Trump Ancam Hancurkan Gunung Pickaxe, Target Nuklir Iran yang Ternyata Masih Bertahan

Ancaman Donald Trump untuk menghancurkan Gunung Pickaxe membuka babak baru dalam ketegangan nuklir Amerika Serikat dan Iran. Target yang disebut berada di kawasan Natanz itu justru memunculkan pertanyaan besar, karena fasilitas tersebut dikabarkan masih bertahan meski serangan udara sebelumnya sudah menghantam Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Kontras antara ancaman terbaru dan klaim bahwa program nuklir Iran sudah dilumpuhkan membuat isu ini kembali menjadi perhatian. Di satu sisi, Washington menyatakan tekanan terus berjalan, tetapi di sisi lain muncul dugaan bahwa masih ada fasilitas penting yang belum tersentuh.

Gunung bawah tanah yang sulit dijangkau

Gunung Pickaxe digambarkan sebagai benteng pertahanan yang sangat kokoh dengan dua jaringan terowongan raksasa di dalamnya. Para ahli geologi dan militer memperkirakan fasilitas rahasia itu berada sekitar 600 meter di bawah lapisan batu granit padat.

Kedalaman tersebut membuat lokasi itu disebut kebal terhadap bom penghancur bunker atau bunker-buster tercanggih milik Pentagon. Karena itu, Gunung Pickaxe dianggap sebagai salah satu aset paling terlindungi yang dimiliki Teheran.

LokasiFakta UtamaStatus dalam Laporan
FordowDihantam serangan udaraTermasuk target operasi tahun lalu
NatanzKompleks nuklir yang sebelumnya rusakGunung Pickaxe berada dekat area ini
IsfahanDihantam serangan udaraTermasuk target operasi tahun lalu
Gunung PickaxeTidak tersentuh serangan tahun laluDiduga menjadi pusat pengayaan uranium

Saat jet tempur Amerika Serikat membombardir tiga wilayah utama Iran tahun lalu, Gunung Pickaxe justru tidak terkena serangan. Fakta itu membuat fasilitas tersebut menonjol dalam peta pertahanan nuklir Iran dan menimbulkan tanda tanya soal seberapa jauh kemampuan serangan sebelumnya.

Klaim kemenangan mutlak ikut dipertanyakan

Target baru ini juga memicu kebingungan karena Trump sebelumnya sempat menyatakan seluruh infrastruktur pengayaan uranium Teheran telah rata dengan tanah. Pada 25 Juni 2025, ia bahkan mengatakan gambar satelit menunjukkan kerusakan monumental di semua situs nuklir Iran.

“Kerusakan monumental terjadi di semua situs nuklir di Iran, seperti yang ditunjukkan oleh gambar satelit,” kata Trump pada 25 Juni 2025. “Pemusnahan adalah istilah yang akurat!”

Munculnya Gunung Pickaxe sebagai sasaran baru membuat narasi kemenangan mutlak itu tidak lagi terlihat sederhana. Publik pun menyoroti kemungkinan adanya miskalkulasi intelijen atau strategi propaganda yang tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi di lapangan.

The Pentagon menyatakan terus memantau pergerakan di situs tersebut meski belum melihat aktivitas mencurigakan. Di saat yang sama, Trump tetap bersikeras bahwa tekanan Washington membuat Iran frustrasi dan enggan membahas program mereka.

“Kita akan menghancurkan Gunung Pickaxe. Katakan pada orang-orang Iran untuk bersiap-siap,” ujar Trump pada hari Senin.

Ia juga menegaskan, “Kami mengawasi (Gunung Pickaxe) dengan ketat. Kami tidak melihat adanya aktivitas di sana. Situasi nuklir mereka tidak berjalan baik. Setiap kali kami mendengarnya, kami meledakkannya. Jadi mereka tidak suka membicarakannya.”

Perhatian kini bergeser ke respons Iran

Ancaman penghancuran terbaru ini datang setelah konflik bersenjata antara kedua negara sempat memuncak ketika militer Amerika Serikat menggempur Fordow, Natanz, dan Isfahan. Operasi itu sebelumnya digambarkan sebagai langkah besar untuk melumpuhkan instalasi nuklir Iran.

Meski operasi tersebut diklaim sukses, keberadaan Gunung Pickaxe menunjukkan program nuklir Teheran belum sepenuhnya berhenti. Kini, sorotan global mengarah ke langkah balasan Iran setelah target tersembunyi itu kembali masuk radar serangan Washington.

Situasi ini membuat Gunung Pickaxe bukan hanya simbol benteng bawah tanah yang sulit dijangkau, tetapi juga ukuran baru bagi akurasi klaim Washington atas kemampuan mereka menghantam infrastruktur nuklir Iran. Selama belum ada kepastian soal kondisi di dalam situs itu, ketegangan antara kedua pihak tampaknya masih akan terus berlanjut.

Source: www.suara.com
Terkait