Tikus Kaki Putih Kecil Dan Pemalu, Tapi Diam-Diam Bawa Risiko Hantavirus

Tikus kaki putih sering tampak tidak berbahaya karena tubuhnya kecil dan geraknya pemalu. Namun, hewan pengerat ini menyimpan risiko yang lebih besar dari penampilannya karena dapat menyebarkan hantavirus ke manusia.

Keberadaannya juga kerap luput dari perhatian karena tikus kaki putih suka bersembunyi di sela sempit, bawah tanah, atau area dekat manusia. Situasi itu membuat populasinya baru disadari ketika jumlahnya berkembang dan mulai memunculkan risiko kesehatan di sekitar permukiman.

Ciri fisik yang mudah dikenali

Ukuran tikus kaki putih relatif kecil, dengan panjang maksimal mencapai 20 sentimeter dan bobot sekitar 16–29 gram. Sesuai namanya, perut dan kakinya berwarna putih, sedangkan kepala, badan, dan ekornya berwarna cokelat.

Perpaduan warna itu membantu tikus kaki putih berkamuflase di semak-semak dan area berkayu. Matanya juga khas karena berwarna hitam, cukup besar, dan sering tampak menonjol.

Hidup singkat, berkembang cepat

Umur maksimal tikus kaki putih bisa mencapai 96 bulan atau 8 tahun. Meski begitu, rata-rata harapan hidupnya jauh lebih pendek, yaitu 45,5 bulan pada betina dan 47,5 bulan pada jantan.

Pada populasi yang hidup di wilayah utara, harapan hidupnya bahkan hanya sekitar 12–24 bulan. Di sisi lain, spesies ini tumbuh cepat karena sudah mencapai kematangan seksual saat berusia 44–73 hari.

Dekat dengan manusia, tapi tetap menghindar

Tikus kaki putih dikenal pemalu dan cenderung langsung kabur saat bertemu manusia. Walau begitu, hewan ini tetap hidup di sekitar permukiman dan tidak benar-benar jauh dari aktivitas manusia.

Makanannya tergolong omnivor dengan biji-bijian dan serangga sebagai menu utama. Salah satu makanan favoritnya adalah kepompong ngengat gypsy atau Lymantria dispar, spesies invasif yang memperlihatkan perannya dalam rantai makanan di habitat alami maupun area yang sudah berubah oleh aktivitas manusia.

Risiko penyakit yang paling perlu diwaspadai

Ancaman terbesar dari tikus kaki putih adalah kemampuannya menyebarkan hantavirus. Virus ini berbahaya dan dapat menular ke manusia, dengan tingkat kematian yang diperkirakan sekitar 35 hingga 45 persen jika masuk ke tubuh manusia.

Selain hantavirus, tikus ini juga terbukti dapat menyebarkan penyakit lyme dan bakteri Borrelia burgdorferi. Spesies ini juga menjadi inang favorit bagi lalat parasit Cuterebra fontinella, sehingga perannya dalam ekologi penyakit tergolong besar.

Mampu beradaptasi di kota besar

Di Kota New York, populasi tikus kaki putih yang terisolasi ditemukan di Central Park dan Prospect Park. Lingkungan yang padat manusia, permukiman, dan gedung tinggi membuat populasi itu tidak mudah berpindah ke area lain.

Kondisi tersebut memicu evolusi divergen, yakni perubahan yang menghasilkan adaptasi khusus pada populasi setempat. Salah satu bentuknya terlihat dari pilihan makanan yang lebih beragam, termasuk sisa-sisa makanan manusia, serta gigi yang lebih tajam dan kuat dibanding populasi lain.

Source: www.idntimes.com
Terkait