ITER memasuki tahap yang sangat krusial ketika magnet toroidal berbobot 330 ton berhasil didinginkan sampai 4 Kelvin, atau minus 269 derajat Celsius. Pendinginan selama 12 hari itu membuka jalan bagi uji arus tinggi di fasilitas Magnet Cold Test Facility yang baru diaktifkan.
Momen ini menandai bahwa komponen magnet utama mulai diuji sebelum dipasang permanen ke reaktor utama. Dalam kunjungan situs yang juga dihadiri Management Advisory Committee ITER Council, capaian tersebut diposisikan sebagai tonggak operasional penting bagi proyek fusi terbesar di dunia.
Magnet raksasa mulai diuji di kondisi mendekati operasi nyata
Rangkaian pengujian disusun untuk memverifikasi kinerja magnet dalam kondisi yang sedekat mungkin dengan operasi sebenarnya. Setiap coil akan diuji selama empat hingga enam bulan, dengan arus penuh mencapai 68 kiloampere untuk unit toroidal field dan 48 kiloampere untuk unit poloidal field.
ITER menjelaskan bahwa sistem magnetnya terdiri dari 18 coil toroidal berbentuk D, enam coil poloidal berbentuk cincin, dan enam modul independen pada central solenoid. Seluruh sistem itu menyimpan energi magnet gabungan sebesar 51 gigajoule untuk memulai, menahan, membentuk, dan mengendalikan plasma.
Magnet tersebut dibuat dari paduan niobium-timah atau Nb3Sn dan niobium-titanium atau Nb-Ti. Material ini harus direndam dalam helium cair agar hambatan listriknya hilang dan fungsinya berubah menjadi superkonduktor.
Pendinginan ekstrem jadi syarat utama
Sistem superkonduktor dianggap sangat penting untuk fusi skala industri karena mampu menghasilkan medan magnet besar dengan konsumsi listrik jauh lebih kecil dibandingkan magnet berbasis tembaga. Namun, kondisi itu hanya bisa dipertahankan jika suhu, arus, dan gaya magnet tetap berada dalam batas fisik yang ketat.
Jika batas tersebut terlampaui, material bisa mengalami quench dan kembali menjadi konduktor biasa yang melepaskan panas mendadak. Karena itu, salah satu tujuan utama uji dingin ini adalah memastikan sensor keselamatan otomatis mampu mendeteksi perubahan termal secara instan.
Pengujian juga dipakai untuk melihat bagaimana magnet bertahan terhadap tekanan mekanis dan listrik. Meski tidak bisa meniru lingkungan pasti dari reaksi fusi aktif, fasilitas ini tetap dapat menilai isolasi, memantau perilaku material, dan memeriksa integritas sambungan superkonduktor internal.
Sistem pendukung ikut diuji sebelum integrasi penuh
Pengoperasian bangku uji bersama jaringan pabrik yang sudah ada memberi data awal tentang interaksi sistem kontrol pusat, pasokan daya, vakum, dan pendingin. Pendekatan paralel ini membantu menemukan kerentanan lebih awal sebelum commissioning penuh dilakukan.
Komponen sebesar ini menuntut logistik yang rumit, termasuk ruang kriostat sepanjang 20 meter, sambungan listrik berdaya besar, dan jalur langsung ke cryoplant helium utama fasilitas. ITER membangun area pengujian itu di dalam assembly hall yang sebelumnya dipakai Fusion for Energy untuk membentuk coil luar berukuran besar.
Pemanfaatan struktur yang sudah ada memberi keuntungan teknis sekaligus mengurangi risiko proyek. Direktur Jenderal ITER, Pietro Barabaschi, menilai penggunaan jejak bangunan tersebut membantu menekan risiko sebelum integrasi sistem utama dimulai.
Dampaknya melampaui proyek ITER
Barabaschi juga menekankan bahwa fasilitas ini tidak hanya penting bagi ITER, tetapi juga bisa memberi manfaat bagi pasar fusi komersial. Setelah ITER menyelesaikan pengujian pada coil Nb3Sn pertama dan pengiriman berikutnya dari para produsen, perusahaan fusi swasta akan mendapat akses ke area pengujian itu.
Dengan begitu, fasilitas yang awalnya dibangun untuk kebutuhan proyek internasional ini juga berpotensi menjadi sumber pengalaman operasional dan pengetahuan teknis bagi pengembang lain. ITER menempatkan infrastruktur tersebut sebagai contoh bagaimana proyek besar dapat memperkuat ekosistem fusi yang lebih luas melalui data, fasilitas, dan pengalaman kerja nyata.







