Tebas Desak Infantino Mundur, FIFA Dinilai Mengorbankan Liga Demi Turnamen

Author: Cung Media

Presiden LaLiga Javier Tebas mendesak Gianni Infantino meninggalkan jabatan Presiden FIFA. Ia menilai arah kebijakan badan sepak bola dunia itu semakin mengancam liga domestik yang selama ini menopang industri sepak bola sepanjang musim.

Bagi Tebas, masalah utamanya bukan sekadar besarnya Piala Dunia, melainkan ruang yang terus diperluas untuk agenda internasional. Ia khawatir kompetisi nasional, klub, serta pekerjaan yang bergantung pada ekosistem liga justru harus menanggung dampaknya.

Liga Dinilai Menjadi Fondasi Sepak Bola

Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport yang dikutip Medcom.id, Tebas menegaskan bahwa industri sepak bola tidak hanya hidup saat Piala Dunia berlangsung. Ia memandang liga domestik sebagai penggerak aktivitas klub dan pencipta puluhan ribu lapangan kerja.

“Meningkatkan jumlah tim nasional tidak masuk akal. Industri sepak bola bukan hanya Piala Dunia,” ujar Tebas.

Menurut Tebas, status Piala Dunia sebagai turnamen paling penting tidak boleh menggeser peran kompetisi nasional. Ia memperingatkan bahwa agenda yang terlalu berat ke level internasional dapat mengorbankan fondasi olahraga itu sendiri.

“Kompetisi nasional adalah penopang olahraga ini. Mereka sedang menghancurkan industri sepak bola yang menghasilkan puluhan ribu pekerjaan demi sebuah turnamen yang hanya berlangsung sekitar 40 hari dan hanya melibatkan sebagian kecil pemain,” katanya.

Tiga Kebijakan FIFA yang Dikritik Tebas

Kritik Tebas juga menyentuh sejumlah wacana dan aturan pertandingan yang dinilai memperlihatkan kuatnya orientasi komersial FIFA. Ia menyoroti rencana perluasan peserta, jeda hidrasi, hingga durasi jeda babak pertama pada final Piala Dunia 2026.

Isu Rincian Penilaian Tebas
Piala Dunia 2030 Wacana 64 peserta Menambah tekanan pada kalender sepak bola
Cooling break Piala Dunia 2026 Jeda hidrasi di tengah laga Diduga membuka ruang untuk iklan
Final Piala Dunia 2026 Jeda babak pertama 27 menit Lebih menonjolkan pertunjukan paruh waktu

Wacana Piala Dunia 2030 dengan 64 peserta menjadi salah satu poin yang paling ditentang. Usulan perluasan turnamen itu sebelumnya diajukan secara resmi oleh konfederasi sepak bola Amerika Selatan, CONMEBOL.

Tebas menilai penambahan jumlah tim nasional tidak sejalan dengan kebutuhan kalender pertandingan yang sudah padat. Ia melihat keputusan seperti itu berpotensi memperbesar beban bagi kompetisi klub dan pemain.

Ia juga mempertanyakan penerapan cooling break pada Piala Dunia 2026. LaLiga memang mengenal jeda hidrasi, tetapi Tebas menyebut penerapannya hanya dilakukan ketika cuaca benar-benar sangat panas.

“FIFA mengatur semuanya sesuai keinginannya sendiri, bukan demi sepak bola. Cooling break itu hanya alasan,” kata Tebas. Ia menyinggung bahwa sejumlah stadion Piala Dunia telah dilengkapi pendingin udara, sehingga jeda tersebut dinilainya lebih dekat dengan kepentingan iklan daripada kebutuhan teknis laga.

Perpanjangan jeda babak pertama menjadi 27 menit pada final Piala Dunia 2026 turut menjadi sasaran kritik. Menurut Tebas, kebijakan itu memperkuat kesan bahwa unsur hiburan dan komersial mendapat porsi lebih besar dalam turnamen.

Dorongan Reformasi dari Suporter Eropa

Desakan perubahan tidak hanya datang dari LaLiga. Football Supporters Europe atau FSE, organisasi yang mewakili kelompok suporter di Eropa, juga menilai Piala Dunia 2026 terlalu mengutamakan hiburan dan komersialisasi dibanding pengalaman pendukung sepak bola.

FSE meminta reformasi tata kelola FIFA agar keputusan penting kembali melibatkan liga, klub, pemain, dan suporter. Organisasi itu turut menyoroti harga tiket tinggi, biaya transportasi mahal, komunikasi yang minim transparansi, serta kebijakan yang dinilai merusak identitas sepak bola.

Meski menyerukan pengunduran diri, Tebas mengakui posisi Infantino sulit digoyang karena mendapat dukungan dari sistem dan federasi anggota. “Dalam pandangan saya, ya, waktunya sudah habis. Namun dia mendapat dukungan dari sistem dan federasi, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan,” ujarnya.

Infantino telah menyatakan akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA untuk periode 2027-2031. Pemilihan dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret 2027 di Maroko.

Source: www.medcom.id
Terbaru