Suku Bunga Tinggi Menekan Bank, Modal dan Likuiditas Jadi Pembeda Terkuat

Author: Cung Media

Suku bunga tinggi membuat bank tak lagi cukup mengandalkan pertumbuhan cepat. Di tengah biaya dana yang naik dan kredit yang berpotensi melambat, likuiditas, modal, dan pencadangan yang hati-hati menjadi penentu daya tahan.

Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga acuan BI rate menjadi 5,5%. Kondisi ini berisiko mendorong biaya pendanaan naik, menekan penyaluran kredit, dan meningkatkan tekanan pada kualitas aset jika ekonomi melemah.

Modal kuat memberi bantalan saat risiko meningkat

Analis Panin Sekuritas, Sarkia Adelia, menilai fundamental dan kualitas manajemen risiko menjadi faktor utama yang membedakan ketahanan bank. Menurut dia, bank dengan permodalan kuat, likuiditas memadai, dan pencadangan yang prudent cenderung lebih siap menghadapi dinamika pasar.

Sarkia juga menyoroti bank-bank berukuran kecil yang kemungkinan mendapat perhatian lebih besar dari investor. Dalam situasi seperti ini, pasar cenderung lebih selektif menilai ketahanan modal, pencadangan, dan likuiditas sebelum mengambil keputusan.

Modal yang tebal memberi ruang bagi bank untuk menyerap tekanan ketika risiko kredit naik. Bantalan itu juga membantu menjaga stabilitas operasional dan kualitas aset di tengah ketidakpastian global.

Pencadangan dan likuiditas ikut diawasi

Selain modal, pencadangan menjadi indikator penting saat suku bunga berada di level tinggi. Pencadangan yang memadai membuat bank lebih siap menghadapi potensi penurunan kualitas kredit tanpa mengganggu stabilitas keuangan.

Likuiditas yang sehat juga memegang peran sentral karena bank harus menjaga keseimbangan antara dana yang dihimpun dan kredit yang disalurkan. Saat preferensi nasabah berubah dan biaya pendanaan bergerak naik, kecukupan likuiditas membantu operasional tetap lancar.

Dalam kondisi persaingan dana yang makin ketat, likuiditas yang kuat ikut menjaga kepercayaan pasar. Faktor ini menjadi semakin penting ketika tekanan pada sisi pendanaan terus meningkat.

BWS dinilai punya fundamental solid

Di antara bank kelompok KBMI II, Bank Woori Saudara atau BWS dinilai memiliki fundamental yang solid. Penilaian itu tercermin dari sejumlah indikator keuangan yang menunjukkan ketahanan bank di tengah periode suku bunga yang relatif tinggi.

Dari sisi permodalan, BWS membukukan Capital Adequacy Ratio atau CAR sebesar 33,4% per Maret 2026. Rasio ini jauh di atas ketentuan minimum regulator dan memberi ruang bagi bank untuk mengelola risiko sekaligus mendukung pertumbuhan usaha.

BWS juga memperkuat pencadangan risiko secara bertahap. Per Maret 2026, rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atau CKPN mencapai 2,08% dari aset produktif, sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko untuk menjaga kesehatan portofolio kredit.

Likuiditas menjadi penopang operasional

Dari sisi likuiditas, BWS mencatat Liquidity Coverage Ratio atau LCR sebesar 205,35%. Angka tersebut menunjukkan kemampuan perseroan memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek sekaligus menjaga kelancaran operasional di tengah fluktuasi pasar.

Kombinasi modal yang tebal, pencadangan yang memadai, dan likuiditas yang kuat membuat bank lebih siap menghadapi tekanan dari suku bunga tinggi. Di saat pasar menuntut kualitas fundamental yang lebih baik, tiga indikator itu menjadi pembeda penting bagi keberlanjutan bisnis perbankan.

Source: finansial.bisnis.com
Terbaru