Tumbal Proyek dan Bayang-Bayang Suramadu, Saat Horor Menggali Luka Pembangunan

Trailer film Tumbal Proyek resmi dirilis dan langsung menarik perhatian karena membawa nuansa horor-mistis yang lekat dengan legenda urban tumbal proyek. Cerita ini juga ikut menyeret ingatan publik pada kisah yang kerap dikaitkan dengan pembangunan Jembatan Surabaya-Madura atau Suramadu.

Film tersebut tidak sekadar menawarkan teror visual, tetapi juga menggali rasa takut yang muncul dari hal-hal yang belum terjawab. Di titik itu, Tumbal Proyek membangun ketegangan lewat pertanyaan tentang kebenaran di balik cerita tumbal yang selama ini hanya beredar sebagai obrolan masyarakat.

Mitos yang lama hidup di tengah publik

Fenomena tumbal proyek sudah lama menjadi bahan pembicaraan di berbagai ruang percakapan. Namun, kisah semacam itu jarang diangkat secara serius dalam film layar lebar yang mencoba membaca sisi gelap dari pembangunan besar.

Sutradara Jeropoint menyebut ide film ini berawal dari diskusi dengan produser Dheeraj Kalwani. Keduanya melihat ada ruang untuk mengolah tema yang akrab di telinga publik, tetapi belum banyak disentuh dengan pendekatan naratif yang lebih dalam.

Jeropoint menilai daya tarik utama cerita ini justru terletak pada pertanyaan yang terus menggantung. Keraguan tentang apakah kisah itu nyata, bagaimana bentuk kejadiannya, dan seberapa besar dampaknya menjadi sumber ketegangan yang ingin dihidupkan di layar.

Pencarian kebenaran di balik proyek besar

Alur cerita film ini berpusat pada tokoh Yuda yang diperankan Kiesha Alvaro. Karakter itu digambarkan berusaha mencari jawaban atas kematian ayahnya, lalu masuk ke dalam proyek besar yang menyimpan rahasia kelam.

Perjalanan Yuda menjadi pintu masuk bagi penonton untuk mengikuti lapisan misteri yang muncul sedikit demi sedikit. Jeropoint menjelaskan bahwa rasa takut dalam film dibangun dari situasi ketika seseorang tidak tahu apa yang menunggu di depan.

Pendekatan seperti itu membuat horor dalam Tumbal Proyek tidak hanya bertumpu pada kejutan. Ketegangan juga lahir dari proses pencarian jawaban yang pelan-pelan membuka kemungkinan adanya sesuatu yang jauh lebih gelap di balik pembangunan.

Drama keluarga memperkuat horor

Selain Kiesha Alvaro, film ini juga dibintangi Callista Arum dan Karina Suwandi. Keberadaan para pemeran tersebut ikut memperkuat unsur drama keluarga yang berjalan di tengah cerita penuh misteri.

Perpaduan horor, misteri, dan emosi menjadi fokus yang ingin dijaga tim produksi. Hasilnya, film ini tidak hanya bergerak dalam ruang teror, tetapi juga memotret beban personal yang menempel pada tokoh utamanya.

Dengan pendekatan itu, ancaman dalam cerita terasa lebih dekat karena hadir bersama konflik internal yang dialami para karakter. Situasi tersebut membuat pengalaman menonton tidak semata menunggu adegan menegangkan, tetapi juga mengikuti luka yang dibawa para tokohnya.

Suramadu dibangun ulang untuk kebutuhan film

Salah satu tantangan besar produksi datang dari upaya menghadirkan latar pembangunan Jembatan Suramadu sebelum diresmikan. Untuk mewujudkannya, tim produksi membangun replika jembatan dan memanfaatkan CGI tingkat tinggi agar tampil meyakinkan.

Jeropoint menyebut film ini menampilkan fase pembangunan jembatan dari nol hingga mendekati tahap akhir. Visual tersebut disiapkan untuk mendukung suasana cerita sekaligus menjaga kesan realistis dari proyek raksasa yang menjadi pusat konflik.

Penggunaan latar tersebut menegaskan bahwa proyek pembangunan tidak hanya diposisikan sebagai elemen visual. Dalam film ini, Suramadu hadir sebagai ruang tempat misteri, ketakutan, dan pencarian kebenaran bertemu dalam satu cerita.

Film Tumbal Proyek dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 13 Mei 2026. Dengan menggabungkan mitos urban, drama keluarga, dan atmosfer pembangunan besar, film ini menempatkan kisah Suramadu sebagai latar horor yang sarat pertanyaan dan terus memancing rasa penasaran.

Source: www.medcom.id
Terkait