Tsunami Kecil Usai Gempa M7,7 Filipina, 9 Wilayah Indonesia Terdeteksi Gelombang

Author: Cung Media

Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Filipina sempat memicu kepanikan karena berdampak hingga ke perairan Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami setelah pantauan menunjukkan gelombang yang muncul masih berada pada kategori rendah.

Notifikasi BMKG sempat menyebar luas di aplikasi dan media sosial, lalu langsung menjadi perhatian publik. Di waktu yang sama, sejumlah topik seperti Gempa, Sulawesi Utara, Tsunami, dan Filipina ikut ramai dibicarakan di X.

Peringatan Dini Sempat Meluas ke 22 Wilayah

BMKG awalnya mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk 22 wilayah melalui aplikasi dan media sosial. Dalam unggahan akun resmi @infoBMKG, lembaga itu menyampaikan informasi gempa dengan lokasi episenter di 5.69 LU dan 125.05 BT serta kedalaman 105 kilometer.

Grafis yang dibagikan BMKG menandai sebagian besar wilayah dengan warna kuning. Sebagian wilayah lain diberi warna oranye, yang menunjukkan prakiraan gelombang lebih tinggi dibanding wilayah kuning.

Warna kuning berarti potensi tsunami setinggi 0-0,5 meter. Sementara warna oranye mengacu pada prakiraan gelombang 0,5-3 meter.

Gelombang Kecil Terpantau di Indonesia Timur

Berdasarkan keterangan di aplikasi BMKG, tsunami yang terpantau di Sulawesi Utara, pesisir utara Gorontalo, dan Maluku Utara masuk kategori tsunami kecil. BMKG juga menyebut tinggi gelombang yang tercatat tidak mencapai lebih dari 1 meter.

Pantauan notifikasi resmi hingga pukul 10.00 WIB menunjukkan tsunami terdeteksi mulai pukul 06:58 WIB sampai 08:20 WIB. Gelombang tertinggi tercatat di Talengan, Sulawesi Utara, dengan ketinggian 0,75 meter.

Sembilan wilayah yang terdampak tercatat sebagai berikut. Bitung mencatat 0,29 meter pada 07:51 WIB, sementara Loloda-Halmahera Barat mencapai 0,09 meter pada 07:20 WIB.

Melonguane-Kepulauan Talaud tercatat 0,32 meter pada 07:27 WIB, Paleleh 0,45 meter pada 07:34 WIB, dan Tahuna 0,30 meter pada 06:58 WIB. Talengan-Sulut menjadi yang tertinggi dengan 0,75 meter pada 08:20 WIB.

Data BMKG juga mencatat Tanjungsidupa 0,32 meter pada 07:39 WIB, Ternate 0,14 meter pada 07:51 WIB, serta Ulusiau-Sitaro 0,18 meter pada 07:27 WIB. Catatan ini memperlihatkan bahwa gelombang yang terpantau memang kecil, meski tersebar di beberapa titik wilayah timur Indonesia.

Gempa Filipina Dinilai Sensitif Memicu Tsunami

BMKG menjelaskan gempa besar di Filipina itu terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyebut gempa tersebut termasuk gempa dangkal berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya.

Wijayanto mengatakan gempa itu merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng. Penjelasan ini sejalan dengan karakter sumber gempa yang memang dapat memindahkan energi besar ke laut sekitar pusat gempa.

Pandangan serupa disampaikan Daryono, Anggota Pusat Studi Gempa Nasional sekaligus Wakil Ketua IABI. Ia menjelaskan bahwa mekanisme sumber gempa di Filipina bersifat thrusting atau patahan naik, yang memang sensitif membangkitkan tsunami.

Daryono menyebut gempa tersebut dipicu aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina. Menurut dia, mekanisme sumber seperti ini memang sensitif membangkitkan tsunami karena pergerakan patahan naik dapat mengganggu kolom air di sekitarnya.

Status Peringatan Akhirnya Dicabut

BMKG sempat mengeluarkan empat gelombang peringatan dini tsunami lewat aplikasi, sehingga situasi ramai dibahas warganet. Namun bersamaan dengan notifikasi terbaru, BMKG menyatakan peringatan dini tsunami telah berakhir.

Keputusan itu meredakan kekhawatiran publik setelah gelombang kecil terpantau di sejumlah titik di Indonesia timur. Meski demikian, kejadian ini menjadi pengingat bahwa gempa besar di wilayah Filipina dapat berdampak langsung hingga ke perairan Indonesia.

Source: www.suara.com
Terbaru