Sarwendah Menangis, Minta Ruben Berhenti Ungkit Ayah di Kisruh Rumah Rp 11 M

Sarwendah tidak kuasa menahan tangis saat nama almarhum ayahnya, Hendrik Lo, kembali disinggung dalam perselisihan dengan mantan suaminya, Ruben Onsu. Polemik ini terkait rumah yang dibangun ketika keduanya masih berstatus sebagai suami istri.

Bagi Sarwendah, pembahasan mengenai rumah senilai Rp 11 miliar itu tidak hanya menyangkut perbedaan penjelasan soal dana pembangunan. Nama sang ayah yang disebut dalam konflik tersebut menjadi bagian yang paling menyentuh baginya.

Di tengah perselisihan itu, Sarwendah menegaskan bahwa kepentingan anak-anak menjadi perhatian utamanya. Ia berharap konflik yang terjadi antara kedua orang tua tidak meninggalkan dampak buruk bagi putri-putrinya saat tumbuh besar.

46 Transfer dan Perbedaan Penjelasan Dana

Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, menyebut Ruben melakukan 46 kali transfer kepada almarhum Hendrik Lo. Dana tersebut disebut berkaitan dengan pembangunan rumah dengan total nilai mencapai Rp 11 miliar.

PihakPenjelasan soal DanaNilai yang Disebut
Pihak Ruben OnsuDisebut terdapat 46 kali transfer kepada almarhum Hendrik Lo untuk pembangunan rumah.Rp 11 miliar
Pihak SarwendahDana disebut mencakup jasa kontraktor, material, dan kebutuhan pembangunan lainnya.Rp 11 miliar

Pihak Sarwendah memberikan penjelasan berbeda mengenai angka tersebut. Kuasa hukumnya, Chris Sam Siwu, menyatakan nilai Rp 11 miliar tidak semata-mata merupakan biaya jasa kontraktor.

Menurut Chris, dana itu juga meliputi pembelian material serta berbagai kebutuhan lain dalam proses pembangunan rumah. Perbedaan ini menjadi salah satu titik yang dipersoalkan di tengah konflik yang sedang berjalan.

Chris menyampaikan tanggapan pihak Sarwendah saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Rabu (22/7/2026). Ia mempertanyakan alasan nama mendiang Hendrik Lo kembali dibawa dalam pembahasan tersebut.

Disebut sebagai Karya Terakhir Hendrik Lo

Kuasa hukum Sarwendah menilai pengalaman dan keahlian orang tua dalam bidang pembangunan tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang memalukan. Ia mempertanyakan apakah penggunaan jasa orang tua untuk membangun rumah pasangan itu bisa dianggap sebagai aib.

Chris menyebut rumah tersebut merupakan karya terakhir almarhum ayah Sarwendah. Karena itu, ia meminta pihak Ruben tidak membangun narasi perseteruan dengan menyeret nama Hendrik Lo.

“Harusnya dia bangga karena itu adalah karya terakhir almarhum ayah klien kami,” kata Chris, seperti diberitakan Beritasatu. Ia juga meminta pembahasan perkara tidak melebar ke persoalan lain di luar sengketa yang tengah diproses.

Pihak Sarwendah Minta Fokus pada Anak

Chris menegaskan bahwa perkara yang perlu menjadi perhatian adalah sengketa hak asuh anak. Ia meminta agar kesepakatan dan pembangunan rumah tidak kembali dijadikan bagian dari narasi perselisihan.

Pihak Sarwendah menilai penyebutan Rp 11 miliar sebagai jasa kontraktor dapat membentuk pemahaman yang tidak utuh. Mereka menekankan bahwa penggunaan dana tersebut, menurut penjelasan mereka, juga mencakup material dan kebutuhan pembangunan.

Sarwendah mengatakan keinginannya sebagai ibu adalah memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. “Sebagai seorang ibu yang punya anak, apalagi anaknya perempuan. Pastinya maunya yang terbaik buat anak-anak saya,” ujar Sarwendah.

Perselisihan mengenai rumah Rp 11 miliar masih menyisakan perbedaan penjelasan dari kedua pihak. Sementara itu, pihak Sarwendah kembali menekankan agar perhatian dalam sengketa hak asuh anak diarahkan pada kepentingan anak-anak.

Source: www.beritasatu.com
Terkait