Trump Akui Suka Inflasi, Bitcoin Kian Tertekan Menjelang Rapat The Fed

Author: Cung Media

Inflasi Amerika Serikat kembali naik ke level yang membuat pasar waspada, sementara Bitcoin ikut terseret dalam ekspektasi kebijakan moneter yang makin ketat. Di saat Donald Trump justru mengatakan dirinya “menyukai” inflasi, para trader mulai melihat peluang pengetatan suku bunga sebagai skenario yang makin sulit diabaikan.

Data terbaru menunjukkan Consumer Price Index naik 4,2% dibanding setahun sebelumnya. Angka itu muncul hanya sepekan sebelum rapat kebijakan Federal Reserve di bawah Ketua baru Kevin Warsh, ketika pasar mulai bergeser dari harapan pemangkasan ke kemungkinan kenaikan suku bunga.

Lonjakan energi ikut mendorong inflasi

Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan inflasi naik 0,5% pada Mei setelah kenaikan 0,6% pada April. Pendorong utama datang dari energi, yang naik 3,9% setelah sebelumnya naik 3,8%.

Harga bensin rata-rata kini berada di $4,15 per galon menurut AAA. Level itu jauh lebih tinggi dibanding rata-rata $2,98 saat AS dan Israel pertama kali menyerang Iran pada 28 Februari.

Trump menanggapi data tersebut dengan pernyataan yang tak biasa. Saat ditanya soal angka terbaru, ia berkata, “The numbers were great…I love the inflation.”

Ia juga mengakui adanya upaya tersembunyi untuk mengalirkan jutaan barel minyak melalui Selat Hormuz. Trump memperkirakan harga minyak akan “come down like a rock” setelah perang berakhir, dan sebelumnya menegaskan bahwa menghalangi Iran memperoleh senjata nuklir adalah satu-satunya hal yang ia pertimbangkan.

Bitcoin tertekan saat peluang kenaikan suku bunga menguat

Inflasi yang bertahan membuat seruan Trump untuk biaya pinjaman yang lebih rendah semakin sulit terdengar. Data CME FedWatch menunjukkan peluang 98,4% bahwa Federal Reserve mempertahankan suku bunga di 3,5%–3,75% pada pekan depan.

Pasar juga menilai peluang kenaikan suku bunga lebih dari 70% pada akhir 2026. Pergeseran ini penting bagi Bitcoin karena suku bunga yang lebih tinggi biasanya memperkuat dolar dan imbal hasil Treasury, sehingga modal cenderung menjauh dari aset tanpa imbal hasil.

BTC saat ini diperdagangkan di sekitar $62.000, turun hampir 24% dalam 30 hari terakhir menurut BeInCrypto Markets. Token itu juga masih berada sekitar 51% di bawah rekor tertingginya yang berada di atas $126.000.

Kenaikan 1% dalam sehari belum cukup membalikkan tren yang lebih luas. Di saat yang sama, Warsh mewarisi The Fed yang menghadapi percepatan harga dan melemahnya pendapatan riil, sehingga sinyal pengetatan pada rapat pekan depan berpotensi menambah tekanan makro terhadap Bitcoin sepanjang musim panas.

Terbaru