Surplus neraca perdagangan Indonesia terus bertahan dan kini sudah mencapai 70 bulan berturut-turut hingga Februari 2026. Ketahanan ini menjadi sinyal kuat bahwa ekspor nasional masih mampu menjaga posisi positif di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.
Yang paling menonjol, penopang utama surplus bukan lagi sekadar komoditas mentah, tetapi semakin banyak datang dari besi, baja, dan produk turunan nikel. Di saat yang sama, kinerja nonmigas tetap jauh lebih dominan dibanding migas, sehingga struktur perdagangan Indonesia terlihat semakin kokoh.
Hilirisasi ikut mengangkat ekspor
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai surplus yang panjang ini menunjukkan peningkatan ekspor yang bersifat struktural. Ia melihat dorongan itu tidak hanya dipicu faktor jangka pendek, tetapi juga oleh perubahan basis produksi dan perdagangan di dalam negeri.
Faisal menyebut kebijakan hilirisasi pemerintah ikut mengangkat ekspor besi, baja, dan produk turunan nikel. Namun, ia menilai sebagian besar produk tersebut masih berada pada tahap pengolahan awal, sehingga nilai tambah yang dihasilkan belum maksimal.
Nonmigas masih jadi tulang punggung
Badan Pusat Statistik mencatat surplus kumulatif Januari-Februari 2026 mencapai US$ 2,23 miliar. Angka itu ditopang surplus nonmigas sebesar US$ 5,42 miliar, sementara sektor migas masih mencatat defisit US$ 3,19 miliar.
Komposisi tersebut menegaskan bahwa penggerak utama perdagangan Indonesia masih berasal dari luar sektor migas. Kondisi ini juga menunjukkan ruang yang masih besar bagi ekspor nonmigas untuk terus menopang neraca perdagangan nasional.
Komoditas utama penyumbang surplus
Dalam periode Januari-Februari 2026, beberapa komoditas mencatat kontribusi terbesar terhadap surplus. Lemak dan minyak hewan atau nabati menjadi penyumbang tertinggi dengan nilai US$ 6,49 miliar.
Di bawahnya ada bahan bakar mineral sebesar US$ 4,01 miliar, besi dan baja sebesar US$ 2,70 miliar, nikel dan barang daripadanya sebesar US$ 1,97 miliar, serta alas kaki sebesar US$ 0,99 miliar. Susunan ini menunjukkan bahwa surplus Indonesia ditopang oleh kombinasi komoditas berbasis sumber daya alam dan produk olahan.
Pasar ekspor masih menyebar
Tiga negara yang tercatat sebagai penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia adalah Amerika Serikat, India, dan Filipina. Sebaran pasar ini memperlihatkan bahwa ekspor Indonesia masih memiliki basis permintaan yang cukup luas.
Faisal menilai potensi ekspor Indonesia akan lebih besar bila hilirisasi diperdalam ke tahap dengan nilai tambah lebih tinggi. Dengan begitu, kontribusi komoditas olahan terhadap nilai ekspor nasional bisa meningkat lebih jauh.
Prospek masih positif
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan surplus perdagangan akan terus berlanjut dan berpotensi melebar pada periode Maret 2026. Ia memperkirakan surplus bisa mencapai sekitar US$ 2,77 miliar.
Menurut Josua, proyeksi itu didorong perbaikan permintaan dari mitra dagang. Sejumlah negara disebut mempercepat pembelian dan menambah persediaan untuk mengantisipasi kenaikan harga serta gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Dengan surplus yang bertahan hampir enam tahun, perhatian kini tertuju pada kemampuan ekspor berbasis hilirisasi untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar. Struktur ekspor yang makin kuat memberi ruang bagi Indonesia menjaga momentum positif, meski tekanan global masih belum hilang.







