Sydney Swans kembali merasakan pola yang membuat frustrasi, yaitu memulai laga dengan kuat lalu kehilangan kendali setelah turun minum. Dean Cox menilai masalah terbesar timnya bukan pada kemampuan bersaing, melainkan pada konsistensi saat menghadapi lawan elite.
Kekalahan 38 poin dari Fremantle memperlihatkan kontras itu dengan jelas. Swans sempat menahan Dockers tanpa gol pada dua kuarter pertama, tetapi kemudian kebobolan 100 poin berbanding 40 setelah jeda dan kalah 15.10 (100) to 6.4 (40).
Start bagus, lalu runtuh di paruh kedua
Fremantle masuk buku sejarah kecil mereka sendiri karena hanya untuk ketiga kalinya dalam 32 tahun sejarah VFL/AFL klub itu mereka gagal mencetak gol pada dua kuarter pertama. Namun, situasi berubah total setelah halftime ketika Fremantle membalikkan permainan dan mengambil alih sepenuhnya.
Cox mengakui timnya kalah telak pada paruh kedua dan menyebut lawan tampil lebih kelas. Ia menilai penurunan intensitas menjadi momen paling penting yang membuat Swans tidak mampu menahan gelombang serangan tuan rumah.
Masalah yang sudah berulang
Kekhawatiran yang sama sebelumnya juga muncul saat Sydney kalah dari Brisbane. Cox melihat timnya punya kapasitas untuk bersaing dengan tim terbaik, tetapi belum cukup stabil untuk mempertahankan level permainan itu sepanjang laga.
“That’s what we’ve got to fix – the consistency between that,” kata Cox.
“At the minute, we sit second on the ladder, but some of the football we’re playing at times, we need to be better at. That’s the biggest part of footy we need to get right.”
Menurut Cox, persoalannya bukan keraguan pemain, melainkan detail kerja yang harus dibenahi agar performa tidak turun di momen krusial. Bagi Sydney, tantangannya kini adalah menjaga standar sejak awal sampai akhir ketika menghadapi lawan yang memberi tekanan tinggi.
Angka yang menjelaskan dominasi Fremantle
Statistik pertandingan memperlihatkan mengapa Fremantle bisa berbalik begitu tajam. Sydney kalah dalam contested possession 147-121, sementara efektivitas tackle Fremantle melonjak menjadi 81 persen dan 89 persen pada dua kuarter terakhir.
| Aspek | Sydney | Fremantle |
|---|---|---|
| Skor paruh kedua | 40 | 100 |
| Contested possession | 121 | 147 |
| Efektivitas tackle kuarter 3-4 | 50% | 81% dan 89% |
Masalah lain datang dari penyelesaian akhir Sydney pada awal laga. Mereka menutup kuarter pertama dengan 3.6, sedangkan Fremantle hanya 0.5, sehingga keunggulan awal tidak cukup besar untuk memberi rasa aman.
Cox menilai kedua tim sama-sama menyisakan peluang di babak pertama, tetapi Fremantle lebih efektif saat kesempatan itu berubah menjadi poin. Di babak kedua, perbedaan itu melebar menjadi jurang yang sulit dikejar.
Evaluasi taktik dan peran tagger
Sebelum pertandingan, Cox sudah menyebut timnya perlu memakai tagger. James Jordon kemudian mendapat tugas menjaga Caleb Serong dan Andrew Brayshaw, sementara Murphy Reid dibiarkan relatif bebas dan menutup laga dengan 12 score involvements untuk Dockers.
“One thing you look at is that he plays forward-mid a lot, and the ability between him and Shai Bolton to do that. At times, they got off the chain doing that, so we need to be better in that space,” kata Cox.
Ia juga menjelaskan bahwa keputusan menempelkan Jordon ke Brayshaw diambil karena pengaruh Brayshaw dalam transisi permainan Fremantle. Staf pelatih disebut akan meninjau ulang pilihan itu dan mempertimbangkan apakah pendekatan yang sama masih paling tepat untuk laga berikutnya.
Meski hasilnya pahit, Cox tetap melihat satu sisi positif dari James Jordon, yakni kemampuan beradaptasi di tengah pertandingan. Namun sorotan utama tetap sama: Sydney harus menemukan cara agar start bagus tidak lagi berubah menjadi penurunan tajam saat melawan tim besar.
