Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB dengan outlook stabil memberi sinyal penting bagi pasar. Di tengah tekanan global yang masih berlanjut, penilaian itu memperlihatkan bahwa fondasi ekonomi nasional dan sistem keuangan Indonesia masih terjaga.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, atau Kiki, menyambut hasil tersebut sebagai penguat kepercayaan terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Ia menilai capaian itu sekaligus menjadi dorongan bagi OJK untuk terus memperkuat sektor jasa keuangan dan melanjutkan reformasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Permintaan Domestik Masih Jadi Penopang Utama
Dalam penilaiannya, S&P melihat fundamental ekonomi Indonesia masih ditopang oleh permintaan domestik yang kuat. Lembaga pemeringkat itu juga menyoroti kebijakan fiskal yang prudent serta kerangka kebijakan yang kredibel dan fleksibel sebagai faktor yang menjaga stabilitas makroekonomi.
Di saat banyak negara masih menghadapi tekanan eksternal dan perubahan arah kebijakan global, hasil ini menjadi sinyal bahwa daya tahan ekonomi Indonesia tetap mendapat pengakuan. Bagi OJK, kondisi tersebut memberi ruang untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pembiayaan yang lebih produktif.
OJK Fokus Pada Pengawasan Dan Transformasi Digital
Kiki menyebut OJK akan terus menjalankan penguatan sektor jasa keuangan melalui pengawasan terintegrasi berbasis risiko, pendalaman pasar keuangan, serta peningkatan integritas dan tata kelola pasar. OJK juga mempercepat transformasi digital sesuai amanat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau UU P2SK.
Arah kebijakan itu ditujukan untuk memperluas kapasitas sektor keuangan dalam memobilisasi pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha dan pembangunan nasional. OJK menilai penguatan ini penting untuk mendukung agenda strategis Indonesia, termasuk peningkatan investasi, transformasi ekonomi, dan daya saing nasional.
Stabilitas Sistem Keuangan Dinilai Tetap Terjaga
Menurut Kiki, sektor jasa keuangan nasional masih berada dalam kondisi stabil. Penopangnya berasal dari permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, profil risiko yang terjaga, serta intermediasi yang terus berkembang.
Seluruh faktor itu dinilai membantu menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus menopang pembiayaan perekonomian. Dalam konteks ini, OJK tetap menempatkan sinergi dengan pemerintah, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS sebagai bagian penting dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan.
Koordinasi KSSK Jadi Penjaga Kepercayaan
Melalui KSSK, koordinasi antarlembaga akan terus diperkuat agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. Sinergi itu juga diharapkan memberi ruang yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah perubahan kondisi global.
| Fokus Penilaian | Temuan S&P | Respons OJK |
|---|---|---|
| Rating kredit | BBB, outlook stabil | Disambut positif sebagai sinyal kepercayaan |
| Faktor ekonomi | Permintaan domestik kuat, fiskal prudent, kebijakan kredibel dan fleksibel | Menjadi dorongan untuk memperkuat sektor jasa keuangan |
| Stabilitas sistem keuangan | Masih terjaga | Diperkuat lewat pengawasan, digitalisasi, dan sinergi KSSK |
Dengan modal tersebut, OJK menilai ruang pembiayaan jangka panjang masih terbuka untuk mendukung dunia usaha dan pembangunan nasional. Fokus berikutnya adalah memastikan pengawasan, tata kelola, dan reformasi sektor keuangan berjalan seiring dengan kebutuhan ekonomi Indonesia.
