Selat Hormuz Kembali Normal, Harga Brent Langsung Terkoreksi ke USD 80

Pasar energi langsung bereaksi ketika aktivitas perdagangan di Selat Hormuz mulai kembali normal. Jalur pelayaran vital itu kembali terbuka setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman damai sementara pada Kamis (18/6), dan harga spot minyak mentah Brent turun ke kisaran USD 80 per barel.

Pergerakan ini menunjukkan seberapa cepat sentimen pasar berubah saat risiko pasokan mereda. Sebelumnya, Brent sempat berada di kisaran USD 70 per barel sebelum konflik pecah, lalu melonjak ketika ketegangan di kawasan membuat gangguan pasokan terlihat semakin dekat.

Selat Vital yang Langsung Menenangkan Pasar

Selat Hormuz memegang peran penting dalam arus energi global, sehingga setiap perubahan pada status jalurnya segera memengaruhi ekspektasi perdagangan minyak. Saat jalur ini kembali terbuka, pelaku pasar melihat peluang distribusi minyak dan komoditas lain bergerak lebih lancar dibanding saat konflik masih membayangi.

Kesepakatan bilateral itu mewajibkan penghentian seluruh aksi militer. Dokumen tersebut juga membuka akses Selat Hormuz tanpa biaya, sementara kedua negara diberi waktu maksimal 60 hari untuk merumuskan perjanjian final.

Isi Kesepakatan Masih Dipantau

Selama masa transisi, Washington berkomitmen menarik pasukan militernya dari kawasan sekitar Iran. Di saat yang sama, blokade ekonomi juga akan dicabut sebagai bagian dari langkah awal normalisasi hubungan kedua negara.

Presiden Iran, Pezeshkian, menyebut dokumen itu sebagai “dokumen bersejarah” dan menyampaikan pesan bahwa perdamaian akan tercapai di bawah naungan rasa saling menghormati. Ia mengunggah pernyataan tersebut melalui media sosial X.

Pemerintah Iran menyebut dokumen bermaterai digital yang ditandatangani bersama Presiden AS Donald Trump itu memuat 14 poin krusial. Di antaranya adalah kompensasi kerusakan perang dan penghentian pertempuran di Lebanon.

Pasokan Masih Diawasi Ketat

Meski lalu lintas kapal tanker mulai pulih, pasar global belum sepenuhnya tenang. Pelaku pasar masih memantau kecepatan pasokan komoditas dan kelanjutan negosiasi terkait stok bahan nuklir Iran yang masih menjadi isu penting.

Karena itu, penurunan harga Brent belum dianggap sebagai akhir dari volatilitas. Selama detail perjanjian final masih dibahas, arah pasar energi tetap bergantung pada kepastian implementasi kesepakatan di Selat Hormuz.

Terkait