Toyota Prius kembali menyita perhatian setelah model itu tidak lagi muncul di daftar kendaraan pada website resmi Toyota-Astra Motor. Situasi ini langsung memunculkan pertanyaan soal keberlanjutan penjualannya di Indonesia, terutama karena Prius sempat dikenalkan sebagai salah satu wajah awal elektrifikasi Toyota di ajang GIIAS 2024.
Kondisi tersebut juga terasa janggal karena Prius generasi kelima belum sempat masuk ke fase penjualan PHEV secara resmi. Meski begitu, pihak Toyota-Astra Motor menegaskan bahwa model ini belum benar-benar ditinggalkan, melainkan masih berada dalam tahap penjualan terbatas dan evaluasi pasar.
Masih dijual, tapi volume kecil
Marketing Director PT Toyota-Astra Motor, Bansar Maduma, mengatakan bahwa Prius masih dipasarkan dalam jumlah terbatas. Ia menekankan bahwa penjualannya tidak dilakukan secara masif karena permintaan di Indonesia belum tinggi.
“Prius memang kalau dilihat kami masih menjualnya dalam jumlah terbatas, jadi tidak dalam jumlah masif,” kata Bansar saat ditemui media di Senayan, Jakarta, Sabtu, 16 Mei. Ia menambahkan bahwa perusahaan masih perlu meninjau apakah penjualan model tersebut bisa terus dilanjutkan di Indonesia.
Bansar juga menyebut status Prius saat ini masih dalam review untuk penjualan selanjutnya. Pernyataan itu menguatkan sinyal bahwa posisi Prius di Indonesia belum masuk jalur distribusi yang mapan.
Harga dan posisi Prius saat tampil di GIIAS 2024
Saat pertama kali dibawa ke GIIAS 2024, Prius dipasarkan dengan harga Rp698 juta untuk versi HEV. Sementara itu, tipe PHEV belum diumumkan penjualannya pada momen tersebut.
Kehadiran Prius saat itu memperlihatkan upaya Toyota menjaga citra model ini sebagai pionir elektrifikasi. Namun, sambutan pasar tampaknya belum cukup kuat untuk mendorong penjualan dalam volume besar.
Spesifikasi yang dibawa ke pasar Indonesia
Di atas kertas, Prius versi Indonesia memakai mesin hybrid 2ZR-FXE yang juga digunakan pada Corolla Cross HEV. Mesin itu dipasangkan dengan Toyota Hybrid System terbaru untuk menghadirkan akselerasi yang responsif dan efisiensi bahan bakar yang baik.
Toyota juga membangun sedan ini di atas platform TNGA-C generasi kedua. Struktur itu membuat titik berat mobil lebih rendah, yang berdampak pada handling dan kualitas berkendara.
Secara produk, Prius tetap memiliki modal teknis yang kuat sebagai mobil hybrid. Namun, modal itu belum otomatis berbanding lurus dengan permintaan pasar di Indonesia.
Arah penjualan masih menunggu keputusan
Tidak munculnya Prius di website resmi TAM membuat arah distribusinya ke depan kembali jadi tanda tanya. Hingga saat ini, Toyota-Astra Motor masih menempatkan model tersebut dalam kategori penjualan terbatas sambil terus membaca pasar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama Prius di Indonesia bukan pada teknologi, melainkan pada penerimaan konsumen. Selama minat pasar belum cukup besar, nasib Prius di kanal resmi TAM tampaknya masih akan bergantung pada hasil evaluasi lanjutan.
Source: www.bincangbincangmobil.com






