Foxconn dan Schneider Electric menyiapkan cetak biru baru untuk data center AI yang tidak hanya mengejar performa, tetapi juga efisiensi energi sejak tahap desain. Kolaborasi ini ditujukan agar model infrastrukturnya mudah direplikasi di berbagai wilayah saat kebutuhan komputasi AI terus melonjak.
Langkah tersebut menyoroti perubahan penting dalam pembangunan fasilitas AI. Daya, pendinginan, dan sistem digital kini diperlakukan sebagai satu kesatuan, bukan lagi elemen yang dirancang terpisah.
Gabungan manufaktur global dan keahlian energi
Foxconn membawa pengalaman besar dalam perakitan komputer canggih dan sistem AI. Schneider Electric menambahkan kompetensi di bidang kelistrikan, distribusi daya, dan pendinginan untuk data center.
Kombinasi itu diarahkan untuk membangun fasilitas AI yang lebih cepat dikembangkan, lebih tangguh, dan lebih hemat energi. Model ini juga dirancang agar kapasitasnya bisa diperbesar tanpa harus memulai desain dari nol di setiap lokasi.
Business VP Data Center Schneider Electric Indonesia, Ellya Cen, mengatakan pasokan daya andal kini menjadi penentu utama keberlangsungan operasi teknologi komputasi awan modern. Ia juga menegaskan bahwa skala komputasi yang makin besar membutuhkan sistem yang saling terhubung dengan dukungan kecerdasan energi.
“Permintaan terhadap AI terus meningkat, dan seiring dengan berkembangnya skala komputasi, energi di baliknya menjadi faktor pendukung yang sangat fundamental,” ujar Ellya, Jumat (19/6/2026).
Desain modular untuk mempercepat implementasi
Dalam kolaborasi ini, kedua perusahaan akan mengeksplorasi terobosan teknologi secara berkala. Area pengembangannya mencakup optimalisasi energi tertutup atau closed-loop energy optimisation, sistem modular siap pakai untuk kelistrikan dan pendinginan, serta kerangka desain yang terstandarisasi secara global.
Pendekatan modular diharapkan memudahkan pelaku industri membangun AI factory berperforma tinggi di banyak lokasi. Standarisasi juga ditujukan untuk mempercepat proses implementasi lintas kawasan tanpa harus mengulang rancangan yang berbeda-beda.
Kerja sama ini muncul di tengah hambatan umum yang kerap menghambat ekspansi AI skala besar, terutama keterbatasan daya dan lamanya pembangunan infrastruktur fisik. Dengan desain yang lebih terintegrasi, hambatan tersebut diharapkan bisa ditekan sejak awal.
Menjawab kebutuhan pasar AI yang terus naik
Ellya menjelaskan integrasi kelistrikan, sistem pendinginan, dan kapabilitas digital di pusat data AI dapat menjadi solusi nyata bagi industri. Menurutnya, pelaku usaha membutuhkan kepastian operasional yang matang agar investasi teknologi digital berjalan optimal di berbagai wilayah operasional.
Dari sisi Foxconn, Chairman Young Liu menilai perkembangan teknologi saat ini menuntut model baru dalam merancang dan membangun fasilitas pendukung teknologi canggih. Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor dapat membuka akses lebih luas bagi pelanggan korporasi untuk memperbesar kapasitas digital mereka.
“Dengan menggabungkan keunggulan Foxconn dalam sistem AI dan manufaktur global dengan keahlian mendalam Schneider Electric di bidang energi dan kelistrikan, kami membuka jalan bagi pelanggan untuk menerapkan kapasitas AI dalam skala besar secara lebih cepat, cerdas, dan berkelanjutan,” kata Young Liu.
Arah baru infrastruktur AI global
Infrastruktur AI yang dikembangkan lewat kerja sama ini diposisikan sebagai sistem yang efisien sejak tahap desain, bukan sekadar perangkat keras. Pendekatan itu membuat data center AI lebih siap menghadapi pertumbuhan kebutuhan komputasi di masa depan.
Schneider Electric dan Foxconn juga menargetkan alat-alat infrastruktur ini mulai diproduksi massal pada akhir tahun ini. Jika rencana itu berjalan sesuai jadwal, cetak biru yang mereka susun berpotensi menjadi acuan bagi pembangunan fasilitas AI berperforma tinggi di banyak negara.
Source: teknologi.bisnis.com






