebut. Australia, Jepang, dan sejumlah negara lain sebelumnya juga sudah mengkritik langkah China.

Di saat yang sama, isu ini muncul ketika hubungan Washington dan Beijing sedang diupayakan agar lebih stabil di tengah persaingan geopolitik yang masih berlangsung. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping disebut sama-sama berusaha menjaga jalur komunikasi, termasuk dengan rencana pertemuan di Gedung Putih pada 24 September mendatang.

Washington tidak menjelaskan apakah pihaknya menerima pemberitahuan sebelum peluncuran rudal dilakukan. Namun tekanan diplomatik yang muncul menunjukkan uji coba China dibaca sebagai sinyal strategis, bukan hanya latihan militer biasa.

Source: www.viva.co.id
Terbaru