Target E20 pada 2028 Terbentur Pasokan, Tebu hingga Singkong Jadi Penentu

Target pencampuran etanol 20 persen ke bensin atau E20 pada 2028 menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada membangun pabrik. Pemerintah harus memastikan bahan baku bioetanol tersedia terus-menerus ketika kebutuhan bahan bakar campuran meningkat.

Pembangunan fasilitas produksi disebut dapat diselesaikan sekitar 1,5 tahun, tetapi rantai pasok dari kebun hingga pabrik membutuhkan kesiapan lebih panjang. Ketersediaan tebu, singkong mukibat, dan jagung akan menentukan apakah program E20 dapat berjalan sesuai rencana.

Pasokan Menjadi Titik Kritis E20

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memilih tiga komoditas awal untuk menopang produksi bioetanol. Ketiganya dipandang memiliki peluang pasokan dan dapat memanfaatkan hasil samping atau bagian tanaman yang tidak diarahkan untuk kebutuhan konsumsi utama.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menekankan perbedaan antara membangun fasilitas dan menyiapkan bahan baku. “Membangun pabrik itu 1,5 tahun bisa, tetapi bahan bakunya,” kata Eniya.

Penegasan itu membuat pengembangan kebun dan pengelolaan hasil pertanian menjadi bagian penting dari agenda bioetanol. Produksi tidak boleh tersendat saat mandat pencampuran etanol mulai diterapkan.

Tiga Sumber Bahan Baku yang Disiapkan

Tebu akan dimanfaatkan melalui molases atau tetes tebu, yaitu hasil samping dari proses produksi gula. Pemerintah melihat peningkatan produksi gula dapat sekaligus menambah potensi bahan baku untuk bioetanol.

Singkong mukibat dipilih karena varietas ini kurang diminati untuk konsumsi langsung. Varietas tersebut dikenal berukuran besar, lebih pahit, serta memiliki kandungan pati yang cukup tinggi.

Sementara itu, pemanfaatan jagung direncanakan berasal dari bonggolnya, bukan biji jagung untuk konsumsi. Langkah ini diarahkan untuk menambah bahan baku tanpa mengandalkan bagian pangan yang utama.

Bahan BakuBagian atau SumberPotensi Pemanfaatan
TebuMolases atau tetes tebuHasil samping produksi gula untuk bioetanol
Singkong mukibatVarietas singkong berukuran besarKurang diminati untuk konsumsi langsung dan berpati tinggi
JagungBonggol jagungMemanfaatkan bagian tanaman untuk tambahan pasokan

Eniya menilai kenaikan produksi gula dan jagung dapat membuka ruang pasokan baru bagi industri bioetanol. “Semakin banyak kita produksi gula maka semakin banyak kita dapatkan bioetanol,” ujarnya dalam pernyataan di Jakarta.

Aturan dan Fasilitas Blending Ikut Disiapkan

Pemerintah juga tengah merevisi Peraturan Presiden Nomor 40 yang mengatur swasembada gula dan penyediaan bioetanol. Revisi tersebut dirancang untuk mengakomodasi tambahan kapasitas fasilitas pencampuran atau blending bioetanol.

Fasilitas blending diperlukan agar bioetanol dapat dicampurkan ke bensin dalam kapasitas yang memadai. Perencanaan yang ada dinilai masih terbatas, sehingga Kementerian ESDM akan berkomunikasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terkait prakarsa revisi aturan itu.

Persoalan lain yang belum selesai adalah formula harga bioetanol berbahan baku jagung dan singkong. Formula harga yang tersedia saat ini baru berlaku untuk bioetanol dari molases tebu.

Kementerian ESDM menargetkan penyusunan formula harga bagi bahan baku jagung dan singkong dapat diselesaikan dalam enam bulan. Kepastian pengaturan harga dibutuhkan agar pengembangan bahan baku baru berjalan seiring dengan kebutuhan menuju E20.

Dengan demikian, target 2028 tidak hanya bergantung pada jumlah pabrik yang dapat dibangun. Kemampuan menjaga pasokan pertanian, menambah fasilitas pencampuran, dan menuntaskan formula harga akan menjadi fondasi utama program bioetanol.

Source: money.kompas.com
Terkait