Solar B50 Diam-Diam Sudah Mengalir di SPBU, Harga Tetap Rp6.800 tapi Wajib Barcode

Solar B50 ternyata sudah mulai mengalir ke sejumlah SPBU di Pulau Jawa sebelum peluncuran resminya dilakukan. Harga jualnya belum berubah, tetap Rp6.800 per liter, tetapi pembeli masih wajib memakai barcode seperti biosolar subsidi sebelumnya.

Yang membuat kabar ini menarik, perubahan dari B40 ke B50 rupanya belum disertai penanda khusus di dispenser. Artinya, konsumen bisa saja belum langsung sadar bahwa solar yang dibeli sudah memakai campuran biodiesel 50 persen.

Distribusi sudah jalan, transisi masih berlangsung

Pertamina menyatakan infrastruktur mereka siap menyalurkan biodiesel 50 atau B50 ke seluruh negeri, terutama di Pulau Jawa. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan pemerintah memberi masa transisi selama tiga bulan untuk perpindahan distribusi dari B40 ke B50.

Masa transisi itu merujuk pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 tentang kewajiban pencampuran biodiesel dengan solar sebesar 50 persen. Dalam aturan tersebut, badan usaha yang masih menyimpan stok B40 tetap boleh menyalurkannya sampai 30 September 2026 sesuai standar dan spesifikasi yang ditetapkan.

LokasiStatus PenjualanHargaCatatan
Rest area kelas A di Majalengka, Jawa BaratSudah dipasarkan sejak 1 Juli 2026Rp6.800 per literPembelian tetap memakai barcode
SPBU di Kota Mojokerto, Jawa TimurSudah mulai dipasarkanRp6.800 per literPasokan disebut sudah berspesifikasi B50

Sudah muncul di beberapa titik di Jawa

Jejak penyaluran B50 sudah ditemukan di lebih dari satu titik sebelum peluncuran resmi. Salah satunya berada di rest area di ruas Tol Trans Jawa, sementara titik lain disebut muncul di Kota Mojokerto, Jawa Timur.

Sumber di salah satu rest area kelas A di wilayah Majalengka menyebut solar B50 sudah dijual sejak 1 Juli 2026. Di lokasi itu, mekanisme pembelian masih sama, yakni menggunakan barcode untuk transaksi biosolar subsidi.

Hal serupa juga terlihat dari unggahan akun Instagram sholahudinwijaya99 pada 1 Juli 2026. Dalam unggahan tersebut, sebuah SPBU di Kota Mojokerto disebut sudah memasarkan solar B50, dan pihak SPBU yang dikonfirmasi content creator spesialis wilayah Mojokerto Raya mengakui pasokan dari Pertamina sudah berspesifikasi B50.

Tidak ada tanda khusus di dispenser

Di lapangan, salah satu detail yang paling mencolok justru absennya penanda visual pada pompa pengisian. Sumber di rest area Majalengka menyebut tidak ada emblem atau tanda khusus yang menjelaskan bahwa biosolar yang dijual sudah berjenis B50.

Kondisi itu membuat identifikasi produk lebih banyak bergantung pada informasi dari petugas SPBU atau keterangan internal lokasi. Bagi konsumen, barcode tetap menjadi pembeda utama dalam transaksi, bukan label baru pada dispenser.

Respons produsen kendaraan diesel

Masuknya B50 juga ikut dipantau pabrikan kendaraan diesel yang masih beroperasi di Indonesia. Hyundai Motor Indonesia mengatakan terus mengikuti perkembangan regulasi dan kebijakan pemerintah terkait bahan bakar, sementara seluruh kendaraannya disebut telah dirancang sesuai standar yang berlaku.

Head of Brand Interactive PT Hyundai Motor Indonesia, Rouli Sijabat, menjelaskan Hyundai merekomendasikan penggunaan bahan bakar yang sesuai spesifikasi dalam buku panduan kendaraan. Hyundai juga menyebut terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan kesiapan produk dan layanan purna jual.

Model diesel Hyundai yang masih dipasarkan saat ini adalah Palisade dan Staria. Sementara itu, model diesel lain yang masih banyak beroperasi mencakup Santa Fe 2.2 CRDi, H-1, dan Tucson.

Toyota Indonesia juga menyatakan mendukung inisiatif pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil melalui biofuel, termasuk B50. Head of Public Relations & Motorsport PT Toyota-Astra Motor, Philardi Ogi, menyebut pengujian bahan bakar baru itu melibatkan model diesel Toyota dan hasilnya disebut positif.

Toyota tetap menganjurkan pengguna memakai bahan bakar sesuai rekomendasi dalam buku manual kendaraan. Perawatan berkala juga ditekankan agar kondisi mobil tetap prima saat spesifikasi bahan bakar mulai berubah di SPBU.

Di sisi lain, Toyota menyebut seluruh kendaraan yang dijual saat ini sudah kompatibel dengan bahan bakar campuran etanol hingga 10 persen atau E10 tanpa penyesuaian kendaraan. Namun perhatian utama pasar masih tertuju pada B50 yang sudah mulai hadir di SPBU, dengan skema pembelian subsidi yang tidak berubah: tetap memakai barcode dan harga Rp6.800 per liter.

Source: otodriver.com
Terkait