Trump Kembali Ancam Iran Lalu Mundur, Pola Lama yang Bikin Pasar Gelisah

Author: Cung Media

Donald Trump kembali mengulang pola yang membuat situasi Iran sulit dibaca: mengancam serangan, lalu menariknya dalam waktu singkat. Pada 11 Juni 2026, ancaman serangan yang sempat mengemuka dibatalkan pada hari yang sama setelah muncul klaim adanya kemajuan dalam negosiasi tingkat tinggi antara Washington dan Teheran.

Perubahan sikap itu bukan sekadar drama politik. Setiap sinyal dari Gedung Putih langsung memengaruhi pasar global, terutama harga minyak dan sentimen investor yang masih waspada terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan.

Diplomasi yang rapuh, eskalasi yang cepat

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump berkali-kali menyebut kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran sudah dekat. Namun, pejabat Iran tetap menegaskan negosiasi belum selesai dan tidak ada tanda bahwa perbedaan utama sudah dituntaskan.

Di sisi lain, Trump juga berulang kali memberi peringatan bahwa serangan AS akan segera terjadi. Setelah itu, ia menunda atau membatalkan langkah tersebut dan sering mengaitkannya dengan kemajuan diplomatik.

Perdebatan inti masih berkisar pada isu yang sama, mulai dari pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan sanksi, hingga pembatasan program nuklir Iran. Selama tiga poin itu belum menemukan titik temu, ruang untuk eskalasi tetap terbuka.

Pasar membaca setiap perubahan nada

Investor tampak sangat sensitif terhadap perubahan sinyal dari Washington. Saat ancaman mereda, pasar cenderung menguat karena risiko perang langsung dianggap menurun, meski hanya sementara.

Pada 11 Juni 2026, S&P 500 naik sekitar 1,8 persen setelah Trump membatalkan serangan. Di saat yang sama, Brent turun sekitar 4,8 persen karena kekhawatiran gangguan pasokan minyak ikut mereda.

Pola serupa juga muncul pada 23–24 Mei 2026. Ketika Trump menyebut kesepakatan akan segera diumumkan, S&P 500 naik sekitar 0,6 persen dan Brent turun sekitar 1,9 persen.

Rangkaian momen yang membentuk pola

Jejak ancaman lalu mundur ini terlihat sejak fase awal perselisihan. Pada 15 Mei 2025, Trump mengatakan, “Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan,” yang memberi kesan aksi militer masih bisa dihindari.

Respons pasar saat itu cukup kuat, dengan S&P 500 naik sekitar 5,3 persen selama periode tersebut. Iran, bagaimanapun, tetap berhati-hati dan tidak menunjukkan tanda bahwa mereka menerima persyaratan AS.

Beberapa hari kemudian, pada 28–29 Mei 2025, Trump kembali mengatakan solusi sudah sangat dekat. S&P 500 naik sekitar 1,9 persen pada minggu berikutnya, sementara Brent melemah sekitar 2,8 persen.

Pada pertengahan Mei 2026, nada yang sama terdengar lagi ketika Trump menyebut ada peluang sangat baik untuk mencapai kesepakatan dan mengatakan negosiasi tinggal selangkah lagi. Ia juga menuding Iran mundur dari proses itu.

Batas waktu yang berubah di menit terakhir

Salah satu episode paling tajam terjadi pada 7 April 2026. Saat itu, Trump memberi batas waktu agar Iran membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan besar terhadap infrastruktur.

Namun, hanya beberapa jam sebelum tenggat, serangan yang direncanakan selama dua minggu ditangguhkan. Pasar energi langsung bereaksi, dengan Brent turun sekitar 13,3 persen, sementara S&P 500 relatif datar dan naik sekitar 0,1 persen.

Iran saat itu menolak tuntutan AS untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pejabat Iran menegaskan perlunya jaminan yang lebih luas sebelum ada kesepakatan yang dapat diterima.

Jejak lama dari masa jabatan pertama

Pola serupa juga pernah terlihat pada masa jabatan pertama Trump. Pada Juni 2019, ia memerintahkan serangan balasan setelah Iran menembak jatuh pesawat tak berawak AS.

Serangan itu kemudian dibatalkan hanya beberapa menit sebelum peluncuran setelah Trump menerima pengarahan tentang potensi korban. Saat itu ia mengatakan AS siap membalas, tetapi menarik serangan karena khawatir korban jiwa tidak akan proporsional.

Harga minyak sempat naik karena ketegangan, lalu mereda setelah keputusan pembatalan diambil. Bagi pasar dan sekutu AS, pola ini kembali menegaskan betapa cepatnya situasi bisa berubah dari ancaman militer ke jalur diplomasi.

Dampak yang terus berputar

Kondisi tersebut membuat sekutu AS, pasar energi global, dan negara-negara yang bergantung pada Selat Hormuz tetap berada dalam posisi rentan. Setiap ancaman baru bisa mengerek risiko perang yang lebih luas, sementara setiap pembatalan memunculkan pertanyaan soal kredibilitas strategi Washington.

Di sisi lain, pembatalan serangan terbaru juga menunjukkan diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Selama isu sanksi, program nuklir, dan akses di Selat Hormuz belum selesai, ketegangan dapat kembali melonjak hanya dalam hitungan jam.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru