Kembalinya operasional sejumlah SPBU swasta membawa perhatian baru yang lebih sensitif dari sekadar stok BBM. Di tengah tangki yang sempat lama kosong, muncul pertanyaan soal mutu bahan bakar, terutama risiko kondensasi yang bisa memicu kerak atau karat di dalam sistem penyimpanan.
Di lapangan, kekhawatiran itu ikut mengiringi kembalinya layanan di SPBU milik PT Shell Indonesia. Untuk sementara, pasokan yang terlihat belum penuh, tetapi operasional sudah berjalan lagi dan aspek quality control menjadi sorotan utama.
BBM Mulai Tersedia Lagi, Tapi Belum Lengkap
Di sejumlah SPBU Shell wilayah Tangerang Raya, produk yang saat ini tersedia adalah Shell V-Power Diesel. Kondisi ini menunjukkan bahwa distribusi mulai pulih, meski belum semua lini produk kembali dijual.
Situasi tersebut membuat perhatian publik bergeser ke pertanyaan yang lebih teknis. Tangki yang lama tidak terisi dinilai berpotensi mengalami penumpukan uap air, lalu memunculkan kondensasi yang dikhawatirkan memengaruhi kualitas BBM.
Bagi konsumen, isu ini penting karena BBM yang keluar dari tangki harus tetap aman dan layak pakai. Kekhawatiran muncul bukan hanya pada ketersediaan stok, tetapi juga pada mutu bahan bakar saat kembali disalurkan ke kendaraan.
Shell Jelaskan Pengawasan Mutu Tetap Jalan
Menurut petugas SPBU Shell yang berjaga di Shell 4, BSD Raya Utama, Pagedangan, Tangerang, Banten, pengawasan mutu tetap dilakukan selama masa tangki tidak terisi. Pemeriksaan juga dijalankan lagi sebelum dan sesudah tangki diisi oleh truk pembawa BBM.
Petugas itu menyebut proses quality control atau QC berlangsung seperti biasa. Pemeriksaan dilakukan rutin, termasuk saat fase vakum, agar kondisi tangki tetap dipantau sebelum BBM kembali dijual ke konsumen.
Ia juga menjelaskan bahwa tim QC melakukan pengecekan berkala pada fase-fase penting pengisian dan penyimpanan. Dengan mekanisme itu, pihak SPBU menegaskan konsumen tidak perlu khawatir terhadap kualitas BBM yang disalurkan.
Keterangan tersebut sekaligus menjawab keresahan soal kemungkinan kondensasi dalam tangki. Menurut petugas itu, kondisi yang dikhawatirkan masyarakat pengguna BBM Shell tidak terjadi karena pengawasan kualitas terus berjalan.
Risiko Kondensasi Jadi Titik Perhatian
Tangki yang lama kosong memang kerap menjadi perhatian dalam operasional BBM. Saat ruang penyimpanan tidak terisi, muncul potensi uap air yang kemudian memicu kondensasi, dan kondisi itu bisa berdampak pada kerak maupun karat.
Karena itu, proses pemeriksaan tidak berhenti hanya ketika BBM datang. Pengawasan sudah dilakukan sejak tangki masih vakum, lalu berlanjut saat pengisian dan setelah produk masuk ke dalam tangki penyimpanan.
Bagi operator SPBU, tahap ini menjadi krusial sebelum pasokan dijual kembali ke pasar. Kepercayaan konsumen tidak hanya bergantung pada ketersediaan stok, tetapi juga pada keyakinan bahwa BBM yang diterima tetap sesuai mutu.
Pasokan Masih Terbatas di Sejumlah Lokasi
Meski layanan mulai pulih, pilihan BBM di SPBU yang kembali aktif belum sepenuhnya normal. Untuk sementara, stok yang tersedia baru mencakup Shell V-Power Diesel.
Kondisi ini dikonfirmasi di sejumlah SPBU di wilayah Tangerang dan Tangerang Selatan. Konsumen yang datang ke lokasi-lokasi tersebut saat ini baru bisa memperoleh jenis diesel performa tinggi itu.
Petugas SPBU Shell yang ditemui juga menyebut stok Shell V-Power Diesel masih aman. Ia memperkirakan ketersediaan produk tersebut bisa bertahan hingga 2 sampai 3 bulan ke depan.
Informasi ini menunjukkan bahwa pemulihan layanan dilakukan bertahap. Di satu sisi, produk yang dijual masih terbatas, tetapi di sisi lain operator menekankan kesiapan tangki dan pengawasan mutu tetap menjadi prioritas sebelum pasokan disalurkan.
Bagi konsumen, perkembangan ini memberi dua gambaran sekaligus. Sejumlah SPBU swasta sudah kembali menyediakan BBM, dan Shell menyatakan tangki penyimpanan yang lama kosong tetap berada dalam pengawasan QC selama masa vakum hingga pengisian kembali dilakukan.
Source: kabaroto.com