Satelit Nusantara Lima kini memasuki fase penting yang membuka jalan bagi layanan internet cepat ke wilayah yang selama ini sulit dijangkau jaringan darat. Setelah lulus Uji Laik Operasi di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, satelit ini resmi bergerak menuju tahap operasional dan komersial.
Kepastian itu memperkuat posisi Satelit N5 sebagai infrastruktur strategis bagi konektivitas digital nasional. Dengan kapasitas 160 Gbps, satelit ini diproyeksikan menjadi salah satu tumpuan utama untuk memperluas akses internet di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal.
Lulus uji ketat sebelum melayani publik
Uji Laik Operasi dilakukan oleh Tim Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi Komdigi untuk memastikan seluruh sistem memenuhi standar teknis dan keamanan. Proses ini merujuk pada Peraturan Menteri Kominfo No. 5 Tahun 2021 yang mengatur kelayakan layanan berbasis satelit.
Pengujian itu menjadi penentu sebelum layanan dibuka ke publik. Hasilnya, Satelit N5 dinyatakan memenuhi seluruh persyaratan yang dibutuhkan untuk menjalankan layanan secara resmi.
PT Pasifik Satelit Nusantara kini mendapat ruang untuk segera mengoperasikan layanan komersial. Perusahaan juga menempatkan kelulusan ULO sebagai langkah krusial untuk menjangkau masyarakat yang masih kesulitan mendapat koneksi internet memadai.
Direktur Utama PSN, Adi Rahman Adiwoso, menyebut tahap ini penting untuk menjangkau masyarakat di wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal. Ia juga menegaskan kesiapan perusahaan mendukung program Asta Cita dalam mengurangi kesenjangan akses internet di pelosok Nusantara.
Kapasitas besar untuk kebutuhan nasional
Satelit N5 merupakan satelit jenis Very High Throughput Satellite dengan kapasitas 160 Gbps. Infrastruktur ini memakai platform Boeing 702MP dan membawa 101 spot beam Ka-band untuk menangani layanan data dalam skala besar.
Satelit ini berada di slot orbit 113° Bujur Timur dan memiliki masa operasional lebih dari 15 tahun. Dengan spesifikasi tersebut, N5 dipandang mampu memperkuat layanan internet cepat di Indonesia dalam jangka panjang.
Dirjen Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, yang meninjau langsung ULO, menilai N5 sebagai aset strategis. Ia mengaitkannya dengan target Presiden Prabowo Subianto agar rata-rata kecepatan internet Indonesia mencapai 100 Mbps pada 2029.
Edwin menilai kapasitas 160 Gbps harus segera dimanfaatkan untuk memperkuat layanan publik di daerah yang masih terbatas akses digitalnya. Menurut dia, kelulusan ULO menunjukkan infrastruktur N5 sudah siap secara teknis untuk mendukung transformasi digital nasional.
Integrasi dari orbit hingga stasiun bumi selesai
Satelit N5 kini tercatat sebagai satelit terbesar di Asia dan telah menyelesaikan integrasi dengan tujuh stasiun bumi yang tersebar dari Aceh hingga Tarakan. Integrasi ini penting untuk memastikan koneksi antara segmen luar angkasa dan jaringan darat berjalan sesuai rencana.
Sebelum sampai ke tahap itu, satelit ini melalui rangkaian panjang sejak peluncuran di Florida pada September 2025. Setelah meluncur, N5 menjalani proses Electric Orbit Raising hingga mencapai posisi orbit pada Januari 2026.
Dengan seluruh tahapan teknis tersebut rampung, Satelit Nusantara Lima siap masuk ke layanan penuh. Keberadaannya diharapkan memperluas akses internet berkecepatan tinggi untuk masyarakat, pelaku usaha, layanan publik, hingga kebutuhan keamanan nasional di seluruh Indonesia.
Source: mediaindonesia.com






