Budidaya tomat monokultur tidak selalu bergantung pada harga jual tinggi untuk memberi laba. Kuncinya justru ada pada kemampuan petani menekan biaya produksi sambil menjaga hasil panen tetap tinggi.
Di tengah harga yang kerap naik turun, pola seperti ini membuat tomat tetap menarik sebagai komoditas utama. Sejumlah petani memilih menanamnya secara monokultur karena peluang pasarnya masih menjanjikan meski modal awal tergolong besar.
Biaya besar, tetapi peluang laba masih terbuka
Juhara, petani sayuran asal Pangalengan, Bandung, menjadi salah satu contoh petani yang rutin menanam tomat dengan sistem monokultur. Ia menyebut biaya produksi untuk 1 hektar bisa mencapai Rp 100,8 juta, tetapi hasil panennya dapat menembus 40 ton per hektar.
Dengan harga jual normal Rp 3.000 per kilogram, pendapatan kotor dari 1 hektar lahan bisa mencapai Rp 120 juta. Dari hitungan itu, keuntungan yang diperkirakan Juhara berada di kisaran Rp 19 juta per musim per hektar.
Trik efisiensi yang dipakai di lapangan
Juhara tidak hanya mengandalkan produktivitas tinggi, tetapi juga strategi tanam ulang di lahan yang sama sebanyak dua kali setelah panen pertama dan lahan dibongkar. Pola ini membantu menekan sejumlah kebutuhan produksi yang biasanya menyedot biaya cukup besar.
Penghematan itu disebut berasal dari saprodi seperti mulsa, ajir, tali, semat, peralatan, serta biaya tenaga kerja untuk olah tanah hingga pemeliharaan. Dari perhitungan yang ia lakukan, total efisiensi bisa mencapai Rp 32 juta.
Efisiensi jadi penentu saat harga normal
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Tommy Nugraha menilai prospek agribisnis hortikultura tetap menjanjikan, tetapi petani perlu kegigihan dan strategi yang tepat. Ia menegaskan, keuntungan tidak harus menunggu harga tinggi jika pola budidaya mampu menghasilkan output sebesar-besarnya dengan input seminimal mungkin.
Menurut Tommy, efisiensi biaya produksi perlu terus dikembangkan agar petani tetap punya ruang laba saat harga jual berada di tingkat normal. Cara ini juga dinilai penting agar produk sayuran yang dihasilkan makin berdaya saing dari sisi kualitas maupun harga.
Pada praktiknya, tomat monokultur memang menuntut modal besar dan pengelolaan yang rapi. Namun, kombinasi produktivitas tinggi, efisiensi biaya, dan strategi tanam yang tepat membuat usaha ini tetap punya peluang untung yang menarik bagi petani.
